Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Cerita Tolerasi Agama dari Masjid di Tabanan

Oleh Editor • 07 Juli 2024 • 21:54:00 WITA

Cerita Tolerasi Agama dari Masjid di Tabanan
Bupati Sanjaya meresmikan Masjid Agung Al-Muhajidin Tabanan, Minggu (7/7/2024) di Tabanan. (foto/adi)

MASJID Agung Al-Muhajidin Tabanan mempunyai cerita menarik tentang bagaimana kerukunan dan tolerasi antarumat beragama terjalin harmonis.

Cerita nyata yang menjadi simbol tolerasi beragama di wilayah Lumbung Beras Bali ini diungkapkan Bupati Tabanan, Komang Gede Sanjaya saat meresmikan Masjid Agung di Kota Tabanan itu pada Minggu (7/7/2024).

Peresmian masjid yang baru usai direnovasi ini bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Islam 1446 Hijriah.

Bupati Sanjaya mengungkapkan bahwa sebagai seorang yang lahir dan tumbuh dewasa di Kota Tabanan, ia sangat mengenal sejarah masjid terletak di Jalan Kamboja nomor 14, Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan tersebut.

Sanjaya mengatakan, ia menjadi saksi mata tentang bagaimana tolerasi keagamaan yang terjalin antara umat Muslim dan Hindu di dekat lokasi masjid pertama di Tabanan itu. Masjid ini tepat berada dekat dengan Bale Banjar Adat Delod Rurung yang sekelilingnya mayoritas tinggal warga umat Hindu.

“Kenapa saya katakan unik, karena dalam setiap momen keagamaan, keduanya seperti saling melengkapi. Jika terdapat kegiatan di masjid, tidak pernah mengganggu kegiatan yang ada di balai banjar. Demikian juga sebaliknya, ketika di balai banjar ada kegiatan seperti pembuatan ogoh-ogoh dan latihan megambel, semuanya berjalan harmonis,”ungkapnya.

“Inilah sejatinya toleransi dalam aksi nyata. Inilah sejatinya persatuan yang sering dikumandangkan oleh Bung Karno. Inilah roh masyarakat kita di Tabanan, raket, rukun dan guyub,” imbuhnya.

Lalu seolah vibrasi tolerasi harmonis kehidupan masyarakat antara umat beragama Hindu dan Muslim yang dapat saling berdampingan ini kemudian menarik sejumlah tokoh penting mengunjungi masjid terbesar di Tabanan tersebut.

Di antara tokoh itu adalah mantan Ketua MPR RI Taufik Kiemas dan Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Kedatangan tokoh-tokoh tersebut, seakan memberikan legacy bahwa masjid ini menjadi masjid yang memiliki sejarah panjang dan patut diabadikan sebagai masjid pertama yang ada di Kabupaten Tabanan,” kata Sanjaya.

Untuk itu, Sanjaya kemudian menyarankan pihak yayasan untuk membuat sebuah narasi yang mampu memberikan gambaran sejarah yang utuh kepada generasi mendatang tentang kehidupan harmonis tolerasi beragama masyarakat Tabanan.  

"Hal ini penting, untuk memberikan pemahaman bahwa para leluhurnya dari dahulu telah mengajarkan dan mewariskan nilai-nilai toleransi yang begitu mengakar serta komitmen bersama untuk nindihin gumi Tabanan dengan prinsip dasar jele melah gumi gelah, jele melah nyame gelah. Inilah spirit yang telah kita wariskan dari jaman dahulu,” terang Sanjaya.

Selanjutnya, Ketua Yayasan Masjid Agung Al Mujahidin, Muammad Jaya Rachmat menambahkan bahwa hal itu menjadi bukti nyata tentang masyarakat yang berbeda agama dapat hidup harmonis penuh toleransi.

"Masjid ini milik masyarakat Tabanan, baik masyarakat yang seiman maupun tidak. Karena inilah Tabanan dianugerahi Harmony Award. Keharmonisan umat di Tabanan sudah terbukti dan harus selalu dijaga ke depannya," tegasnya. (adi/suteja)