Search

Home / Feature

Waspada, Darurat Kesehatan Cacar Monyet

Editor   |    12 Agustus 2022    |   19:46:00 WITA

Waspada, Darurat Kesehatan Cacar Monyet
Ilustrasi Cacar Monyet (sumber: pixbay)

WHO menempatkan wabah cacar monyet dalam status darurat kesehatan global. Sebagian besar penderitanya ialah kaum gay. Dirjen WHO menyerukan, jangan ada stigmatisasi dan diskriminasi.

Penyebarannya berjalan cukup cepat. Bila pada 22 Juni, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebut angka kasus infeksi 3.413 orang di 50 negara yang terhitung sejak 1 Januari 2022, maka pada laporan per 22 Juli 2022 angkanya naik menjadi 16.016 kasus di 75 negara, dengan angka kematian lima orang. Tak ayal, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanon Gebreyesus segera menetapkan cacar monyet (monkeypox) itu dalam status  darurat kesehatan global.

‘’Kita menghadapi wabah yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan cepat, lewat cara penularan baru, yang kurang kita pahami, dan yang memenuhi kriteria dalam Peraturan Kesehatan Internasional. Saya pun telah memutuskan bahwa wabah cacar monyet global merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang perlu menjadi perhatian dunia internasional,’’ ujar Dirjen WHO Tedros Adhanon Gebreyesus dalam keterangan persnya, pada Sabtu, 23 Juli 2022, di Jenewa, Swiss.

Tak mudah bagi Tedros Gebreyesus untuk memutuskannya. Tak ada kesepakatan bulat di antara delapan anggota komite (independent oversight and advisory committee) yang diundang untuk membahas isu tersebut. Namun, dengan memperhatikan segala argumen anggota komite, Tedros Gebreyesus memutuskan, menetapkannya sebagai kondisi darurat kesehatan global.

“Di bawah Regulasi Kesehatan Internasional, saya diminta mempertimbangkan lima elemen untuk memutuskan, apakah suatu wabah itu telah berkembang menjadi keadaan darurat bagi kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian internasional,’’ Dirjen WHO itu menambahkan.

Lima elemen itu adalah, pertama, informasi yang diberikan oleh negara-negara telah menunjukkan bahwa virus cacar ini telah menyebar cepat ke sejumlah negara yang belum pernah melihatnya. Kedua; ada tiga kriteria kedaruratan yang terpenuhi, dan ketiga komite tidak mencapai konsensus, namun keputusan harus tetap diambil.

Yang keempat, prinsip-prinsip ilmiah, bukti, dan informasi relevan lainnya tidak cukup memadai dan menyisakan sisi-sisi yang tidak diketahui; dan kelima ada risiko atas kesehatan manusia, penyebaran internasional, dan potensi gangguan lalu lintas internasional.

Penyebaran Lima Benua

Secara umum, menurut Tedros Gebreyesus, WHO menilai bahwa risiko cacar monyet masih moderat secara global, kecuali di kawasan Eropa yang dilihat risikonya cukup tinggi. Di Inggris per 25 Juli angka kasus terkonfirmasi tercatat 2.208, Jerman 2.356 kasus, Prancis 1.567 kasus, dan Spanyol mencapai rekor yang terbesar dengan 3.549 kasus. Angka-angka itu jauh melampaui tingkat insidensi di negeri asal virus cacar monyet tersebut, yakni di negara Afrika seperti Republik Kongo, Republik Afrika Tengah, Nigeria, dan sekitarnya.

Penyebarannya kini telah mencapai lima benua. Di Benua Amerika, AS mencatat 2.891 kasus. Sedangkan Kanada dan Brazil mencatat kasus ratusan, selebihnya rendah. Penularan di negara-negara Timur Tengah juga rendah, hanya ada kasus-kasus kecil di Arah Saudi dan Qatar.

Cacar monyet juga terpantau telah menyusup ke Indo Pasifik, yang  meliputi kawasan Pasifik Barat, Asia Timur, Tenggara dan Selatan. Dashboard WHO menyebutkan, di Jepang muncul satu kasus monkeypox, Korea Selatan mencatat dua kasus, Taiwan satu kasus, Australia 44 kasus, dan Selandia Baru  dua kasus. Di India dikabarkan ada empat kasus, Thailand satu kasus (versi Reuters 25 kaus), dan di Singapura terjadi sembilan kasus.

