Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Minim Promosi, Museum Manusia Purba Sepi pengunjung

Oleh Podiumnews • 06 Juli 2022 • 17:42:00 WITA

Minim Promosi, Museum Manusia Purba Sepi pengunjung
Gedung utama museum sebagai tempat penyimpanan kerangka manusia purba. (Foto: Edy)

NEGARA, PODIUMNEWS.com - Awal-awal dibangun tahun 1990 saat Jembrana dipimpin Bupati IB Indugosa,S.H. Museum Manusia Purba di Gilimanuk banyak pengunjungnya. Bahkan banyak siswa -siswi mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi menjadikan Museum Manusia Purba Gilimanuk sebagai tujuan berdarma wisata.

Banyaknya siswa yang berkunjung saat itu bisa dimaklumi, karena Museum Manusia Purba dibangun selain sebagai objek wisata juga sebagai wahana edukasi arkeologi. Sayangnya, saat ini museum yang terletak di Teluk Gilimanuk ini jarang dikunjungi oleh masyarakat maupun para siswa.

"Perlu kembali dipromosikan agar masyarakat di Bali tahu bahwa di Gilimanuk ada museum arkeologi, yang berisi peninggalan kerangka manusia purba dan peralatan-peralatan kuno," salah seorang tokoh di Gilimanuk, Kasmun.

Mantan anggota dewan ini bahkan berharap Pemkab Jembrana gencar melakukan promosi, sehingga selain sebagai wahana edukasi (pendidikan) juga bisa menghasilkan pendapatan melalui retribusi.

Menurut informasi dari situs Kemendikbud Dirjen Kebudayaan, Museum Manusia Purba ini dibangun di atas Situs Arkeologi di Tepi Teluk Gilimanuk, yang luasnya kira-kira lebih dari 20 ha, berada pada ketinggian sekitar 5 meter di atas permukaan air laut.

Menurut situs tersebut, museum ini dibangun  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana, bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Jakarta dan Balai Arkeologi Denpasar dan dibuka secara resmi pada tahun 1990.

Pembangunan museum bertujuan  menyediakan sarana pelestarian hasil-hasil penggalian arkeologi di Gilimanuk, yang dirintis oleh Prof. Dr. R. P. Soejono pada tahun 1963 dan diteruskan hingga beberapa tahun kemudian.

Berdasarkan hasil-hasil penggalian diketahui, bahwa Gilimanuk adalah sebuah necropolis, yaitu perkampungan atau pemukiman nelayan sekaligus juga menjadi tempat pemakaman penduduk, yang berkembang pada masa perundagian, kira-kira 2000 tahun yang silam atau sekitar awal tarih masehi.

Selain ditemukan banyak kerangka manusia, juga ada banyak peralatan yang dikubur menyatu dengan kerangka manusia purba. Peralatan dimaksud seperti periuk, gelang- gelang dari kayu dan kaca serta cincin.

Berdasarkan hasil penelitian, sebut situs tadi, paleoantropologi dapat diketahui, bahwa manusia Gilimanuk adalah ras Autralomelanesid dengan ciri-ciri mongoloid yang masih kuat. Kematian pada umumnya disebabkan oleh pengaruh lingkungan berbatu gamping yang mengakibatkan penyakit kelebihan zat kapur, penyakit rahang bawah dan penyakit kerapuhan tulang.

Hal ini menunjukkan, bahwa kondisi kesehatan penduduk Gilimanuk kurang baik dengan frekuensi tingkat kematian rata-rata pada usia 21-30 tahun. Selain rangka manusia, di sini dijumpai juga sisa-sisa fauna yang dahulu pernah hidup bersama masyarakat nelayan Gilimanuk, ialah tulang-tulang babi, anjing, unggas, kelelawar dan lain-lainnya.

Sebagian dari beberapa temuan tersebut di atas telah dipajang dalam Museum Manusia Purba Gilimanuk antara lain, ialah selain rangka manusia purba Gilimanuk, ada juga tempayan, periuk, barang-barang perunggu, sarkofagus, dan lain-lainnya. (Edy)