Program Food Forest Design untuk Kedaulatan Pangan Indonesia
BADUNG, PODIUMNEWS.com – Mother Jungle berkolaborasi dengan Yayasan Pratisara Bumi Lestari meluncurkan Program Food Forest Design secara virtual, Kamis (24/3).
Direktur dan Pendiri Mother Jungle, Sanne van Oort dalam keterangan tertulisnya yang diterima podiumnews.com, Jumat (25/3) mengungkap pademi Covid-19 mengubah cara pandang terkait keberadaan pangan.
Ia menuturkan, saat ini ada banyak permasalahan pangan yang timbul, seperti kelangkaan pangan, limbah makanan, rantai pasok pangan, kerawanan pangan, dan malnutrisi di Indonesia.
“Dengan program Food Forest Design kami berharap akan hadir solusi terhadap kedaulatan pangan dalam komunitas masyarakat di Indonesia,” kata Sanne.
Sementara itu, pendiri komunitas Lakoat.Kujawas menyebut Dicky Senda menyebut, kedaulatan pangan menjadi isu yang sangat penting bagi Indonesia. Sebagai negara tropis yang kaya akan sumber pangan, sudah seharusnya Indonesia bisa berdaulat dengan pangan lokal.
“Pangan lokal melambangkan biodiversitas dan karakter dari masing-masing wilayah di Indonesia. Sumber pangan kita sangatlah beragam mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, jagung dan pangan lainnya,” terangnya.
“Jika kita bisa menghidupkan lagi pangan berbasis komunitas ini, saya yakin kita tidak akan kesusahan untuk urusan pangan,” imbuhnya Dicky.
Melalui program Food Forest Design, komunitas mencoba untuk mengatasi permasalahan ketahanan pangan di Indonesia dengan mengajak wirausahawan, tenaga pendidik, profesional serta pakar regeneratif untuk dapat belajar lebih lanjut tentang langkah, panduan, dan praktik terbaik untuk menyempurnakan, meluncurkan bisnis regeneratif atau program pendidikan di bidang Hutan Pangan.
Sementara itu, Endud Badrudin, Ketua Yayasan Paramuda Cendekia Indonesia sekaligus alumnus program Food Forest Design di tahun 2021 menuturkan bahwa pengalamannya untuk bergabung pada FFD merupakan hal yang sangat berharga dalam membuat proyek hutan pangannya.
“Saya dapat mengimplementasikan pelajaran yang saya dapatkan dari program langsung dengan komunitas saya. Materinya sangat praktikal dan bisa diterapkan langsung pada proyek hutan pangan kita, saya sangat merekomendasikan untuk mendaftar program ini,” ungkapnya .
Secara garis besar program Food Forest Design akan dibagi kedalam 2 fase yakni fase materi pengenalan hutan pangan dan aspek-aspek penting didalamnya dan juga fase praktis, dimana peserta akan mendapatkan bimbingan dari para mentor untuk dapat mengimplementasikan proyek hutan pangannya secara langsung.
“Program akan berlangsung selama 11 minggu dari bulan april sampai dengan Juli dengan menggabungkan kurikulum hutan pangan yang terintegrasi dengan pembelajaran berbasis proyek. Kami berharap program ini akan memberikan langkah praktis bagi semua peserta dalam mewujudkan proyek hutan pangannya,” kata I Made Cahya Narayana dari tim Mother Jungle.
Dalam acara peluncuran itu menghadirkan empat pembicara, yakni Ketua Yayasan Haka, Farwiza Farhan; Dicky Senda, Pendiri komunitas Lakoat.Kujawas; Manajer Operasional Island Organics Bali, Ramadani Prasetya dan Ketua Yayasan Paramuda Cendekia Indonesia, Endud Badrudin.
Peluncuran program dengan tema “Mewujudkan Ketangguhan Pangan Indonesia Melalui Hutan Pangan Berbasis Komunitas” itu sekaligus menandai dibukanya pendaftaran program Food Forest Design.
Peserta dapat mendaftar melalui tautan https://bit.ly/DAFTARFFD2022 hingga tanggal 17 April 2022. (Devy)