Search

Home / Liputan Khusus

Ketika ASEAN Harus Memilih

Ricky Satriawan   |    04 April 2021    |   23:12:08 WITA

Ketika ASEAN Harus Memilih
Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi (kiri) bersama Menlu China Wang Yi usai mengadakan pertemuan bilateral di Fujian pada 2 April 2021. (Foto: ant/Istimewa)

Menteri Luar Negeri China Wang Yi baru saja menyambut empat koleganya dari empat negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) dalam rentang tiga hari berturut-turut, terhitung mulai 31 Maret hingga 2 April 2021.

Menlu Singapura Vivian Balakrishnan menjadi menlu pertama ASEAN yang menemui Wang Yi di wilayah tenggara daratan Tiongkok itu. Setelah itu, Wang Yi menerima kunjungan Menlu Malaysia Hishamuddin Hussein, Menlu RI Retno LP Marsudi, dan Menlu Filipina Teodoro Locsin.

ANTARA menginventarisasi beberapa topik pembicaraan penting dalam pertemuan para menlu ASEAN itu dengan Wang Yi, sosok yang sejak 19 Maret 2018 duduk sebagai anggota Dewan Negara, sebuah jabatan terpenting dalam struktur pemerintahan China.

Beberapa topik pembicaraan dalam pertemuan bilateral antara China dengan masing-masing koleganya di ASEAN itu adalah penguatan kerja sama penanganan pandemi, ketersediaan vaksin COVID-19, dan stabilitas keamanan di kawasan.

Topik mengenai krisis politik di Myanmar tentu saja tidak bisa dihindari dalam agenda pertemuan Fujian tersebut. Selain anggota ASEAN, Myanmar juga merupakan tetangga China. Realitas ini menjadi faktor yang menentukan akan terciptanya stabilitas di kawasan.

Wang Yi kepada para koleganya dari ASEAN itu menginginkan penyelesaian konflik di Myanmar dilakukan dengan mengedepankan prinsip non-intervensi. OK, ASEAN pun setuju!

Tentu saja, isu ekonomi, perdagangan, dan investasi tetap menjadi materi yang "seksi" untuk dibicarakan.

Kenapa seksi? Karena di mata negara-negara anggota ASEAN, China adalah kesempatan. China merupakan potensi yang tidak bisa dimungkiri dalam situasi ekonomi global seperti sekarang. Bagaimana ASEAN tidak tergiur melihat pasar China yang begitu menggoda.

Apalagi, Perdana Menteri China Li Keqiang dalam Sidang Tahunan Parlemen (Lianghui) di Beijing pada awal Maret lalu dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasionalnya bisa mencapai enam persen hingga akhir 2021.

Pertumbuhan ekonomi sebesar itu merupakan angka yang fantastis di tengah kondisi beberapa negara lain yang terseok-seok dalam memulihkan roda perekonomiannya.

Dalam masalah vaksin COVID-19, misalnya, China sudah jelas dan lebih banyak berbicara dibandingkan negara lain. Bahkan survei tentang bantuan COVID-19 di ASEAN yang dilakukan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) baru-baru ini menunjukkan kepiawaian China. 

Betapa tidak, dalam survei itu, 44 persen responden menyebutkan China, 19 persen Jepang, 10 persen Uni Eropa, dan hanya sembilan persen yang menyebutkan Amerika Serikat.  Hasil survei tersebut merefleksikan bahwa China adalah peluang atau kesempatan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Berbekal kepercayaan diri yang besar terhadap vaksinnya itu, China tidak ragu lagi dalam menawarkan program sertifikat kesehatan bersama kepada sejumlah negara sebagai salah satu dokumen perjalanan internasional yang fungsinya seperti paspor.

Tentu dalam menawarkan program itu, China memberikan syarat khusus, yakni hanya bagi mereka yang menggunakan vaksin buatannya.

Pertemuan Wang Yi dengan empat menlu ASEAN di Fujian itu juga menyinggung topik "paspor kesehatan bersama" tersebut, termasuk saat bertemu dengan Menlu Retno pada Jumat (2/4).

