Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Gaungkan Denpasar sebagai Kota Toleransi

Oleh Podiumnews • 28 Januari 2023 • 18:22:00 WITA

Gaungkan Denpasar sebagai Kota Toleransi
Patung Catur Muka sebagai ikon dan Titik Nol Kota Denpasar, lalu ke arah barat hanya beberapa meter melangkah akan masuk kawasan Heritage Jalan Gajah Mada. (dok/dispar Denpasar)

JEJAK bukti dan catatan sejarah yang menceritakan tentang begitu hangatnya toleransi pada masyarakat Kota Denpasar, sangat mudah ditemui. Sehingga harapan Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar untuk kembali menggaungkan ibu kota Provinsi Bali ini sebagai Kota Toleransi sangatlah relevan.

Harapan itu sebagaimana disampaikan Wakil Walikota (Wawali) Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa membuka Festival Imlek Bersama 2574 Tahun 2023, Sabtu (28/1) di kawasan Jalan Gajah dan dilanjutkan di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung.

Wawali Arya Wibawa pada Festival Imlek Bersama itu mengatakan bahwa Denpasar merupakan “Kotaku Rumahku”. Ia ingini kota ini dapat menjadi rumah bersama bagi semua masyarakat Denpasar yang berasal dari berbagai etnis, bangsa, agama dan golongan.  

"Kita lihat dalam kegiatan ini masyarakat Denpasar tumpah ruah hadir turut memeriahkan acara Imlek bersama ini," ujar Arya wibawa untuk menunjukan begitu kuatnya toleransi masyarakat Denpasar yang tanpa sekat turut memerihakan perayaan Imlek tahun ini.

Terlebih, lanjut dia, kegiatan diinisiasi Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali ini juga mengangkat tema dalam merajut kebhinekaan dan memperkuat persatuan sehingga harapan bersama Denpasar menjadi Kota Toleransi di Indonesia.

Sementara Ketua INTI Bali Putu Agung Prianta menjelaskan tujuan kegitan ini merajut kebhinekaan memperkuat kerukunan mengangkat Denpasar sebagai Kota Toleransi, dan menjadikan Jalan Gajah Mada sebagai kawasan Heritage Denpasar.

"Terima kasih semua komunitas yang telah mendukung kegitan ini, dan terima kasih terhadap Pemkot Denpasar dan harapan kegiatan ini dapat berlangsung setiap tahun serta mengangkat Denpasar sebagai Kota Toleransi serta melengkapi festival festival Seni Budaya di Denpasar," ujarnya. 

“Melalui budaya dari Denpasar untuk Bali merajut Kebhinekaan. Kegiatan ini diikuti element komunitas yang ada di Bali, seperti Flobamora, Ikawangi, Pusunda, komunitas mobil antik dan banyak sekali kolaborasi dari komunitas yang telah menunjukan kita ini NKRI,” imbuhnya menegaskan. 

Kegiatan ini dimeriahkan pagelaran 200 barongsai, parade wushu, parade Liong, parade pakaian khas Tionghoa, juga melibatkan banjar-banjar dengan penampilan barong, rangda khas Bali. Parade kesenian ini juga dimeriah beragai budaya etnis Nusantara, seperti Reog Ponorogo.

Pada kegiatan ini, seluruh pejabat juga terlihat turut hadir untuk memberikan dukungan mereka. Di antaranya, Ketua DPRD Denpasar I Gusti Ngurah Gede dan Sekda Kota Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana.

Tak Masuk 10 Kota Paling Toleran

Sayangnya, berdasarkan data yang dihimpun menyebutkan bahwa tak sekalipun Kota Denpasar masuk dalam ranking 10 Indeks Kota Toleran di Indonesia (IKT). Dari studi yang diliris Setara Institut itu, pada tahun 2017 hanya menempatkan Kota Denpasar pada urutan ke-25, dan di tahun 2018 berada pada ranking 24. Pada tahun berikutnya pun juga tak jauh beda.

Bahkan, Denpasar tertinggal dengan Kota Ambon yang pernah dilanda kerusuhan bermuatan SARA (Suku Ras dan Agama) pada tahun 1999 dan 2001 yang menyebabkan ratusan korban jiwa meninggal. Ibu Kota Provinsi Maluku ini sejak tahun 2017 selalu masuk 10 Kota Paling Toleran di Indonesia. Terakhir, pada tahun 2021 berhasil menempati ranking ke-7.    

Jejak Toleransi

Menelusuri berbagai kisah tentang bagaimana kehangatan toleransi antarwarga yang hidup di wilayah Kota Denpasar, sangat mudah ditemui dalam liputan berbagai media lokal, nasional dan asing. Salah satunya adalah kawasan Kampung Bugis di Pulau Serangan, Denpasar. Di kampong yang berada di kawasan berhimpitan dengan kawasan pariwisata Sanur dan Kuta ini, warga umat Hindu dan Muslim saling hidup berdampingan dan harmonis sejak beratus tahun lalu.

Hal yang sama juga terjadi di Kampung Jawa yang berada dekat jantung kota Denpasar. Kemudian Kawasan Heritage Jalan Gajah Mada sebagai Pecinan Kota Denpasar, dan kawasan Jalan Selewesi yang mayoritas dihuni oleh warga keturunan Arab. Di kedua kawasan ini, antarwarganya hidup saling berdampingan dan harmonis dengan penduduk Hindu Bali yang sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu. (dhi/sut)