Podiumnews.com / Aktual / News

Mereka Menepis Isu Ijazah Palsu Jokowi

Oleh Podiumnews • 16 Oktober 2022 • 19:37:00 WITA

Mereka Menepis Isu Ijazah Palsu Jokowi
Presiden Jokowi menemui teman seangkatan kuliahnya di Fakultas Kehutanan UGM, Minggu (16/10) di di Kawasan Ambarukmo, Sleman, Yogayakarta. (foto/biro setpres)

SAAT kunjungan kerjanya di Yogyakarta, Minggu (16/10), di sela itu digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyempatkan diri menemui teman seangkatan kuliahnya di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu tiba sekitar pukul 09.00 WIB di Kawasan Ambarukmo, Kabupaten Sleman. Jokowi berbincang santai dengan teman-teman semasa kuliah.

Dia mengaku hanya sebentar bertemu mereka. “Pagi hari ini saya ke Yogya, kemudian mampir ke Ambarukmo, ketemu dengan teman-teman saya mahasiswa. Ada yang dulu di Perhutani, ada yang dosen, wiraswasta, di dinas, ini macam-macam. Pas hari ini kumpul ya saya ketemu, tapi saya juga hanya sebentar, ndak lama," kata Jokowi.

Jokowi menuturkan teman-temannya berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Dalam pertemuan tersebut, mereka sempat mengenang kembali momen semasa kuliah dalam album foto.

“(Saya melihat) foto-foto waktu wisuda, ada yang foto waktu di mapala (mahasiswa pecinta alam). Saya sendiri fotonya sudah hilang, tapi ternyata kawan-kawan masih simpan semuanya komplet,” tambahnya.

Kenangan Mendaki Gunung Kerinci Bersama Senada, teman semasa kuliah, Tommy, menyampaikan bahwa foto yang diperlihatkan kepada Jokowi merupakan foto saat mendaki Gunung Kerinci.

Meski album yang diperlihatkan telah berusia lama, tetapi kata Tommy, masih jelas terlihat foto momen wisuda Jokowi bersama teman-temannya di tahun 1985 lalu.

“Tahun 1985 ini foto waktu wisuda. Waktu itu Pak Jokowi wisudanya dengan beberapa teman angkatan, November 1985. Masuknya 1980, wisudanya 1985,” ujar Tommy.

Tommy menjelaskan bahwa sifat Jokowi dari dulu saat menjadi mahasiswa hingga sekarang tetap sama. Tommy menilai, Jokowi tetap menjadi orang yang bijak dan tidak gampang tersinggung ketika sedang bergurau.

“Pak Jokowi, selama dia mahasiswa dengan kondisi sekarang itu kurang lebih masih sama. Satu, tidak pernah marah, wise dia. Kalaupun kita gojekan, (bercanda) ya sederhana saja gojekannya, bergurau saja. Kalau misalkan tersinggung enggak pernah marah, menasehati kita itu biasa,” lanjutnya.

Sementara itu, teman-teman semasa kuliah yang lain mengenang Jokowi sebagai sosok yang disiplin. Seperti Bambang, mengingat Mantan Wali Kota Solo sebagai sosok yang rajin beribadah. “Itulah yang saya ingat. Orangnya rajin, jadi waktu kuliah pun keluar izin cuma untuk salat,” ucap Bambang.

Sosok pemersatu

Selain itu, Bambang juga mengenang Jokowi sebagai pemersatu kelompok-kelompok mahasiswa yang ada saat itu. Melalui organisasi Mapala di fakultasnya, menurut Bambang, Jokowi telah mempersatukan kelompok-kelompok tersebut melalui aktivitas naik gunung.

“Pak Jokowi itu pemersatu. Dulu kan ada kelompok-kelompok, ada HMI, GMNI, terus putih, tapi beliau yang menyatukan di wadah Silvagama trus naik gunung bareng-bareng. Itulah terus jadi kompak,” pungkasnya.

Merasa prihatin

Selanjutnya Seweko, teman semasa kuliah  Jokowi) yang lain menggunakan kesempatan ini untuk menepis segala isu yang menuding ijazah sarjana presiden ketujuh Indonesia itu palsu.

Ia menjamin keaslian ijazah sarjana yang dimiliki oleh Jokowi.

Ia menilai isu yang berkembang tidak benar. Ijazah yang yang dimiliki oleh Jokowi sama seperti ijazah lulusan Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985 mahasiswa/mahasiswi lainnya pada waktu itu.

“Itu pasti asli to mas! Wong kita itu sama-sama kuliah, kita ke kehutanan sama-sama, praktikum sama-sama, wisuda bersama, ijazah aslinya itu sama kita, sama semua. Dekannya siapa, rektornya siapa itu sama,” kata Seweko.

Seweko pun mengaku prihatin dengan berkembangnya isu terkait ijazah tersebut di media.

“Kita prihatin kok ada yang mempersoalkan. Artinya, kalaupun yang mempersoalkan dengan niatnya (mengungkap), `saya ada dua saksi,` lah kita ini 80 kok. Itu loh tapi kok ada yang percaya,” lanjutnya.

Senada, teman semasa kuliah Presiden Jokowi, Evi Yulia, juga menyayangkan berkembangnya isu tersebut di media sosial. Menurutnya, media sosial harusnya dapat digunakan secara bijak dan hati-hati.

“Medsos harusnya diarahkan dengan daya pikir, daya nalar yang bagus gitu. Kok tambah enggak karu-karuan,” ujar Evi.

Sementara itu, pihak UGM melalui Rektor Ova Emilia telah melakukan klarifikasi terkait keaslian ijazah Presiden Jokowi pada 11 Oktober lalu. Evi menilai, klarifikasi yang dilakukan oleh rektor telah melalui serangkaian koordinasi dan konfirmasi dengan pihak dari Fakultas Kehutanan.

“Itu rektor loh, rektor kan enggak sembarangan bicara pasti akan koordinasi dengan fakultas, sama dekan,” tandasnya. (ris/sut)