Di mana pun penduduk negara di dunia saat ini membutuhkan vaksin COVID-19 agar bisa kembali beraktivitas tanpa hambatan seperti tahun-tahun sebelum 2020.

Situasi ini tentu saja menambah tingginya tensi rivalitas antara AS dan China sebagai negara yang sama-sama memproduksi vaksin, meskipun dengan menggunakan metode yang berbeda.

Perang vaksin ini turut mewarnai babak baru COVID-19 di tengah para ilmuwan kerepotan menyingkap misteri asul-usul wabah penyakit yang menyerang sistem pernapasan itu.

Pilihan Sulit

Isu Myanmar dan vaksin pada akhirnya turut pula menandai 30 tahun kemitraan antara ASEAN dan China. Dalam perjalanan 30 tahun ini, ASEAN memandang China sebagai mitra wicaranya itu tidak saja dari sisi peluang, melainkan juga tantangan.

Selain vaksin tadi, peluang China lainnya dalam pandangan ASEAN adalah potensi ekonomi yang tak kalah besarnya.

Harus diakui, kerja sama ekonomi dengan China jauh lebih konkret. Proyek-proyek dalam kerangka kerja sama Prakarsa Sabuk Jalan (Belt and Road Initiatives/BRI) yang direalisasikan oleh China di negara-negara ASEAN salah satu contohnya.

Lalu ada Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP). Meskipun RCEP ini faktanya diinisiasi oleh ASEAN, belakangan justru lebih condong ke China.

Belum lagi sejumlah kerja sama ekonomi bilateral lainnya antara China dengan masing-masing negara ASEAN.

Itulah beberapa peluang bagi ASEAN yang datangnya dari China.

Namun di balik peluang tadi, tentu saja ada tantangan yang bisa saja nanti wujudnya berubah menjadi ancaman.

Empat negara anggota ASEAN, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan Vietnam,  terlibat sengketa wilayah Laut China Selatan yang berkepanjangan.

Kehadiran AS di Laut China Selatan yang sudah tidak bisa dihindari lagi itu semakin menyulitkan posisi negara-negara yang terlibat sengketa tersebut dalam mencari titik temu.

Kalau sudah begini, upaya menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan semakin menghadapi tantangan yang besar.  Situasi ini secara tidak langsung juga menyulitkan posisi ASEAN di antara dua negara ekonomi terbesar di dunia itu, yakni AS dan China.

Ada keharusan bagi ASEAN untuk memilih. Namun, jika harus memilih salah satu, maka bukan berarti persoalan akan tuntas juga. Bisa-bisa memilih salah satu justru mengundang ancaman dari salah satu.

Namun bukan berarti tidak ada cara lain yang lebih cerdas agar tidak sampai buah simalakama itu termakan.

"Bagaimana kami memilih, tergantung berapa banyak inisiatif yang Anda letakkan di atas meja," kata Duta Besar Keliling Pemerintah Singapura Chan Heng Chee menjawab pertanyaan wartawan China baru-baru ini.

Memaksimalkan semua peluang sangat mungkin sebagai salah satu jalan untuk menghindari ancaman, setidaknya ide itulah yang coba dituangkan oleh diplomat senior negara tetangga tersebut ketika berhadapan dengan media di China.

Memang, tampaknya ASEAN sadar bahwa dengan menjadi oportunis di antara dualisme raksasa akan lebih menguntungkan daripada sekadar menjadi penonton. Apalagi jika membiarkan kedua raksasa ekonomi dunia itu terlibat perang terbuka di halaman rumah kita tentu akan menjadi runyam.

Memilih untuk tidak memilih merupakan pilihan yang tepat bagi ASEAN.

Biar saja menurut William Shakespeare orang-orang tidak akan percaya bahwa dua matahari akan bisa menyinari satu dunia. Akan tetapi Hillary Clinton sangat percaya bahwa dunia ini cukup besar sehingga sangat mungkin untuk dibagi dalam dua kekuasaan besar. (ANT/RIS/PDN)