Search

Home / Feature

Upaya Menyelamatkan “Tenggelamnya” Jakarta dan Pantura

Redaktur   |    06 Oktober 2021    |   18:44:01 WITA

Upaya Menyelamatkan “Tenggelamnya” Jakarta dan Pantura
(Foto: Istimewa)

Isu pemanasan global telah mengemuka di beberapa tahun terakhir. Salah satu dampak yang mengancam yaitu tenggelamnya pesisir utara Jawa, termasuk Jakarta. Laksana Tri Handoko, selaku Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa riset dapat menjadi potensi solusi untuk menyelamatkan Pantura dan Jakarta dari laju penurunan permukaan lahan.

“Periset yang ahli di bidangnya dapat terus berkontribusi aktif untuk memberikan solusi dan pencerahan terhadap masalah yang dihadapi. Jadi tidak sekedar mengungkapkan masalah, tapi kita harus bisa menjadi problem solver,” ungkapnya saat memberi sambutan pada edisi perdana tahun 2021, Prof Riset Talk BRIN bertajuk “Benarkah Jakarta dan Pantura akan Tenggelam?”, Rabu (6/10) secara daring.

Handoko menambahkan acara diskusi ini menjadi salah satu upaya BRIN untuk memperkenalkan ide-ide kepada publik, sehingga publik dapat memahami fenomena dari sisi scientific yang secara rasional dapat dipertanggungjawabkan.

Science Talk ini tidak berhenti disini, namun dapat menjadi science based policy di masa yang akan datang. Ini menjadi langkah awal membuka komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan dari sisi regulator dan masyarakat untuk dapat mendiskusikan lebih detail dan menyamakan persepsi terkait laju penurunan permukaan tanah,” ungkapnya.

Salah satu narasumber diskusi, Eddy Hermawan, Profesor Riset pada Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer – Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, mengungkapkan isu tenggelamnya Jakarta sudah mengemuka sejak tahun 2008 jauh sebelum pernyataan Joe Biden.

“Penyataan Joe Biden bahwa Indonesia harus memindahkan ibukotanya, karena akan berada di berada di bawah air tentu menjadi perhatian media massa,” ujarnya.

Dirinya mengasumsikan terdapat tiga faktor utama tenggelamnya Jakarta, yaitu meningkatnya sea level rise (SLR), menurunnya land subsidance (LS), dan adanya faktor lokal (daerah rawa/dataran rendah).

“Langkah bijak yang harus dilakukan untuk menyikapi prediksi tenggelamnya Jakarta yaitu dengan menyiapkan skenario berbasis penggabungan SLR dan LS dengan berbagai kombinasi data SLR dan LS menggunakan teknik spasial-temporal analysis,” ujar Eddy.

Tak hanya itu Eddy juga mengingatkan beberapa daerah di Indonesia juga terancam tengggelam.

“Masyakarat harus seoptimal mungkin mencegah kerusakan lingkungan serta mempertimbangkan pembuatan bitting gesik dan hutan mangrove, karena telah terbukti cukup efektif dalam meredam laju masuknya Rob ke daratan,” imbuhnya.

Selaras dengan pendapat Eddy, Robert Delinom, Profesor Riset bidang Geoteknologi – Hidrologi Air Tanah BRIN mengungkapkan penyebab amblesan tanah di Jakarta disebabkan empat faktor yaitu kompaksi batuan, pengambilan air tanah secara berlebihan, pembeban bangunan dan aktivitas tektonik.

“Solusi untuk mencegah tenggelamnya Jakarta dalam periode jangka pendek dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar memahami masalah ini. Sedangkan jangka panjang dengan melakukan integrasi secara tuntas terkait penyelesaian masalah yaitu dengan kombinasi konsep mitigasi dan adaptasi yang tidak tumpang tindih, zero run off dan no land subsidence city, serta merubah pola pikir masyarakat,” ujar Delinom.

Selain itu, Delinom juga menyarankan perlunya upaya mitigasi dengan melakukan pembangunan ‘pertahanan’ di garis pantai, pembangunan ‘pertahanan’ di sungai dan bantarannya, membuat ‘tempat parkir’ air dan mengantisipasi penyebab penurunan tanah.

Sebagai informasi acara yang dimoderatori Thomas Djamaluddin, Profesor Riset dari Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN ini dihadiri hampir 700 peserta di media zoom meeting maupun kanal YouTube BRIN. (COK/RIS/PDN)