Search

Home / Kolom / Editorial

Awali Leterasi dari Karya Sastra

Editor   |    27 Mei 2024    |   18:28:00 WITA

Awali Leterasi dari Karya Sastra
Ilustrasi karya sastra. (freepik)

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum telah diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) untuk membangun tingkat literasi yang baik, patut diapresiasi.

Walau program yang baru diluncurkan pada Senin (20/5/2024) tersebut terbilang terlambat, namun lebih baik daripada tidak sama sekali.  

Sastra Masuk Kurikulum adalah program yang potensial, tetapi ibarat “sesat di ujung jalan, kembali ke pangkal jalan”. Seharusnya, sejak dulu negara menyadari bahwa membangun literasi yang baik bisa dilakukan melalui karya sastra.

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara dari dulu sudah sangat eksplisit menjelaskan bahwa literasi itu salah satunya dikembangkan melalui pelajaran bahasa Indonesia. Tidak hanya sekadar mengenal huruf tapi mendekatkan anak-anak dengan karya sastra.

Apabila anak-anak membaca sastra, maka mereka akan mencintai bahasa dan meningkatkan literasi mereka. Karena mereka akan membiasakan diri dengan setiap hari membaca karya-karya sastra mengenai kehidupan sehari-hari. Sehingga, belajar sastra sebenarnya tidak hanya belajar membaca, menulis, tapi juga belajar kehidupan sehari-hari.

Kondisi buruknya literasi di Indonesia karena literasi hanya sekadar slogan yang dipasang tanpa memberikan pengaruh apa pun. Pemerintah selama ini hanya selalu sibuk membuat slogan Kota Literasi, Sadar Literasi dan Pojok Kampung Baca. Itu semua hanya slogan. Slogan tidak pernah memberikan efek apa pun terhadap literasi anak-anak.

Jika anak-anak ingin memiliki kebiasaan membaca buku, maka dekatkan mereka dengan buku-buku yang mampu membangkitkan imajinasi. Salah satunya melalui karya sastra. Namun tetap diperlukannya menentukan bobot karya sastra untuk masing-masing jenjang sekolah.

Bukan malah mendekatkan mereka dengan buku-buku ilmiah yang strukturalis, justru dekatkan anak-anak dengan buku cerita mereka sehari-hari melalui karya sastra. Dalam setiap level SD, SMP, SMA harus ada bobot karya sastra yang terpilih sehingga mereka memahami sebuah konflik.

Perkembangan teknologi merupakan sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, program Sastra Masuk Kurikulum ini juga harus turut beradaptasi. Karena generasi sekarang memiliki cara mereka sendiri dalam mempelajari suatu hal.

Generasi sekarang punya era sendiri, punya zamannya sendiri. Sehingga, perlu pendekatan-pendekatan teknologi agar anak-anak itu dengan teknologi mereka bisa mencintai sastra.

Terakhir, program ini akan dapat berjalan dengan baik sepanjang memiliki komitmen, disiplin, dan konsistensi. Jika program ini memiliki ketiga hal itu, maka tujuan membangun literasi yang baik kepada generasi muda niscaya akan tercapai.

Untuk pegiat sastra, setelah  dibangunnya wacana ini oleh pemerintah. Maka, mereka yang bergulat di dunia kesusastraan mesti meresponsnya dengan baik. Karena harkat dan martabat belajar sastra adalah meningkatkan literasi. (*)


Baca juga: Ulah Kepo Netizen Tak Selalu Buruk