Search

Home / Infrastruktur

Rumah Berdiri Pinggir Sungai Rawan Bahaya

Editor   |    28 Oktober 2022    |   16:36:00 WITA

Rumah Berdiri Pinggir Sungai Rawan Bahaya
Kondisi bangunan rumah warga yang berada di pinggir bantaran sungai di Kampung Jawa, Denpasar Utara, mengalami ambrol pada Kamis (27/10) siang.

DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Peristiwa ambrolnya tiga rumah warga yang berada di pinggir bantaran sungai di Kampung Jawa, Denpasar Utara, pada Kamis (27/10) siang, menimbulkan kecemasan masyarakat. sekitar.

Sebab sepanjang sungai di kawasan ini berdiri banyak bangunan liar yang telah ada sejak 60 tahun lalu. Dikhawatirkan kejadian serupa dapat terulang sehingga rawan bahaya.

Menyangkut hal itu, anggota Komisi I DPRD Denpasar Ketut Suteja Kumara mengaku sangat prihatin atas kejadian tersebut.  Ia mengatakan bahwa pondasi rumah yang  berada persis di bantaran sungai sangat rawan tergerus air. Terlebih, pada musim hujan belakangan ini debit air cukup besar sehingga dapat membahayakan dan mengancam keselamatan manusia.

"Mendirikan bangunan di bantaran sungai itu tidak boleh. Sesuatu yang keluar dari ketentuan pasti membahayakan. Apalagi berhadapan dengan alam. Kalau tidak hari ini pasti besok atau tunggu waktu saja," kata Suteja Kumara, Jumat (28/10) di Denpasar.

Supaya permasalahan ini tidak makin berlarut-larut, pemerintah segera akan mencarikan solusinya. Saat ini Pemerintah Kota Denpasar telah melakukan koordinasi terkait hal itu.  "Masih ditangani pemerintah. Bantuan pasti ada. Mekanismenya kan ada. Pastilah pemerintah memikirkan rakyatnya dengan baik," tandasnya.

Sementara itu, tiga rumah yang roboh akibat tanah ambles di bantaran Tukad Badung, Kampung Jawa, ternyata tidak mengantongi izin. Diketahui rumah yang kini ditempati Hadijah (70) bersama anak dan cucunya itu merupakan peninggalan dari suaminya, M Yusuf Jainuddin.

"Rumah tersebut sudah ada sejak 60 tahun yang lalu. Pemilik rumah melakukan renovasi hingga menjadi bangunan tiga lantai," ujar Arif.

Menurut M Haris Arif selaku anak kandung dari M Yusuf Jainuddin yang ditemui di lokasi TKP, pada Jumat (28/10) menjelaskan, faktor utama rumah itu roboh karena tanahnya ambrol akibat dampak tergerus air.

Sebelum rumah roboh, mereka memang sudah mulai curiga sejak sebulan lalu. Sebab terlihat ada tanda-tanda lantai dan dinding retak. Bahkan retakan semakin lebar terjadi pada, Rabu 26 Oktober 2022, paska ada pengeboran saluran air.

"Getaran mesin pengeboran membuat tanah yang berada di bantaran sungai itu ambles," ungkap Arif.

Dijelaskanya, dahulu bangunan rumah dibangun pada posisi jauh dari sungai. Rumah itu berdiri di sebelah barat sungai. Seiring berjalanya waktu, penataan sungai bergeser di dekat rumah korban. Kemudian, pada tahun 2021 terjadi tanah longsor dan tanah tersebut membelokan aliran air ke arah rumah korban.

"Awalnya rumah itu jauh dari sungai, kemudian dilakukan pelebaran sungai. Jadinya berada di tepi aliran sungai. Saya duga tanahnya tergerus air hingga ambles," ungkap Arif.

Selama bangunan rumah itu berdiri sejak 60 tahun silam di bantaran sungai, ternyata tidak mengantongi izin kepemilikan. Tapi, pemerintah Kota Denpasar tidak melakukan penertiban. "Saat ini sedang dalam proses pengurusan izin," ujarnya.

Pria yang sehari-sehari berjualan sembako dan warung makan di lokasi TKP ini merangkan, rumah itu ditempati 15 orang, terdiri dari tiga kepala keluarga. Anak-anak tiga orang (usia SMA, SMP, dan SD). Ia bersyukur, karena peristiwa itu tidak sampai ada korban luka-luka maupun korban jiwa.

Pemilik rumah berhasil kabur menyelamatkan diri. Namun nahas, seluruh harta benda dalam rumah terkubur material bangunan.

"Tak ada barang yang terselamatkan. Kami tinggal pakaian di badan saja. Barang-barang yang terkubur material rumah belum bisa diambil karena berbahaya. Rencananya material bangunan rumah itu akan dibongkar oleh BPBD Kota Denpasar," sebutnya.

Keterangan terpisah, Ketua RT 04 Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, Haji Sudaryanto mengatakan tanah tempat rumah itu dahulu merupakan lahan kosong. Oleh warga sekitar dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah.

Namun Sudaryanto mengaku tidak tahu apakah rumah yang ambles itu berizin atau tidak. "Saya tidak tahu pembangunan rumah itu ada izin atau tidak. Mungkin mereka sudah urus dengan dinas terkait," ucapnya.

Sehari usai kejadian, bantuan untuk para korban berdatangan secara sukarela. Bahkan Walikota Denpasar IGN Jaya Negara datang ke lokasi menemui para korban dan membawa bantuan berupa sembako. BPBD Kota Denpasar juga datang bawa bantuan berupa pakaian dan perlengkapan sekolah. (hes/sut)


Baca juga: Abrasi Pantai di Jembrana Digarap