Podiumnews.com / Aktual / News

ACK Jadi "Rumah Hantu”, Kasmun: Serahkan Pengelolaan ke Warga

Oleh Podiumnews • 07 Juli 2022 • 18:16:00 WITA

ACK Jadi "Rumah Hantu”, Kasmun: Serahkan Pengelolaan ke Warga
Bangunan anjungan cerdas konservasi yang telantar , karena sejak rampung dibangun tiga tahun lalu sampai sekarang tak difungsikan. (Foto: Edy)

GILIMANUK, PODIUMNEWS.com - Kabupaten Jembrana ternyata banyak memiliki proyek bangunan, yang berfungsi sebagai anjungan dengan konsep rest area. Setidaknya ada tiga bangunan berkonsep anjungan, yaitu Anjungan Cerdas Jalan Nasional (ACJN) yang berlokasi di sebelah barat Pura Rambut Siwi, Anjungan Betutu Gilimanuk (ABG) yang berlokasi di eks terminal Gilimanuk dan Anjungan Cerdas Konservasi (ACK) yang berlokasi di kawasan hutan Cekik Taman Nasional Bali Barat di jalan raya Denpasar -Gilimanuk.

Dari tiga proyek anjungan tersebut, nasib ACK tidaklah sebaik dua anjungan lainnya. ACJN yang dibangun di atas lahan 4 hektar lebih senilai  Rp 67 milyar itu, sejak rampung dibangun 4 tahun lalu sampai saat ini memang belum optimal difungsikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selaku pemilik proyek. Bangunan megah 3 lantai dan berbagai fasilitas pendukung tak difungsikan, karena memang tidak ada aktivitas. Bahkan lantai bawah yang disiapkan sebagai kios UMKM, hanya berisi satu pedagang.

Sementara ABG yang dibangun di atas lahan eks terminal Gilimanuk dengan anggaran Rp 4 milyar lebih, sempat menuai kendala. Namun akhirnya bisa diatasi, menyusul sejumlah pedagang kuliner betutu di bawah binaan salah satu bank, mau pindah ke ABG sebagai lokasi baru.

Anjungan Betutu Gilimanuk merupakan sentra terpadu kuliner khas Jembrana Ayam Betutu. Selama ini Betutu Gilimanuk sudah menjadi menu wajib bagi para wisatawan yang ke Bali lewat Gilimanuk.

Nah, yang paling memprihatinkan adalah kondisi ACK, yang dibangun tahun 2019 hingga saat ini  belum difungsikan. Bahkan kondisi bangunan sudah sangat kotor dan kusam karena tak terurus, semak belukar mulai menutupi bangunan yang cukup megah. Bangunan wantilan juga kumuh, karena kotoran kelelawar yang bersarang  di sana

Kondisi ini mengundang keprihatinan banyak pihak. Apalagi dana pembangunan menggunakan uang rakyat lewat APBD tk II, sehingga pemerintah kabupaten Jembrana harus segera mengambil sikap terhadap proyek-proyek yang mubazir.

"Menghindari kesan negatif, Pemkab Jembrana harus segera mengambil sikap taktis sehingga proyek yang sudah menggunakan uang rakyat itu bisa bermanfaat bagi rakyat," kata salah seorang tokoh warga Gilimanuk, Kasmun Nur, pada Kamis (7/7)

Menurut mantan anggota DPRD Jembrana ini, bisa saja Pemkab Jembrana memberikan hak pengelolaan kepada masyarakat sekitar untuk kegiatan UMKM serta rest area terutama untuk antisipasi hari-hari libur. Mengingat setiap hari-hari libur seperti Lebaran misalnya, antrean di Pelabuhan Gilimanuk bisa sampai di lokasi bangunan ACK.

"Sesuai konsep awal bahwa bangunan selain sebagai wahana informasi kegiatan konservasi, juga sebagai rest ara. Serahkan saja kepada warga sekitar untuk membuka warung, sehingga geliat ekonomi warga bisa terus tumbuh, ketimbang jadi rumah hantu" tegas Kasmun. (Edy)