Search

Home / Kesra

Demograf: Pembangunan Mesti Berwawasan Kependudukan

Editor   |    18 November 2022    |   19:43:00 WITA

Demograf: Pembangunan Mesti Berwawasan Kependudukan
Ilustrasi – kependudukan (foto/kemenkopmk)

PAKAR Demografi dan Kependudukan (Demograf) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) Dr Lutfi Agus Salim SKM MSi mengatakan bahwa jumlah penduduk dunia yang mencapai angka 8 miliar merupakan pertumbuhan yang sangat cepat. Hal ini seperti diumumkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (15/11) lalu.

Maka itu, kata Lufti, tak heran kependudukan sering kali menjadi masalah pembangunan nasional di berbagai negara. Seperti tidak meratanya fasilitas kesehatan dan proses pembangunan bidang lainnya.

Sehingga, menurut Lutfi, hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya pembangunan nasional yang berwawasan kependudukan. “Penduduk adalah titik sentral pembangunan karena pembangunan dilakukan oleh penduduk dan juga diperuntukan bagi kesejahteraan penduduk,” kata Lutfi, Jumat (18/11) di Surabaya.

Disebutkan Lutfi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembangunan berwawasan kependudukan. Pertama, pembangunan harus memihak kepada kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak.

“Pembangunan haruslah disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk, memberikan kesempatan penduduk untuk berpartisipasi dan tidak ada diskriminasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujar Lutfi.

Kedua, pentingnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi kemajuan bangsa di masa depan. Ketiga, pembangunan yang berwawasan kependudukan harus pembangunan yang berkelanjutan.

“Pembangunan yang tidak hanya dapat dinikmati saat ini tapi juga bisa dinikmati oleh anak, cucu di generasi mendatang,” terangnya.

Keempat, kebijakan pembangunan yang mengacu pada perubahan kependudukan yang ada. Kelima, kebijakan pembangunan yang bisa mengarahkan kepada tercapainya situasi kependudukan yang diharapkan.

Kondisi Kependudukan Diharapkan

Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) 2010-2035 menyebutkan bahwa ada lima aspek kondisi kependudukan yang diharapkan. Ditinjau dari segi pengendalian penduduk, diharapkan jumlah penduduk Indonesia menjadi proporsional dengan keberadaan dan kecukupan lahan serta fasilitas pelayanan yang tersedia.

“Guna mencapai hal itu pemerintah sudah menetapkan program pengendalian kualitas penduduk melalui program Penduduk Tumbuh Seimbang,” terang Lutfi.

Ditinjau dari segi peningkatan kualitas penduduk, kondisi yang diinginkan adalah penduduk Indonesia menjadi sehat, cerdas, bertaqwa, dan mempunyai daya saing dengan bangsa lain. Dari segi pembangunan, diharapkan dapat terwujud keluarga yang berkualitas melalui perwujudan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS).

Dari segi persebaran penduduk diharapkan terjadi persebaran yang merata sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungan. “Artinya kita harus dapat menata keberadaan penduduk melalui perpindahan penduduk dari Pulau Jawa, melalui pengembangan pusat pertumbuhan di luar Jawa,” jelasnya.

Melalui pembangunan database kependudukan diharapkan dapat menghasilkan data kependudukan yang akurat, riil, dan dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan secara cepat.

Antisipasi Masalah Kependudukan

Menurut Lutfi selama ini pemerintah pusat maupun daerah dalam mengatasi permasalahan kependudukan belum tuntas. “Berbagai tindakan atau upaya yang dilakukan hanya bersifat reaktif terhadap pembangunan yang terjadi, perlakuannya cenderung normatif,” ungkapnya.

Perlu adanya perencanaan dan implementasi pembangunan kependudukan dalam hal mengantisipasi, mencegah, atau mengendalikan dampak negatif yang diakibatkan oleh adanya pembangunan terhadap kependudukan. “Singkatnya memerlukan suatu Analisis Dampak Kependudukan (ADK),” kata Lutfi.

Manfaat dari ADK adalah mengantisipasi sejak dini masalah kependudukan yang akan timbul sebagai akibat terjadinya pembangunan. Selain itu juga berfungsi untuk merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah yang perlu dilakukan sehubungan dengan potensi munculnya masalah kependudukan di kemudian hari. (dev/sut)


Baca juga: NUSA DUA CIRCLE, Mega Proyek ‘Gagal’. Benarkah Perusahaan dan Orang-Orang yang Terlibat Didalamnya Juga Bermasalah? (BAG: 1)