Search

Home / Budaya

Kadis Kebudayaan Bali Buka Festival Jegog di Rambut Siwi

Ricky Satriawan   |    04 Desember 2019    |   18:55:42 WITA

Kadis Kebudayaan Bali Buka Festival Jegog di Rambut Siwi
Pembukaan festival Jegog di Anjungan Cerdas Jalan Nasional (ACJN) Rambutsiwi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Selasa (3/12). (Foto: Istimewa)

JEMBRANA, PODIUMNEWS.com - Pemkab Jembrana menggelar festival Jegog di Anjungan Cerdas Jalan Nasional (ACJN) Rambutsiwi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo. Festival selama tiga hari ( 3-5 Desember 2019), dibuka Kadis Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Adnyana. Pembukaan festival turut dihadiri Bupati Jembrana I Putu Artha, Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan , Forkopimda Jembrana serta masyarakat pelaku seni di Jembrana.

Tahun ini Pemkab Jembrana mengemas event Jegog ini agak berbeda. Selain pemilihan tempat di Anjungan Cerdas yang baru saja pengelolaan sementara diserah terimakan pemerintah pusat, juga kemasan eventnya dengan konsep festival selama tiga hari. Tidak hanya menampilkan atraksi serta kemampuan seniman Jembrana memainkan alat musik Jegog, namun juga diisi dengan pameran jegog , workshop jegog serta pamungkasnya akan ditutup dengan mebarung massal serta ngibing masal. Mengusung tema tahun ini, “ the magic sound of west bali” , panitia berusaha mengakomodir keinginan berbagai pihak akan kemasan festival Jegog yang lebih baik sesuai hasil focus grup discussion ( FGD ) yang digelar sebelumnya.

Bupati Jembrana I Putu Artha mengatakan , festival Jegog tahun ini melibatkan kurang lebih 84 sekaa jegog dengan 2500 orang seniman.

“Melalui Festival Jegog merupakan salah satu upaya kita melestarikan salah satu identitas budaya Jembrana. Kita juga ingin mengembangkan kreatifitas seniman melalui berbagai garapan komposisi , mendorong tumbuhnya ekonomi budaya sekaligus sebagai tontonan dan tuntunna bagi generasi muda untuk mencintai kesenian khas daerahnya,” ujar Bupati Artha.

Bupati Artha juga berharap festival Jegog dapat menjadi event tahunan yang menggelorakan kehidupan budaya serta kepariwisataan di Jembrana. “ Kita sampaikan terimakasih kepada provinsi yang mendukung festival tahun ini. Kita ingin memberikan hiburan kepada masyarakat sekaligus menegaskan bahwa Jembrana adalah pusatnya Jegog,” kata Artha.

Sebagai daya tarik wisata, Artha juga ingin Jegog mampu menarik wisatawan datang ke Jembrana. “ Kita rencanakan Jegog akan rutin digelar dianjungan cerdas rambut siwi. Seminggu dua kali. Jadi wiatawan yang selama ini hanya melintas saja lewat Gilimanuk , bisa singgah dan datang ke Jembrana. Sehingga mereka tahu disamping Mekepung , Jembrana juga punya kesenian Jegog, “ terang Artha.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Adnyana mengapresiasi dan menyambut psoitif pelaksanaan festival jegog tahun ini. Jegog disebutnya warisan budaya tak benda , kaya akan nilai filosofis , sosilologis serta makna sejarah . Nilai itu sangat penting bagi Bali bahkan juga nasional .Sehingga dengan terselenggaranya festival jegog jembrana tahun ini bisa mensosialisasikan keadiluhungan nilai-nilai jegog itu.

“Jadi event ini sangat bagus , semoga bisa terselenggara secara kontinyu . Yang terpenting bagaimana kita bersama sama menjaga aset bangsa ini , diantaranya melalui penyelenggaraan event . Baik itu Pesta Kesenian Bali diProvinsi maupun event skala nasional, ditingkat yang lebih tinggi, “ ujar Adnyana.

Festival hari pertama berlangsung meriah, menampilkan pementasan jegog tempo dulu dengan menampilkan tari ticak dayang yang dibawakan oleh Trah Kiyang Gliduh, sebagai pencipta jegog di kabupaten Jembrana. Penampilan kedua diisi pementasan jegog kreasi oleh jegog Suar Agung membawakan tarian makepung . Penampilan terakhir diisi dengan pementasan jegog kolaborasi yang dibawakan oleh Sanggar kumara widya suara SMPN 4 Mendoyo dengan mebawakan karya musik dan tarian jejangeran . Tarian ini menggambarkan romantisme kehidupan anak-anak berkolaborasi dengan musik diatonis yang ditata dengan lagu pop bali sebagai interpretasi anak muda dengan olah vokal yang bernuasa kekinian.

Festival hari kedua dilaksanakan FGD jegog/Workshop jegog membedah hal-hal yang masih belum terjawab berkaitan dengan kesenian Jegog.

Sejauh ini , Jegog masih minim refrensi sehingga diperlukan banyak pembahasan dan ruang diskusi untuk menyempurnakan literasi. Workshop dihari kedua festival , menghadirkan narasumber Prof. Dr Gede Arya Sugiartha, S.Skar, yang merupakan Rektor ISI Denpasar dan dari kalangan seniman . Sedangkan malam harinya masih dihari kedua pelaksanaan , digelar pementasan jegog inovativ, kontemporer dan eksperimental.

Puncaknya festival Jegog Jembrana 2019 akan ditutup pementasan jegog mebarung masal, dengan joged masal dan pengibing massal. (ISU/PDN)