87 Persen Tenun Bali Diproduksi di Luar Daerah
DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Putri Suastini Koster kembali menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi kain tenun Bali.
Pasalnya, menurut Putri Koster, berdasarkan hasil survei salah satu perguruan tinggi di Bali, menyebutkan bahwa sekitar 87 persen kain tenun Bai yang dijual di pasaran diproduksi di luar daerah namun menggunakan label tenun asli Bali.
“Hanya 13 persen dari kain tenun yang beredar di pasaran merupakan hasil dari para perajin tenun asli Bali,” ujar Putri Koster pada pembukaan Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 3 Tahun 2023, Minggu (16/4/2023) di Denpasar.
Bahkan sebut Putri Koster, kondisi ini menurut para pakar sudah terjadi sejak akhir tahun 1970-an atau menjelang tahun 1980-an. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, bukan cuma diproduksi tetapi motif tenun Bali pun telah mulai dikerjakan di luar Bali.
Kondisi serupa pun, tambah Putri Koster juga dialami pada kain songket Bali. Dimana motif songket digunakan pada bordir yang diproduksi dengan teknologi mesin. Hal ini tentu saja berdampak pada kelestarian songket Bali ke depannya.
“Padahal, baik songket maupun tenun endek kita sudah memiliki hak Kekayaan Intelektual Komunal. Namun masih banyak terjadi pelanggaran terhadap hak tersebut. Motif songket masih dijiplak dan banyak kain tenun yang tidak diproduksi di daerah asalnya (Bali, red),” terangnya.
Karena itulah sebagai Ketua Dekranasda, ia merasa terpanggil dan ikut bertanggungjawab terhadap kelestarian kain tenun tradisional Bali, tidak hanya terkait kejayaan tenun tetapi juga masalah dihadapi dunia sandang warisan leluhur Bali tersebut.
“Jika kondisi dan perilaku ini kita biarkan berlangsung terus menerus, maka lambat laun kita akan kehilangan warisan leluhur yang harus kita jaga kelestariannya. Tidak hanya itu banyak perajin akan menganggur karena tidak ada yang menjual kain hasil perajin, pasar kita diambil dan pergerakan uang juga keluar Bali sehingga ekonomi kita menjadi lemah,” tuturnya.
Untuk itu, ia senantiasa mengajak masyarakat untuk berhati-hati dan memastikan saat membeli kain tenun dndek agar membeli kain yang diproduksi oleh para pengrajin Bali.
“Endek Bali seharusnya lestari di tanahnya sendiri dan mampu berkembang sesuai perkembangan zaman. Kita patut bangga akan kerajinan yang kita miliki, dengan demikian para perajin juga akan semakin bersemangat untuk berkarya dan memperbaiki kualitas produknya menjadi lebih baik,” tegasnya.
Maka itu, pihaknya pun rutin menggelar IKM Bali Bangkit yang dirangkai dengan peragaan busana berbahan kain tenun. Pada kegiatan ini ratusan pakaian berbahan tenun terjual di pasaran dan membuat perajin tersenyum.
“Penyelenggaraan pameran ini juga memantik semangat kita semua semakin lekat dengan karya daerah sendiri,” ucapnya.
Turut hadir pada kegiatan itu, Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana, Ketua Gatriwara Provinsi Bali Ningsih Wiryatama, Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Bali Widiasmini Indra, perwakilan BPD Bali serta undangan lainnya. (adhi/sut)