Produk Lokal Kian Dicintai dan Berkelas
DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Membidik pasar mancanegara tak mesti bahan baku harus didatangkan dari luar negeri, hasil pertanian lokal pun bisa disulap menjadi olahan makanan berkualitas tinggi.
Itulah yang dilakukan Ida Ayu Puspa Eny, pendiri UMKM BALIBEL yang bergerak di bidang produksi makanan dan minuman, yang produk-produknya telah dijual ke kancah nasional bahkan internasional.
Wanita asal Desa Sangeh, Kabupaten Badung, Bali sejak 2008 merintis usaha makanan olahan seperti selai buah lokal, roti garlic, bacon dan daging olahan.
"Produk kami dibuat dengan metode tradisional dan hanya menggunakan bahan pertanian lokal serta bahan alami lainnya," ujar Puspa Eny saat memaparkan produknya dalam Rapat Koordinasi Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) di Kantor Gubernur Bali, Kota Denpasar belum lama ini.
Selain itu, pihaknya tidak menambahkan bahan aditif atau pengawet buatan untuk menjaga kualitas sehingga berbagai macam daging masak BALIBEL selama ini telah dipasok ke berbagai restoran, hotel berbintang, dan toko makanan.
Untuk membidik pasar kelas atas dan menyiapkan makanan berkualitas tinggi, Puspa Eny mengaku harus mengikuti standar kualitas yang sangat ketat dan berstandar internasional dalam mengolah makanan dan minumannya yang bahan-bahannya diperoleh dari para petani di Bali.
"Produk-produk kita sesuai dengan harapan para pelanggan mancanegara yang berada di Bali serta di seluruh Indonesia," ujarnya.
Saat ini BALIBEL juga sedang merintis produksi minuman beralkohol tradisional arak Bali yang berkualitas tinggi. Namun masih dalam proses perizinan, dan pemenuhan standar alkohol di bawah 20 persen.
Jika proses perizinan berjalan lancar, Puspa Eny ingin mengenalkan bahwa arak Bali dan produk minuman beralkohol lainnya tidak kalah dengan anggur-anggur kelas dunia lainnya.
"Saya juga sedang mengembangkan agar ayam betutu yang menjadi makanan khas Bali bisa diproduksi dan dikemas misalnya dalam bentuk kalengan sehingga bisa lebih awet dan cita rasanya dapat dinikmati lebih luas," ucap Puspa Eny.
Upaya mengangkat bahan-bahan lokal menjadi produk UMKM berkualitas tinggi juga dilakukan I Ketut Widiadnyana, Ketua Kelompok Tenun Putri Mas dari Kelurahan Pendem, Kabupaten Jembrana.
Widiadnyana dengan dibantu istri dan 55 anggota kelompoknya yang mayoritas ibu rumah tangga telah berhasil melambungkan kain songket dengan motif khas Kabupaten Jembrana di kancah nasional bahkan hingga diekspor.
"Kami kental mempertahankan motif songket asli Jembrana dan menggunakan warna-warna alami," ujar pria berusia 46 tahun ini sembari mengatakan digitalisasi dari aspek pemasaran dan pembayaran menjadi hal yang sangat diperhatikan.
Kelompok Tenun Putri Mas yang merupakan salah satu UMKM binaan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali juga menjadi satu dari 26 UMKM yang terpilih menampilkan "showcase" kategori produk premium dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) di Provinsi Bali.
Selain memproduksi songket berbentuk lembaran dengan harga premium, untuk bertahan di tengah kondisi pandemi COVID-19, Kelompok Tenun Putri Mas yang telah dirintis sejak 2014 itu kini memproduksi masker berbahan songket
Masker berbahan songket dipadupadankan pula dengan busana untuk kebutuhan dalam negeri, bahkan juga diekspor ke sejumlah negara seperti Hong Kong, Malaysia, Singapura hingga beberapa negara di Benua Eropa.
"Kami pun aktif mengikuti sejumlah pameran langsung maupun pameran virtual yang difasilitasi Bank Indonesia dan sejumlah kementerian," kata pria yang telah memiliki 18 HaKI untuk berbagai produk kerajinannya itu.
Di lokasi peluncuran Gernas BBI 2021 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, sendiri terdapat "showcase" 26 UMKM yang berasal dari UMKM binaan KPwBI Provinsi Bali, UMKM binaan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Buleleng, Badung, dan Gianyar, serta UMKM Debitur BCA. (ANT/DEV/PDN)