Dari Kapal Pesiar, Terjun Bisnis Menyelamatkan Lingkungan
TERINPIRASI dari tempat bekerjanya terdahulu, Putu Eka Dharmawan, (33) yang sebelumnya sebagai awak kapal pesiar nekat banting setir terjun menekuni bisnis pengolahan sampah plastik yang sekaligus ikut kontribusi menyelamatkan kelestarian lingkungan.
Tak ingin hanya berpangku tangan melihat kerusakan lingkungan akibat sampah plastik makin parah di daerahnya, ia kemudian memilih memulai merintis usaha pengolahahan sampah plastik supaya justru memiliki manfaat ekonomis.
“Saya ingin membantu mengurangi volume sampah plastik yang beredar di masyarakat dan juga untuk kepentingan bisnis jangka panjang,” tutur Eka di Buleleng, Jumat (22/4).
Ia lantas mengisahkan bagaimana awal mula dirinya memilih untuk terjun dalam usaha bisnis yang bermanfaat secara ekonomi dan pelestarian lingkungan itu. Berawal saat dirinya bekerja di kapal pesiar, di sana ia melihat bagaimana sampah plastik dikelola menjadi cacahan plastik kecil dan bersih untuk kemudian dijual kembali.
“Dari sanalah, saya bertekad aka menerapkan pengolahan sampah plastik seperti di kapal pesiar setelah pulang ke Buleleng,” ujarnya.
Ia menilai Buleleng dan daerah lainnya masih terkendala akan keberadaan sampah plastik yang jumlahnya terus meningkat setiap harinya. Terlebih kesadaran masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.
Usaha pengolahan sampah plastik berlokasi di Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng itu kemudian ia beri nama Rumah Plastik Singaraja.
Eka tidak begitu saja langsung membangun bentuk fisik usahanya,n amun mengawalinya dengan membangun jaringan bisnis, mempelajari standar kualitas hingga pemasaran cacahan plastik.
Pada tahun 2016, ayah dua anak ini mulai membuat rangkaian mesin pencacah rancanganya sendiri dengan memanfaatkan pengusaha las sekitar tempat tinggalnya. Proses pengolahan sampah plastiknya tentu saja tidak akan berjalan dengan baik tanpa melibatkan peran masyarakat alias sumber sampah plastik.
Namun demikian, ia juga tidak menerima kiriman sampah perorangan. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi persaingan harga yang dapat menjatuhkan nilai jual sampah plastik di Buleleng, dan Bali pada umumnya.
“Mereka yang ingin menjual sampah plastik wajib membentuk kelompok bank sampah terlebih dahulu. Jika belum terbentuk, saya siap memberikan edukasi kepada mereka. Ini penting untuk menjaga nilai jual sampah di pasaran Buleleng dan Bali. Kenapa begitu? Karena kami menerima sampah itu dengan harga yang lebih tinggi dari kebanyakan,” terang Eka.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat, Eka memberikan kesempatan bebas kepada warga Desa Petandakan secara perorangan untuk menjual sampah plastiknya. Tidak hanya itu, ia juga mengajak masyarakat untuk bergabung dalam usahanya, mulai dari memilah jenis dan warna sampah hingga sampai pada proses pencacahan dan pengemasan cacahan sampah plastik.
Hingga kini sudah banyak masyarakat sekitar bahkan hingga asal Karangasem juga ikut membantu usahanya, baik itu remaja maupun lansia. Ia selalu membuka pintu lebar-lebar jika ada warga yang ingin bekerja membantu memilah sampah plastik.
Dari ceritanya, terdapat beberapa anak kecil dan lansia yang bekerja memilah sampah plastik. Tidak ada aturan ketat harus mencapai target tertentu dalam hasil pilahan sampah.
“Ada beberapa anak SD sepulang sekolah ikut memilah sampah di sini, mereka kumpulkan per karung, jika sudah cukup saya berikan upah. Saya sangat senang melihat semangat mereka, apalagi ketika menerima upah atas jerih payahnya sendiri,” ujarnya sembari tersenyum.
Kini pria inspiratif ini telah mampu meningkatkan kapasitas mesinnya jauh lebih besar hingga mencapai 500 kilogram per jam dan mengatasi 30 kelompok bank sampah di Buleleng, serta kelompok bank sampah lainnya di Bali.
Atas kerjasama dengan pihak industri besar di Bandung, sejak tahun 2017 ia secara berkelanjutan mengirim hasil cacahan plastik dengan kualitas full grade berjumlah minimal 14 ton. (Suteja)