Search

Home / Budaya

FBL Aktivitas Kreatif Lestarikan Budaya Loloan

Editor   |    26 Juli 2022    |   17:37:00 WITA

FBL Aktivitas Kreatif Lestarikan Budaya Loloan
Rumah panggung salah satu budaya masyarakat Loloan yang terancam punah karena terkooptasi bangunan modern. (foto/Edy)

NEGARA, PODIUMNEWS.com - Untuk kesekiankalinya Festifal Budaya Loloan (FBL) akan digelar. Aktivitas budaya yang bertajuk "Loloan Djaman Lame" ini akan digelar  mulai tanggal 29-31 Juli 2022 yang dikaitkan dengan menyambut tahun baru Hijriah.

Menyongsong FBL yang akan menyajikan berbagai atraksi, pameran dan kuliner yang berbau tempo doeloe, ada baiknya jika kita menengok ke belakang sepintas tentang sejarah singkat loloan.

Ada banyak tulisan yang sudah mengupas tentang sejarah Loloan, baik asal muasal suku Loloan, budaya (bahasa, kesenian, identitas, peralatan, pakaian dan rumah) suku Loloan. Dalam kesempatan ini penulis mengintisarikan dari berbagai sumber, dalam upaya mendukung kegiatan FBL yang merupakan upaya kreatif dalam melestarikan budaya Loloan.

Menurut sumber Aswaja.com, Loloan adalah nama sebuah perkampungan Muslim yang terletak di Kabupaten Jembrana, Bali. Komunitas enclave ini berdiri sejak abad ke XVII bersuku Bugis-Makassar dan Melayu.

Kampung ini memiliki sejumlah relik peninggalan abad ke XVII, antara lain bahasa Melayu Loloan yang sekarang lebih dikenal Base Loloan yang masih dipakai sampai saat ini serta rumah panggung.

Berbagai sumber meyakini, kampung Loloan ada sejak abad XVII ketika Kesultanan Makasar (Gowa) ditaklukan Belanda (VOC). Belanda mengakui peperangan melawan raja Gowa ke-6 yaitu Sultan Hasanuddin, merupakan peperangan yang luar biasa yang dialami VOC khususnya peperangan di lautan. Puluhan bahkan ratusan kapal perang Belanda ditenggelamkan oleh Armada Hasanuddin.

Sultan Hasanuddin oleh Belanda, dianggap sebagai musuh yang paling berani dan pantang menyerah sepanjang sejarah peperangan VOC sehingga Belanda menjulukinya sebagai De Haantjes van Het Oosten, yang memiliki arti “Ayam Jantan Dari Timur”.

Menghindari banyaknya jatuh korban, Sultan Hasanuddin akhirnya mau menandatangani perjanjian yang disebut dengan perjanjian Bongaya. Namun, Sultan Wajo tak berkenan ikut tanda tangan sebagai koalisi Kesultanan Gowa.

Karena Wajo dianggap mbalelo oleh Belanda, maka target selanjutnya harus menginvasi dan menghancurkan benteng Tosora di kesultanan Wajo yang berlangsung selama 3 bulan lamanya.

Waktu itu para pembesar Wajo secara diam-diam terpaksa eksodus dari tanah airnya ke luar dari Wajo, dengan parahu phinisi dan lambo menuju ke beberapa daerah di wilayah tanah air di bawah kejaran armada Belanda.

Salah satu dari armada pembesar Wajo sempat sandar di pantai Air Kuning Jembrana, di bawah pimpinan pembesar Kesultanan Wajo bernama Daeng Nakhoda. Inilah cikal-bakal komunitas Kampung Muslim Loloan di Jembrana Bali.

Sementara Wikipedia menyebut, kedatangan orang Melayu di Pulau Bali tercatat pada tahun 1669 ketika beberapa  ulama dan pengikutnya tiba di Jembrana untuk menyebarkan ajaran Islam. Misi tersebut diizinkan Raja Jembrana I Gusti Arya Pancoran. Ulama tersebut adalah Dawan Sirajuddin (Sarawak), Kekaisaran Brunei, Syeikh Basir dari Yaman, Kesultanan Utsmaniyah, Mohammad Yasin dari Makassar dan Syihabbudin juga dari Makassar.

Disebutkan, tahun 1799 empat kapal dari Kesultanan Pontianak tiba di Jembrana. Rombongan tersebut dipimpin Syarif Abdullah Yahya al-Qadri dan membawa ulama dari Terengganu yakni Muhammad Ya'qub.

Oleh Raja Jembrana, rombongan tersebut diizinkan tinggal di tanah seluas 80 hektar di Loloan Barat dan Loloan Timur. Setelah mereka tinggal, lama- lama terjadi alkulturasi dengan penduduk sekitar termasuk dalam penyebaran agama Islam dengan menggunakan bahasa melayu. Sampai saat ini bahasa melayu atau Loloan masih digunakan sebagai bahasa komunikasi keseharian warga Loloan.

Selain bahasa Loloan (melayu), hal paling monumental adalah budaya rumah panggung. Hanya saja, tradisi rumah panggung saat ini sudah mulai terkooptasi dengan rumah gaya modern. Hanya di beberapa lokasi saja masih ditemukan rumah panggung.

Mengutip Balisharing (26/7-2022), era tahun 1669 Masehi rumah panggung Loloan banyak dibangun di tepian sungai Ijogading. Rumah panggung Loloan yang cukup khas ini , ditopang tiang -tiang utama dari kayu tangi. Tiang-tiang tersebut tidak halus dan kasar, yang menandakan proses pembuatannya secara manual dengan menggunakan alat yang bernama kapak miring yang sering disebut timpas.

Uniknya, rumah  panggung Loloan ini sama sekali tanpa menggunakan paku, melainkan menggunakan pasak kayu sebagai pengunci setiap sambungan.

Rumah panggung ini terdiri dari 3 bagian.

Bagian pertama disebut Kolong, yaitu bagian dasar rumah panggung (sering disebut bawah kolong, tempat menyimpan peralatan, cangkul, parang, dll).

Bagian kedua disebut geladak yaitu bagian tengah dari rumah panggung (bagian utama, terdiri dari serambi, ruang tamu, ruang tidur/bilik, dan ruang makan yang menyatu dengan dapur).

Bagian ketiga disebut Loteng/pare-pare, bagian atas rumah panggung (tempat menyimpan peralatan seperti senjata- senjata pusaka, dll).

Rumah panggung juga dilengkapi tangga. (Edy)


Baca juga: Prosesi Munggel Pelawatan Ratu Ngurah Agung Desa Adat Tembawu