Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Kritik Sosial Lewat Seni Justru Buat Luruskan Masalah

Oleh Editor • 26 Februari 2025 • 23:26:00 WITA

Kritik Sosial Lewat Seni Justru Buat Luruskan Masalah
Band Sukatani. (dok/sukatani)

KASUS penghapusan lagu berjudul Bayar Bayar Bayar milik band punk Sukatani dari platform music yang diduga atas tekanan dari pihak Kepolisian memantik protes dari warganet.  

Pasalnya, warganet menilai tindak polisi tersebut sebagai upaya intimidasi menghalangi kebebasan berekspresi terutama terkait karya seni.

Sejumlah seniman dan akademisi juga menyampaikan protes mereka. Salah satunya, Puji Karyanto, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair). Ia sangat menyayangkan penarikan lagu sebagai bentuk karya seni itu.

Bagi Puji keputusan untuk menarik lagu itu menunjukkan bahwa terjadi ketegangan terkait kebebasan berekspresi di dunia seni.

“Pernyataan maaf oleh band Sukatani justru menjelaskan hal yang sebaliknya, bahwa pernyataan tersebut berlandaskan pada adanya tekanan dari pihak lain,” kata Puji Karyanto melalui keterangan tertulisnya, Rabu (26/2/2025).

Ekspresi dalam Seni

Puji menjelaskan bahwa karya seni yang tertuang dalam lagu Sukatani justru patut mendapatkan apresiasi. Sebab, menunjukkan nilai-nilai kritik yang bertujuan meluruskan masalah sosial di sekitar. Hal itu selaras dengan konsep kesenian yang ia sebutkan, dulce et utile. Yaitu ekspresi seni yang bagus bukan hanya sekadar menyenangkan, tetapi juga memiliki kegunaan.

“Tidak ada batasan khusus dalam kebebasan berekspresi yang tertuang pada suatu karya seni. Semua alternatif ekspresi seni itu dimungkinkan. Tetap perlu kita pahami bahwa seni merupakan entitas yang tidak bisa berdiri sendiri di sebuah ruang kebudayaan, melainkan terikat dengan norma dan etika yang berlaku pada ruang kebudayaan masyarakat setempat,” jelasnya.

Seni Menghadirkan Kebaruan

Menurut pandangan Puji, hakikat seni memang menghadirkan kebaruan atau dengan kata lain dapat berarti melawan kemapanan. Semestinya, tidak ada alasan apa pun bagi pihak lain untuk melakukan intimidasi terhadap suatu karya seni.

Lebih lanjut, makna sensor dan batasan ekspresi itu justru ada pada seniman itu sendiri, sesuai ideologi dalam ekspresi seninya.

“Ketika terjadi tindakan intimidasi dari pihak lain terhadap suatu karya seni, langkah yang dapat dilakukan yakni mengkamuflase isi pesan yang dapat berupa sarana simbolik. Bisa juga dengan merapatkan barisan sesama seniman melalui suatu organisasi. Sehingga jika terjadi intimidasi dapat menjadi common enemy untuk semua pelaku seni,” ungkapnya.

Di satu sisi, Puji mengatakan bahwa perlu terdapat pemahaman seni untuk suatu karya seni. Ia mengimbau para seniman untuk tetap selektif dalam menyampaikan pesan melalui karya seni.

“Cerdaslah dalam menyampaikan pesan melalui kesenian. Agar pesannya tetap tersampaikan, tetapi tidak kehilangan esensinya sebagai kesenian,” pungkasnya. (riki/suteja)