Search

Home / Feature

Lebih Jauh Tentang Energi Hijau

Redaktur   |    14 Oktober 2021    |   20:29:49 WITA

Lebih Jauh Tentang Energi Hijau
Presiden Jokowi dan Ibu Iriana saat meninjau hutan mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali, pada Jumat, 8 Oktober 2021. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, PODIUMNEWS.com – Presiden Joko Widodo mengungkapkan ambisi besarnya. Menurut dia, Indonesia bakal membangun satu kawasan industri hijau di Kalimantan Utara. Pembangunan kawasan itu rencananya bakal dimulai November mendatang. Di kawasan ini nantinya akan menerapkan energi baru terbarukan (EBT).

Kawasan ini memiliki luas 20.000 hektar. Energinya akan diambil dari Sungai Kayan di Kalimantan Utara. "Yang memesan kawasan ini sudah banyak mengantre, karena mereka tahu ini energinya yang dipakai adalah energi hijau," kata Joko Widodo dalam pengarahan kepada peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII dan alumni Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII 2021 Lemhanas di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (13/10/2021).

Jokowi beralasan, pembangunan kawasan industri hijau ini memiliki prospek yang bagus. Sepuluh tahun ke depan, Uni Eropa hingga Amerika sudah ogah membeli produk dari barang hasil energi tidak terbarukan. Dari industri yang menggunakan bahan bakar batubara, misalnya.

"Semuanya, mengarahnya ke sana, sehingga kita harus mendahului. Ini (Green Industrial Park) nanti adalah yang pertama di dunia," ujar Jokowi.

Rencana pembangunan kawasan industri hijau ini sempat diungkapkan Jokowi saat di forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Leaders Summit on Climate April lalu. Di forum itu, ia mengatakan, Indonesia sedang mempercepat proyek percontohan net zero emission.

Lantas apa sih energi hijau itu? Energi hijau adalah energi yang berasal dari tanaman hidup (biomassa) yang terdapat di sekitar kita. Energi itu biasa disebut sebagai bahan bakar hayati atau biofuel.

Energi hijau terdiri dari panas bumi (geothermal), matahari, air, biomassa, angin dan laut.

Energi ini tidak akan pernah habis selama tersedia tanah, air, dan matahari masih memancarkan sinarnya ke muka bumi. Selama mau menanam, membudidayakan, serta mengolahnya menjadi produk bermanfaat seperti bahan bakar.

Indonesia merupakan negara yang paling kaya dengan energi hijau. Indonesia memiliki minimal 62 jenis tanaman bahan baku biofuel yang tersebar secara spesifik di seluruh pelosok Nusantara. Kelapa sawit tumbuh di wilayah basah dengan curah hujan tinggi.

Ada juga tanaman tebu yang menghendaki beda musim yang tegas antara hujan dan kemarau. Singkong mampu berproduksi baik di lingkungan sub-optimal dan toleran pada tanah dengan tingkat kesuburan rendah.

Juga ada sagu, nipah, nyamplung, bahkan limbah-limbah pertanian, seperti sekam padi, ampas tebu, tongkol jagung, dan biji-bijian sangat mudah didapatkan di Indonesia.

Dengan banyaknya pilihan-pilihan itu, mestinya Indonesia bisa berada di garda depan penggunaan energi hijau.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, pernah menyebut, Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang sangat besar dengan potensi yang mencapai 400 Gigawatt (GW). "Kami melakukan langkah-langkah strategis dalam mengatur pemanfaatan energi ini," kata dia
dalam pertemuan The 11th Clean Energy Ministerial Meeting (CEM11) and The 5th Mission Innovation (MI-5) yang digelar September 2020.

Langkah pertama adalah optimalisasi penggunaan sumber energi domestik. Pemerintah akan mendorong penggunaan energi terbarukan, misalnya dengan mengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan sumber energi bersih seperti gas dan energi terbarukan.

"PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tengah meluncurkan program konversi dari pembangkit listrik bertenaga diesel menjadi energi terbarukan dengan kapasitas 2 GW di lebih dari 2.000 lokasi di seluruh negeri," kata Arifin.

Kedua, melakukan efisiensi energi, baik di sisi suplai maupun permintaan. Efisiensi dilakukan dengan mendorong implementasi target efisiensi energi di lingkungan gedung dan industri.

Ketiga, Indonesia juga mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi nasional dari 84,3% menjadi 98,8%, khususnya untuk mendukung program elektrifikasi di daerah terluar dan terpencil.

Indonesia memang memiliki sumber energi biomassa yang sangat besar, yakni dari hutan, pertanian, dan sampah, yang sangat penting digunakan sebagai energi alternatif pengganti sumber energi fosil. Inilah masa depan Indonesia. (COK/RIS/PDN)