Pilihan Jalan Damai Bali Hadapi Aksi Bom Terorisme
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Bali telah dua kali menghadapi peristiwa kemanusian yang mengerikan dengan menewaskan ratusan korban jiwa akibat aksi terorisme dengan cara bom bunuh diri. Kemudian dikenal sebagai peristiwa Bom Bali I dan II.
Bersyukur, kala itu Bali memilih jalan damai sehingga dengan cepat segala dampak aksi terorisme yang menghancurkan berbagai sektor kehidupan sosial ekonomi masyarakat khususnya pariwisata, dapat kembali pulih tanpa meninggalkan permasalahan konflik lainnya.
Demikian sekilas terangkum dari pemaparan Wakil Gubernur (Wagub) Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) ketika tampil sebagai narasumber Dialog Kebangsaan dan Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional dalam rangka KTT G20 yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), pada Rabu (29/6) di Badung.
Menurut Wagub Cok Ace, masyarakat Bali memilih menghadapi peristiwa Bom Bali I dan II dengan cara jalan damai, serta cenderung menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum introspeksi diri terhadap apa yang tengah terjadi saat itu.
“Masyarakat Bali secara tulus ikhlas memohon kepada Tuhan atas kesalahan yang telah dibuat sehingga tidak mampu menjaga Bali dengan baik. Bukan malah saling menyalahkan satu sama lain (membangun konflik SARA, red). Perlahan Bali mulai bengkit dengan kepercayaan dunia internasional sehingga menjadikan Bali sebagai tuan rumah APEC,” tuturnya.
Bahkan kata Cok Ace, peristiwa itu digunakan pemerintah di Bali dan pelaku pariwisata untuk lebih meningkatkan keamanan, terlebih Bali sebagai destinasi pariwisata dunia yang berulang kali dipercaya menjadi tuan rumah berbagai event tingkat internasional.
“Untuk itu, strategi pemerintah dalam menjaga keamanan adalah dengan menerbitkan sertifikat manajemen keamanan hotel. Sehingga para delegasi (APEC, red) merasa aman untuk tinggal di hotel tempat mereka menginap,” terang Cok Ace.
Bahkan, lambat laun karena Bali tiada pernah sepi dari berbagai gelaran event internasional, pemerintah lebih meningkatkan strategi keamanan secara menyeluruh. Oleh sebab itu, Bali pun kemudian dikenal sebagai daerah yang sangat aman dan cinta damai, maka meski pandemi Covid-19 justru dipercaya menjadi daerah tuan rumah Presidensi KTT G20.
Namun karena KTT G20 digelar pada masa pandemi Covid-19, Cok Ace menyebutkan, tingkat keamanana Bali khususnya hotel-hotel ditambah dengan mesti dilengkapi sertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability).
“Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Keamanan Berbasis Desa Adat, dengan mengoptimalkan peran dan fungsi pecalang (pengamanan adat, red) dalam mengamankan desa adat yang ada di Bali. Selain itu, pemerintah juga sedang melakukan langkah antisipatif dengan pendataan penduduk secara ketat,” ujarnya.
Selanjutnya dengan dilakukan berbagai strategi dan langkah antisipatif untuk pengamanan Bali dalam menyambut G20, ia berharap kegiatan itu dapat berjalan lancar sehingga semakin menumbuhkan kepercayaan dunia internasional terhadap Bali.
Selain Wagub Cok Ace, menjadi narasumber lainnya adalah tokoh nasional Yenny Wahid, Direktur Analisis dan Penyelarasan BPIP Agus Moh Najib, dan Ketua FKUB Indonesia Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet.
Acara ini juga dihadiri Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Komjen Pol. Boy Rafli Amar.
Seperti diketahui, Bom Bali I adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy`s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan.
Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 203 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia. (Ady)