Search

Home / Feature

Masjid Bersejarah Kerukunan Beragama di Pulau Reklamasi Bali

Editor   |    06 Agustus 2022    |   21:27:00 WITA

Masjid Bersejarah Kerukunan Beragama di Pulau Reklamasi Bali
Masjid As Syuhada di Kampung Bugis, Denpasar. (JIC)

KARENA membantu menaklukkan Kerajaan Mengwi, perantau asal Bugis mendapatkan hadiah lahan di sebuah pulau kecil, di selatan Pulau Bali pada abad 17 silam. Di lahan itu kemudian dibangun masjid.

Nama pulau itu adalah Serangan yang masuk ke dalam administrasi Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Serangan terletak 10 kilometer di selatan Denpasar atau sekitar 15 menit berkendara dari pusat kota melewati bypass I Gusti Ngurah Rai.

Di pulau seluas 481 hektare tersebut terdapat satu bangunan bersejarah, yaitu Masjid Asy Syuhada yang telah berdiri sejak abad 17 silam. Masjid Asy Syuhada ada di Kampung Bugis, sebelah selatan pulau. Letak masjid yang berada di permukiman warga asal Bugis ini membuatnya dikenal juga sebagai Masjid Kampung Bugis. Terdapat pula sebuah rumah panggung khas Suku Bugis dan telah berusia 200 tahun yang letaknya di seberang masjid.

Letak masjid cukup strategis karena berada tak jauh dari pusat konservasi penyu dan Kantor Kelurahan Serangan, atau sekitar 100 meter dari Jl Tukad Pekaseh. Arsitektur bangunan masjid masih dipertahankan sejak awal pembangunannya dan berdiri di atas lahan seluas 187 meter persegi. Ada pula yang menyebutnya berdiri di atas sebidang tanah wakaf seluas 2 are atau sekitar 200 meter persegi.

Luas bangunan masjid sekitar 300 meter persegi dengan ukuran dalam masjid adalah 10 meter x 10 meter dan mampu menampung sekitar 200 jamaah. Lantai dan dinding pada interior dalam dan luar masjid sudah dilapisi keramik krem muda serta dilengkapi dua unit mesin pendingin udara.

Kendati demikian, sejumlah sisi bangunan masih dipertahankan keasliannya seperti empat pilar penopang atap (sokoguru) yang terbuat dari kayu jati. Kemudian mimbar ceramah bertingkat dari kayu jati. Sepintas model mimbarnya mirip dengan yang ada di masjid-masjid di Sulawesi Selatan. Langit-langit masjid pun masih asli dan terbuat dari kayu jati.

Tepat di seberang masjid terdapat rumah panggung Bugis satu-satunya yang masih bertahan, diperkirakan usianya 200 tahun. Keunikan lain dari masjid ini adalah adanya peninggalan Alquran berusia 300 tahun yang lembarannya terbuat dari daun pisang serta dilapisi penutup (hardcover) dari kulit sapi. Menurut Bachtiar, salah satu pengurus masjid, Alquran tersebut sudah lapuk dan tetap dirawat sebagai sebuah peninggalan budaya masa lampau serta disimpan di rumah warga.

Seperti dikutip dari Dunia Masjid, diyakini bahwa Masjid Asy Syuhada sebagai rumah ibadah umat Muslim tertua kedua di Bali setelah Masjid Nurul Huda di Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung yang dibangun pada abad 14.

Ide pembangunan Masjid Asy Syuhada datang dari Syekh Haji Mukmin bin Hasanuddin atau Puak Matoa, ulama asal Ujungpandang yang bermukim di Serangan. Ia menggerakkan masyarakat Muslim, para pendatang dari Bugis, untuk bersama membangun rumah ibadah yang berada di tengah lingkungan permukiman mereka.

Kehadiran kampung Muslim ini tak lepas dari peran Raja Cokorda Ngurah Sakti atau dikenal sebagai Raja Cokorda Pemecutan III dari Kerajaan Badung yang memberi hadiah lahan seluas 5.000 meter persegi bagi masyarakat Bugis untuk ditinggali di Serangan. Hadiah itu dipersembahkan karena masyarakat Bugis yang dikenal setia, telah membantu prajurit Kerajaan Badung saat menaklukkan Kerajaan Mengwi, abad 17.

Kerukunan yang telah terjalin sejak abad 17 itu tetap berlanjut hingga hari ini. Ketua Takmir Masjid Kampung Bugis Syukur menjelaskan kalau umat Muslim dan Hindu di Serangan hidup saling menghormati. Kedua umat beragama kerap menunjukkan sikap toleransinya terutama saat acara-acara keagamaan atau ketika ada aktivitas bersama.

Pulau Reklamasi

Selain Masjid Asy Syuhada, di Serangan juga terdapat Pura Sakenan yang dibangun sejak abad 10 atau sekitar 1005 Masehi oleh Mpu Kuturan dari Kerajaan Kediri, Jawa Timur. Kedua bangunan itu telah masuk sebagai cagar budaya daerah.

Pulau Serangan semula luasnya hanya 111 ha dan membesar menjadi 481 ha lewat proses reklamasi pada 1995. Reklamasi awalnya dilakukan untuk tujuan komersial dan terhenti pada 1998 karena krisis ekonomi. Proses reklamasi saat itu baru berjalan 60 persen. Sebuah jembatan sepanjang sekitar 100 meter dibangun untuk menyambungkan Serangan dan Bali lewat ruas Bypass Ngurah Rai.

Pulau mungil berpenduduk hampir 9.000 jiwa itu dikenal juga sebagai tujuan wisata baru di Bali karena ada beberapa spot menarik. Misalnya wisata pantai berpasir putih, kawasan hutan mangrove yang masih terjaga kelestariannya, dan wisata bawah laut dengan terumbu karang dan koleksi ikan hias menawan. Ada juga objek wisata permainan air dan waterboarding yang tutup sejak pandemi.

Karena letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Kapal Pesiar dan arina Benoa, Pulau Serangan acap dijadikan lokasi buang sauh sementara kapal-kapal wisata dan yatch yang umumnya milik warga asing. Tak jarang mereka kerap singgah ke pulau ini untuk bermalam di darat atau sekadar berkeliling pulau.

Kendati sekitar 75 persen wilayah hasil reklamasi sedang dibangun kawasan wisata terpadu seperti hotel berbintang, pelabuhan yatch, dan lapangan golf, pembangunannya tak sampai mengganggu kehidupan masyarakat setempat. Hampir 70 persen penduduk mencari nafkah di sektor pariwisata, seperti menyewakan perahu wisata, pemandu wisata, dan pedagang.

Serangan yang berasal dari kata sira dan angen yang berarti kangen dan rindu, menjadi tujuan rekreasi warga sekitar Denpasar di akhir pekan. Apalagi di tempat ini terdapat pusat konservasi dan penangkaran penyu hijau yang dilindungi. Pulau ini juga dikenal sebagai tempat pendaratan dan bertelurnya penyu hijau dan belimbing. Pada waktu-waktu tertentu, pengelola penangkaran mengadakan kegiatan pelepasan tukik atau anak penyu ke laut lepas yang bisa diikuti oleh masyarakat umum. (*)

Penulis: Anton Setiawan


Baca juga: Pengamalan dan Perwujudan Nilai-nilai Pancasila di Bidang Ekonomi