Search

Home / Feature

Menengok Perajin Gong Tridatu di Ujung Utara Bali

Editor   |    19 Juni 2022    |   18:07:00 WITA

Menengok Perajin Gong Tridatu di Ujung Utara Bali
Perajin Gong Tridatu Made Suwanda dari Desa Sawan, Kabupaten Buleleng (Foto; Suteja)

PERAJIN gong yang di Bali lumrah disebut dengan pande gong sangat mudah ditemui pada hampir tiap wilayah di Pulau Dewata. Namun dari sekian banyak, terdapat satu pande gong cukup menarik untuk diketahui. Sebab bahan pembuatan yang berbeda dari biasanya.

Adalah pande gong dari kawasan wilayah Bali Utara tepatnya di Desa Sawan Kabupaten Buleleng. Berbeda dengan pande gong pada umumnya yang membuat gong berbahan perunggu, pande gong satu ini justru membikin gong dari campuran tiga bahan berbeda.

Instrumen alat kesenian tradisional Bali berbentuk bundar dan mempunyai titik di tengahnya sebagai pusat resonansi mengiringi barungan gamelan ini umumnya berperan sebagai pengiring kegiatan agama Hindu di Bali. Bahkan tak jarang dijadikan sebagai benda yang disakralkan dalam suatu pura.

Perbekel Desa Sawan Nyoman Wira mengatakan bahwa di desanya terdapat sejumlah perajin gong. Bedanya, gong buatan perajin di desanya memadukan tiga unsur logam yaitu timah, tembaga, dan besi. Gong ini dinamakan “Gong Tridatu”, dan memiliki harga lebih murah dari gong berbahan perunggu, namun dengan kualitas yang sama persis.

“Kalau penjualan sudah sampai Sumatera, Sulawesi, NTB dan NTT,” sebut Wira.

Keberhasilan ini, menurut Wira adalah berkat dukungan pemerintah dan pihak desa sendiri dengan bantuan pelatihan serta pemasaran.  “Harapannya, perajn dapat terus berkreatifitas menciptakan produk inovasi baru dengan sistem kerja lebih efisien. Tentunya dibarengi dengan dukungan perkembangan teknologi serta sarana dan prasarana memadai,” ucapnya. 

Dukungan bantuan lainnya, kata dia, melalui permodalan dari BUMDes seperti pembelian mesin, sarana prasana, dan lain-lain. “Meskipun dirasa dengan modal yang kecil, namun dari pemerintah desa tetap berusaha penuh selalu memberikan dukungan demi keberlangsungan usaha yang merupakan unggulan di daerah ini,” jelasnya.

Sementara salah satu perajin pande gong Desa Sawan, Made Suwanda menceritakan awal mula dirinya merintis usaha yang diteruskan dari ayahnya tersebut. Pada tahun 1998, Suwanda yang memulai usaha tersebut dengan nama "Surya Nada Gong" ini berjalan tidak semudah yang dibayangkan, banyak kendala yang dialaminya dalam mengembangkan usaha terusan milik ayahnya ini agar dapat dikenal lebih banyak lagi dan tidak hanya pada lingkup daerah Buleleng saja.

Dengan modal tekad kuat, Suwanda yang sama sekali tidak menekuni keahlian di bidang teknik sebelumnya ini membuktikan dengan jangka waktu 4 tahun tepatnya pada tahun 2002, usaha miliknya berkembang sampai mendapat pelanggan hampir mencakup wilayah seluruh Bali dengan memperkejakan tenaga sejumlah enam orang.

“Usaha yang saya geluti ini membuat produk seluruh jenis gamelan Bali, seperti angklung, gong kebyar, baleganjur, serta souvenir. Dan kebanyakan pesanan yang saya terima juga dari luar daerah Buleleng membeli bahan yang sudah dibentuk menjadi gong, kemudian pembeli tersebut melanjutkan finishing-nya,”ujar Suwanda.

Disinggung mengenai produk unggulan yang diciptakan oleh Suwanda. Gong yang bahan bakunya dinamai “Tridatu” ini diakuinya hanya satu-satunya di Bali.

Awal mula Suwanda mendapatkan ide untuk berinovasi bermula dari adanya pandemi Covid – 19. Dirinya merasakan omset yang turun drastis dikarenakan bahan gong yang pada umumnya perunggu dirasa mahal pada kondisi pandemi.

Maka dari itu, Suwanda menerapkan ide tersebut dengan membuat satu produknya selama 3 bulan serta hasilnyapun hampir sama mulai dari bentukan dan nada yang dikeluarkannya dengan gong yang berbahan perunggu.

“Gong tridatu ini saya ciptakan sebagai alternatif bagi para semeton Bali maupun luar Bali yang ingin memiliki gamelan barung dengan kualitas sama dengan perunggu, namun dengan harga lebih murah. Dengan harga pada perunggu di Rp 2,5 juta per buahnya, sedangkan jika memilih gong berbahan tridatu ini dihargai Rp 1,8 juta per buahnya,” terang Suwanda. 

Lebih jauh, Suwanda menjelaskan terkait prosesnya dalam menciptakan hasil karya gong ini. Tahapan awalnya yaitu mulai dari peleburan bahan baku yang menurut pengungkapannya berasal dari Jawa dengan panas mencapai 800 deraja celcius. Selanjutnya dituang ke dalam cetakan gong dan ditempa terus menerus agar tidak sampai kehitaman. Kemudian langkah berikutnya, disepuh dengan air dan langsung ditempa untuk kedua kalinya. Hingga pada proses akhir finishing dengan amplas dan melakukan tes bunyi yang dilakukan oleh dirinya.

Ia menyebutkan dalam sehari hanya dapat mencetak 2 buah gong saja, dan jika dihitung secara keseluruhan untuk membuat satu unit gong barung dibutuhkan waktu mencapai 6 bulan lamanya.

“Kalau gong ini dibuat berdasar permintaan karena terkendala dipermodalan. Bayangkan saja, untuk membuat satu set barung gong kebyar berbahan perunggu bisa mencapai Rp 400 juta, sedangkan yang berbahan tridatu mencapai Rp 230 juta. Itupun harus dengan tanda jadi juga, jadi kita tidak bisa sama sekali membuat stok lebih,” kata Suwanda.

Di penghujung, dirinya menyampaikan harapannya untuk Pemerintah Kabupaten Buleleng agar selalu mendukung UMKM dari segi permodalan, sarana prasarana, serta pemasarannya. Agar dikemudian hari peraji Buleleng ini dapat mampu bersaing di luar Bali, bahkan mencapai luar negeri. (Suteja)

 


Baca juga: Pengamalan dan Perwujudan Nilai-nilai Pancasila di Bidang Ekonomi