Search

Home / Feature

Di Kafe Kartini, Disabilitas Intelektual Menjadi Mandiri

Editor   |    25 Juli 2022    |   10:48:00 WITA

Di Kafe Kartini, Disabilitas Intelektual Menjadi Mandiri
Penyandang disabilitas intelektual yang menjadi karyawan di kafe Kartini, Temanggung, saat sedang bekerja melayani pesanan pengunjung kafe, Sabtu (23/7). (foto/ist)

KAFE KARTINI yang berada di Komplek Sentra Terpadu milik Balai Besar Disabilitas Kartini Kabupaten Temanggung, menjadi sarana belajar bagi para penyandang disabilitas untuk membuka usaha mandiri.

Sebab, sebagian besar karyawan yang bekerja di kafe ini adalah kaum-kaum kurang beruntung yang mengalami disabilitas intelektual.

Pengelola Kafe Kartini, Iswuryanti Rahayu mengatakan, sejak kali pertama dibuka pada 2021 dan diresmikan langsung oleh Menteri Sosial Republik Indonesia, Tri Rismaharini, kafe disabilitas itu tak pernah sepi peminat.

Beragam menu menjadi andalan di tempat ini. Menariknya, sebagian besar karyawan yang bekerja di tempat ini adalah kaum penyandang disabilitas intelektual yang sengaja diberdayakan untuk memperoleh pemasukan, sekaligus kesetaraan status sosial dengan memaksimalkan seluruh skill yang mereka miliki.

“Kalau yang memegang menu utama, seperti yang memasak dan meracik kopi, memang mereka yang ahli di bidangnya. Namun, khusus bagian lain, seperti asisten cook, pramusaji alias waiter dan waitress, dikerjakan langsung oleh anak-anak kami yang mengalami disabilitas intelektual,” jelasnya, Sabtu (23/7).

Ia menyebutkan, terdapat poin plus dan minus dalam mengampu para karyawan, yang berstatus sebagai penyandang disabilitas. Kelebihannya, mereka memiliki etos kerja yang jauh lebih tinggi dibanding karyawan lain pada umumnya. Semangat mereka dalam mengais rezeki diklaim lebih membara.

Akan tetapi, terdapat juga kekurangan. Khususnya, minimnya fokus konsentrasi saat menyajikan hidangan ke masing-masing meja pengunjung.

“Semangat mereka luar biasa. Mungkin karena ada perasaan senasib dengan karyawan lain sesama penyandang disabilitas. Meski demikian, kami terus melakukan bimbingan ekstra, seperti keterampilan pelayanan atau hospitality, karena memang mereka memiliki kelemahan di sektor konsentrasi. Tetapi, memang itu tujuan kami memberdayakan mereka agar memiliki kesetaraan sosial, sekaligus menyediakan lapangan pekerjaan yang memang cukup sempit bagi kalangannya,” jelasnya.

Buka dari pukul 07.30 WIB sampai 22.00 WIB setiap harinya, pengunjung dapat memilih beragam menu makanan dan minuman yang kekinian. Sebut saja kopi expresso, manual brew, special iced coffee, dan frappe yang dibanderol mulai Rp10.000 hingga Rp17.000 per porsi.

Kemudian ada juga powder bassed iced hingga mojito iced yang dijual mulai Rp12.000 hingga Rp15.000-an per gelas. Lantas jus aneka buah hingga minuman tradisional jamu dengan kisaran Rp6.000 sampai Rp 15.000 per gelas.

Bagi yang ingin ngemil, Kafe Kartini juga menyediakan aneka camilan seperti pisang katsu, bubur ketan hitam, ropang cokelat, singkong mawut, burger, hingga mendoan yang dijual antara Rp8.000 sampai Rp22.000 saja per porsi.

Apabila pengunjung hendak memesan makanan berat, kafe ini juga telah siap melayani dengan menu-menu andalan. Sebut saja aneka seblak, rawon, sop iga, tongseng kambing, iga bakar, chicken katsu, chicken rice, rice bowl, tom yam, nasi goreng, hingga ayam dan ikan bakar. Untuk harga bisa dibilang lebih terjangkau dari lokasi kuliner lain.

“Target utama kita adalah bagaimana tempat kuliner ini dapat terus beroperasi, karena hasilnya kami utamakan untuk menggaji para karyawan, khususnya penyandang disabilitas intelektual yang bekerja dan menggantungkan pemasukan dari tempat ini,” tuturnya.

Sementara itu, Aldi (26), salah seorang pengunjung mengaku cukup terkesan dengan kemampuan para penyandang disabilitas yang bekerja di tempat ini. Menurutnya, etos bekerja mereka tak kalah dibanding masyarakat pada umumnya.

“Suatu kombinasi luar biasa, pertama jelas membantu pemberdayaan kaum disabilitas. Kedua memang tempat ini recomenden. Rasa tiap menunya oke, venue yang disajikan juga asyik. Cocok untuk seluruh kalangan. Baik anak-anak, remaja, dewasa, keluarga, hingga para orang tua,” pungkasnya. (dev/sut)

 


Baca juga: Pengamalan dan Perwujudan Nilai-nilai Pancasila di Bidang Ekonomi