FSBJ Masa Pandemi Beri Arti Penting Bagi Seniman
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Di tengah pademi Covid-19, Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II Tahun 2020 adalah hal yang sangat membanggakan. Mengingat pademi ini tidak saja berdampak pada dunia pariwisata yang menyebabkan perekonomian masyarakat Bali turun drastis, juga berdampak bagi para seniman karena tidak ada kesempatan untuk manggung. Sehingga dengan acara ini, akan memberi arti penting di masa pandemi bagi para seniman yang ada di Bali.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat membukan FSBJ II dengan tema ‘Candika Jiwa, Puktika Atma Kerthi’, di Gedung Ksiarnawa, Taman Budaya Bali di Denpasar, Sabtu (31/10) petang. “Tema yang diangkat betul-betul merupakan pelaksanaan dari visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui pola pembangunan Semesta Berencana, menuju Bali era baru,” ujarnya.
Kata dia, sejak 2019 lalu, di Bali resmi memiliki dua festival seni. Yakni seni tradisi yang diwadahi dengan Pesta Kesenian Bali dan seni modern dalam wadah FSBJ. Dalam kesempatan itu, Wayan Koster juga mengungkap cikal bakal terbentuknya FSBJ. Di mana saat dirinya kampanye di tahun 2018 dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang didalamnya terdapat program prioritas tentang pemajuan kebudayaan.
“Yang saya tahu, selama 40 tahun itu adalah Pesta Kesenian Bali yang mewadahi seni tradisi,” ujarnya searaya mengatakan, saat perjalanan menuju lokasi kampanye, dirinya berbincang-bincang dengan istrinya, Putri Suastini Koster. “Ketika saya kencang berbicara untuk memperkuat penyelanggaraan Pesta Kesenian Bali, dia juga berbicara kepada saya. Bli jangan bicara hanya seni tradisi saja. Di Bali seni modern juga potensinya sangat besar yang belum mendapatkan ruang untuk berekspresi. Dan itu rupanya terbendung sejak lama, karena dia pelaku seni modern sebagai pemain drama klasik,” tuturnya.
Mendapat masukan itu, dirinya memikirkan bahwa perlu wadah seni modern dan seimbang dengan PKB. Dan ia pikir ide membentuk wadah seni modern itu sangat baik. Setelah dirinya dilantik menjadi Gubernur Bali, istrinya Kembali mengingatkannya untuk mewadahi seni modern. Di mana saat itu, dirinya belum memutuskan nama dari wadah tersebut.
“Jadi saya tidaklanjuti dengan berdiskusi dengan para seniman, budayawan untuk mewadahi ide yang muncul dari Ibu Putri Suastini Koster itu, karena memungkinkan sehingga harus disediakan wahananya. Sehingga muncul diskusi, dan munculah namanya Festival Seni Bali Jani,” katanya.
Koster kembali menegaskan perhelatan festival ini selain mendukung pelestarian kebudayaan pada masa pandemi, juga sebagai jawaban atas konsistensi pemberlakukan Perda Nomor 4 Tahun 2020.
“Perda tersebut tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali yang diundangkan 9 Juli 2020, serta sejalan dengan visi Pembangunan Provinsi Bali 2018-2023, Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru,” ujarnya sembari mengharapkan pelestarian seni budaya Bali dengan penyiapan wahana yang sesuai dapat memunculkan ide-ide kreatif dan novatif yang makin menghidupkan kebudayaan Bali di mata dunia menjadi satu peradaban yang dikagumi.
“Bali tidak memiliki sumber daya alam, jadi patut disyukuri jika memiliki seni dan budaya yang tiada duanya. Kebudayaan ini akan tetap ada sepanjang manusianya hidup dan mau memelihara serta berinovasi terhadap kebudayaan tersebut,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof Dr I Wayan 'Kun' Adnyana SSn,. Sn, mengatakan format seni virtual kali ini diharapkan dapat menjangkau seluas-luasnya kemungkinan kreatif, elaborasi, dan eksplorasi terkait estetik, stilistik, teknik artistik, dan tematik. Termasuk olah wahana atau media (penggunaan berbagai piranti media baru/digital dalam proses dan penyajian).
"Format penyelenggaraan festival secara virtual ini merupakan sebentuk transformasi sosial bagi masyarakat Bali. Ada proses alih pengetahuan dan keterampilan yang terjadi serentak di Bali. Yakni terkait proses persiapan dan produksi suatu pementasan karya seni komunal secara daring, termasuk bagaimana cara publik menikmati serta menghikmahi sajian tersebut," jelas Kun Adnyana.
Lebih jauh dijelaskannya bahwa FSBJ II mengusung tajuk utama 'Candika Jiwa: Puitika Atma Kerthi', yang bermakna semesta kreativitas terkini dalam 'mencandikan' jiwa, spirit, taksu, atau ide-ide cemerlang. Menampilkan berbagai kegiatan seni meliputi Pawimba (Lomba), Adilango (Pergelaran), Megarupa (Pameran), Timbang Rasa (Serasehan), Beranda Pustaka (Bursa Buku), dan Penghargaan Bali Jani Nugraha. Diikuti oleh 45 sanggar/yayasan/komunitas seni se-Bali dengan melibatkan sekitar 1.000 seniman dan pekerja seni.
Dalam acara pembukaan itu ditampilkan Adilango (pergelaran) Seni Kolosal bertajuk 'Malaikat Pencubit Jiwa' berupa operet sajian Sanggar Kini Berseri, berkolaborasi dengan komunitas seni SMA/SMK. (BAS/PDN)