Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Kisahkan Raja Berwatak Seperti Singa

Oleh Editor • 23 Juni 2024 • 18:43:00 WITA

Kisahkan Raja Berwatak Seperti Singa
Penampilan Sekehe Gong Dharma Pradangga dari Buleleng yang mempersembahkan fragmentary Ngeraja Singa di PKB ke-46, Sabtu (22/6/2024) di Denpasar. (foto/adhy)

DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Sekehe Gong Dharma Pradangga dari Buleleng, memukau ribuan penonton pada gelaran Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa, Pesta Kesenian Bali ke-46 dengan membawakan garapan  fragmentari "Ngeraja Singa" di Panggung Terbuka Ardha Candra, Denpasar, Sabtu, (22/6/2024).

Pembina Sekehe Gong Dharma Pradangga, Komang Trisna Ardiana mengungkapkan bahwa sekehe gong yang sudah memulai latihan sejak 14 Januari lalu, membawakan beberapa garapan seperti Tabuh Kreasi Pepanggulan "Gagak Gora", Tari Wiranjaya, dan Fragmentari "Ngeraja Singa" dengan mebarung bersama Sekaa Gong Batur Mahaswara Duta Kabupaten Gianyar.

Ardiana menjelaskan konsep dari Fragmentari Ngeraja Singa mengisahkan seorang raja yang berwatak seperti singa. Di mana singa itu adalah hewan yang dengan haus kepuasan atau kekuasaan yang dikaitkan dengan kisah Ki Barak Panji Sakti.

"Garapan ini di adopsi dari kisah Ki Barak Panji Sakti dari lahir beliau kita ceritakan sampai akhirnya berperang menyerang ke Belambangan,"jelasnya.

Selain garapan fragmentari yang disambut meriah oleh penonton, garapan tabuh Gagak Gora yang mengisahkan pandangan kepada burung gagak memiliki seni tinggi yang bisa membuat sarang sehingga terlihat cantik.

“Dan burung gagak ini juga di kenal sebagai kesadaran sensorik dengan mengombinasikan dengan pola gending kekebyaran dan lelongoran tradisional khas Buleleng,” ujarnya.

Tidak hanya itu, juga ditampilkan Tari Wiranjaya yang merupakan tari kakebyaran Buleleng yang terdapat di daerah Dauh Enjung. Tari ini diciptakan oleh seniman asli Bali Utara yang kerap dipanggil Nang Ayon atau I Ketut Merdana dan dikembangkan oleh Putu Sumiasa pada tahun 1957.

"Astungkara penampilan kita berjalan baik dan tidak mengecewakan penonton, karena ini mengambil cerita sejarah Buleleng," tutupnya. (adhy/suteja)