Search

Home / Ragam

Kepala BRIN: Pengunjung RiTech Expo 2021 Tak Terbatas

Redaktur   |    07 November 2021    |   18:36:35 WITA

Kepala BRIN: Pengunjung RiTech Expo 2021 Tak Terbatas
(Foto: Istimewa)

JAKARTA, PODIUMNEWS.com – Humas BRIN. Riset maju, Indonesia tumbuh. Ekonomi maju jika nilai tambahnya juga tinggi. “Memajukan riset, menumbuhkan perekonomian negeri bukan tugas satu institusi, melainkan membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak,” tutur Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko di studio podcast Merry Riana, (7/11).

RiTech Expo diikuti oleh berbagai partisipan dari kalangan kampus, lembaga riset pemerintah dan swasta, juga mitra dalam dan luar negeri. “Kegiatan ini diadakan virtual, ini bagus karena pesertanya menjadi tidak terbatas, termasuk diaspora,” ungkap Handoko.

Sebagai informasi, ada 10 fokus riset yang dipromosikan dalam RiTech, yaitu pangan dan pertanian, kesehatan dan obat, energi dan energi terbarukan, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, pertahanan dan keamanan, material maju, kemaritiman, penanggulangan bencana, sosial humaniora, seni, budaya, dan pendidikan. Pameran virtual ini gratis dan pengunjung bisa mengaksesnya melalui situs ritechexpo.id.

“Riset adalah solusi, walaupun belum tentu terpakai. Periset itu pintar, tapi pintar di bidangnya saja. Apalagi jika harus memikirkan tentang market dan promosi. Padahal, riset harus dekat dengan bisnis,” terangnya.

Untuk itu, BRIN turut berupaya meningkatkan nilai tambah dan local competitiveness. “Kita punya banyak keanekaragaman hayati. Tantangannya adalah membuat konten dan harus ada diferensiasi,” jelasnya.

BRIN ada untuk semua orang di negara ini dan harus jadi enabler dan fasilitator. Karena itu, menurut Handoko, perlu didukung SDM unggul termasuk diaspora dan infrastruktur periset.

“Teman-teman yang muda di BRIN saya dorong untuk menambah wawasan global. Itu penting sekali, ” tutur Handoko yang mengaku merasa paling cocok dengan ritme bekerja di Jerman, dibandingkan di Jepang dan Italia.

BRIN adalah lembaga riset pemerintah yang didesain sebagai satu-satunya lembaga yang merupakan hasil integrasi LPNK di bidang riset dan litbang. Handoko menjelaskan, tujuannya agar bisa mengumpulkan sumber daya (SDM, infrastruktur, dan anggaran) yang kuat dan unggul, karena berkompetisi global bukan lokal. “Dominasi pemerintah di riset tidak boleh dominan, cukup 20% menurut standar UNESCO,” paparnya.

SDM unggul di bidang masing-masing, menurut Handoko jumlahnya masih minim. “Kita punya banyak, tapi masih kurang banyak,” tandasnya.

“Riset dan inovasi, semua orang bisa melakukannya. Semua orang bisa punya paten. Tapi periset yang sebagai profesi itu belum banyak,” sambungnya.

Handoko mengungkapkan bahwa riset selama ini lebih banyak dilakukan oleh lembaga penelitian dan pengembangan, bukan oleh orang yang berprofesi sebagai periset. “Swasta perlu masuk menjadi periset agar ekosistem riset dan inovasi menjadi kuat. Riset itu mahal, lama, dan berisiko tinggi, dengan tingkat kegagalan bisa mencapai 80%,” urainya.

“Bahkan bisa jadi karena lama prosesnya, ketika riset selesai, hasilnya sudah tidak diperlukan lagi untuk masyarakat,” pungkasnya. (COK/RIS/PDN)