Podiumnews.com / Aktual / Ekonomi

Warga Tanjung Khawatir Dampak Pengerukan Laut

Oleh Podiumnews • 11 Februari 2019 • 19:55:31 WITA

Warga Tanjung Khawatir Dampak Pengerukan Laut
Camat Kuta Selatan Made Widiana

KUTA SELATAN, PODIUMNEWS.com - Warga Tanjung Benoa, Kutsel mengaku khawatir kemungkinan wilayah mereka tergerus Abrasi.

Hal ini terkait dilakukannya pendalaman atau pengerukan laut di utara pesisir Pantai Tanjung Benoa.

Kekhawatiran ini disampaikan salah seorang Tokoh Masyarakat Tanjung Benoa, Made Wijaya dihubungi Senin (11/02/2019).

Kekhawatiran ini katanya memgacu pada struktur daratan Tanjung Benoa adalah pasir sehingga rentan tergerus abrasi.

Kalau daratan yang bebatuan.mungkin pihaknya tidak merasa khawatir.

"Di sini kalau buat sumur 8 meter saja sudah keluar air. Jadi sangat rentan terjadi patahan," ungkapnya.

Oleh karenanya pengerukan alur laut yang dilakukan mesti mendapat antisipasi sedini mungkin dari instansi terkait di Pemkab Badung.

"Jika terus menerus dikeruk kemungkinan terjadinya patahan atau amblas," imbuhnya.

Karena itu perlu dilakukan kajian atas dampak yang mungkin ditimbulkan.

Apalagi salah satu tembok penangkal di koperasi yang dibangun Pemprop Bali sudah terlihat mulai miring.

Walaupun memang belum bisa dipastikan penyebabnya secara pasti.

Selain itu saat ini, lanjutnya di sisi timur juga sudah terjadi perubahan arus. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kegiatan wisata bahari di kawasan tersebut.

"Kami harap pihak terkait di Pemkab Badung tanggap akan kondisi ini," harapnya.

Camat Kutsel Made Widiana membenarkan adanya kekhawtiran warga tersebut.

Hal ini dikarenakan lokasi pengerukan untuk alur kapal besar ini berdekatan dengan wilayah utara Tanjung Benoa.

Terlebih dengan adanya keluar masuk kapal nantinya pengerukan akan rutin dilakukan.

Warga khawatir pengerukan yang sangat dalam ini justru membuat daratan tertarik ke dalam laut jika tidak diproteksi.

Mengacu hal inilah warga mengusulkan dalam Musrenbang agar dibangun semacam tembok penangkal di pesisir laut Tanjung Benoa.

Bahkan usulan warga ini sudah masuk dalam pembahasan di musrenbang tahun 2020.

Kekhawatiran warga ini juga dimaklumi Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan.Ruang (PUPR) Badung, Ib Surya Suamba.

Hanya saja dia menyarankan adanya solusi lain. Karena pembangunan tembok di pesisir laut Tanjung Benoa dikhawatirkan mengganggu wisata air di sana dan membuat kawasan Pantai tidak alami.

Dia menyarankan upaya salah satu langkah yang memungkinkan dilakukan dengan menormalisasi atau mengeruk kawasan Teluk Benoa yang ada di sebelahnya.

Dengan terangkatnya sedimentasi air akan mengalir ke Teluk Benoa dan tidak menghantam daratan.

Selanjutnya sedimentasi yang diangkat diletakkan di bibir pantai untuk memperkuat daratan agar tidak tergerus.

Hal ini sejalan dengan rencana pembangunan jalan lingkar barat Tanjung Benoa.

"Jadi kalau menurut saya, sebaiknya kawasan Teluk Benoa yang dinormalisasi sehingga menjadi dalam juga sehingga air akan mengalir ke sana karena sedimentasinya terangkat," sarannya. (ANA/PDN)