Bagaimana dengan Indonesia? ‘’Sampai saat ini belum ada kasus yang terkonfirmasi, probable maupun suspect monkeypox,” ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu, Senin (25/7/2022), dalam keterangan persnya di Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), menurut Maxi Rondonuwu, telah mengambil langkah siaga  sejak WHO menyatakan kasus cacar monyet itu sebagai kejadian luar biasa (outreak) pada Mei lalu. Langkah-langkah pencegahan dan penanganan dirumuskan merujuk pada guidelines yang disiapkan WHO.

Pedoman penanganan wabah penyakit, pencegahan dan surveilans telah dibagikan di semua unit yang memerlukannya sejak akhir Mei 2022, dalam bentuk surat edaran Dirjen P2P. Lantaran wabah ini berpotensi muncul sebagai kasus impor, maka dalam pencegahannya, tindakan surveilans di pintu masuk negara menjadi prioritas.

‘’Sejak muncul monkeypox di  beberapa negara, Kemenkes sudah melakukan surveilans aktif di semua pintu masuk negara, terutama di bandara dan pelabuhan laut," kata Maxi Rein Rondonuwu.

Kelompok Rentan

Dunia sudah mengenal penyakit cacar monyet yang dibangkitkan oleh virus genus Orthopoxvirus itu sejak 1958 yang menyerang monyet di Congo. Baru pada 1970 diketahui bahwa virus ini bisa pindah menyerang manusia di Nigeria. Sejak itu monkeypox  menyerang manusia di Republik Kongo, Afrika Tengah, Nigeria, dan sekitarnya. Maka, kawasan di Afrika bagian tengah itu disebut sebagai kawasan endemik cacar monyet. Namun, prevalensi serangan rendah, tak sampai 1.000 orang terserang pada satu negara per tahunnya.

Namun, pada 2022 cacar monyet ini masuk ke Eropa. Pada 20 Mei, WHO menerima laporan penyakit ini telah menyerang  80 orang di berbagai tempat di dunia, dan 20 di antaranya di Inggris. Pada awal Juni, laporan yang masuk sudah di atas 1.000 kasus. Per 22 Juni dilaporkan ada 3.413 kasus, dan 86% di Eropa. Kasus di kawasan endemiknya malah hanya 2%.

Secara umum, penderita cacar monyet ini berusia 18--44 tahun dengan rata-rata 36 tahun. Yang kini menjadi perhatian, dari seluruh pasien itu ada 5.561 orang yang mau membuka ihwal orientasi seks mereka. Ternyata dari jumlah itu, 98 persen adalah kelompok gay, biseks, atau kaum lelaki yang  melakukan kontak seksual dengan sejenisnya. Dari semua pasien, ada 4.614 orang yang bisa ditelusuri medical record-nya. Ternyata, 41 persen dari penderita monkeypox itu mereka ialah penyandang HIV.

Namun, Dr Rosamund Lewis, seorang ahli kesehatan masyarakat dari WHO mengingatkan, cacar monyet itu tidak secara eksklusif menyerang kaum gay. ‘’Penyakit itu menular melalui kontak fisik yang dekat, face to face, kulit ke kulit,’’ katanya. Maka, dari penelusurannya Dr Rosamund Lewis menemukan pula ada anggota keluarga penderita yang tertular.

Ada pula yang tertular tanpa riwayat kontak apa pun dengan penderita atau suspek, dan tidak pula melakukan perjalanan ke daerah endemi cacar monyet. ‘’Sesungguhnya masih terlalu sedikit yang kita tahu tentang cacar monyet ini,’’ ujarnya, dalam video yang di-upload di laman resmi WHO itu.

Dirjen WHO Tedros Gebreyesus juga menekankan, dalam penanggulangan cacar monyet itu tak cukup hanya soal surveilans, diagnosis, terapi, dan vaksin. Adanya risiko yang besar di kalangan kaum gay, biseks, dan pria pelaku seksual sejenis, menurut Tedros, memerlukan pendekatan sosial sendiri. Kelompok tersebut perlu dilibatkan dalam menyusun tata cara deteksi dan surveilans.

‘’Jangan sampai terjadi stigmatisasi dan diskriminasi,’’ seru Tedros Gebreyesus. Sebab, menurutnya, stigmatisasi dan diskriminasi itu juga virus ganas dalam versi yang berbeda. (*)

Penulis: Putut Trihusodo


Baca juga: Pengamalan dan Perwujudan Nilai-nilai Pancasila di Bidang Ekonomi