Podiumnews.com / Khas /

Bupati Eka Promosikan Desa Wisata di UGM

Oleh Podiumnews • 14 September 2017 • 11:37:48 WITA

Bupati Eka Promosikan Desa Wisata di UGM
Diskusi Buku Investasi Hati Goes to Campus di University Club UGM (Universitas Gadjah Mada)

JOGJA, podiumnews.com - Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti semakin intens memberdayakan ekonomi kerakyatan dengan mengoptimalisasi keberadaan desa. Setidaknya, fokus arah pembangunan tersebut semakin terlihat di masa kepemimpinannya yang kedua di Kabupaten Tabanan. Hal tersebut sejalan dan arah pembangunan Presiden Joko Widodo yang menekankan pembangunan dari kawasan pinggiran.
 
Beberapa implementasi dari pemberdayaan ekonomi kerakyatan tersebut salah satunya telah digulirkan lewat program Desa Wisata yang telah dijalankan di beberapa desa di Kabupaten Tabanan. Dengan program ini, nantinya desa-desa yang ada di Tabanan mampu berkembang secara mandiri dan pada akhirnya bisa membantu mensejahterakan masyarakat.
 
Hal itu terungkap dalam Diskusi Buku Investasi Hati Goes to Campus di University Club UGM (Universitas Gadjah Mada) pada Kamis (14/9). Melalui kesempatan itu, Bupati Eka mempromosikan keberadaan desa-desa wisata yang ada di Tabanan. Serta, upaya-upaya pemerintahannya dalam memberdayakan seluruh desa, salah satunya melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
 
Menurutnya, keberadaan desa wisata merupakan salah satu bentuk program Investasi Hati. Sebuah konsep pelayanan kepada masyarakat dengan ketulusan melalui kebijakan-kebijakan yang pro rakyat.
 
“Bagaimana kita tulus dalam melayani rakyat lewat kebijakan-kebijakan pemerintah sehingga akhirnya derajat masyarakat bisa diangkat. Intinya perjuangan dengan hati,” katanya.
 
Saat disinggung awak media apakah desa wisata yang rencananya akan dikembangkan sebagai proyek nasional bisa diterapkan di wilayah lainnya, Bupati Eka secara tegas menyebutkan bahwa hal tersebut bisa saja dilakukan.
 
“Bisa. Tapi kembali ke niat dan tidak putus asa saja. Kalau gagal, dicoba terus,” ujarnya.
 
Diakuinya, untuk mengenalkan konsep desa wisata di awalnya memang tidak mudah. Terlebih, tantangan terberatnya adalah merubah mind set masyarakat yang semula dominan bermatapencaharian sebagai petani dan mendadak banting setir ke sektor pariwisata.
 
“Yang paling berat adalah merubah mind set masyarakat. Tapi kita jangan putus asa begitu saja. Terus berikan pemahaman ke masyarakat. Bahwa, dengan desa wisata, mereka akan menjadi desa yang mandiri. Dan, yang menikmati hasilnya juga masyarakat desa itu sendiri,” ungkapnya.
 
Dalam hal ini, sambung dia, pemerintah menempatkan diri sebagai pembina dan membimbing. Desa dibantu dengan sarana prasarana penunjang dan SDM masyarakatnya diperkuat melalui pelatihan-pelatihan.
 
“Pemerintah juga tidak boleh melepas begitu saja. Harus tetap menyiapkan sarana prasarana. Tidak boleh dilepas begitu saja. Bagaimana ibu-ibu PKK diajarkan mengolah menu kuliner tradisional tapi disajikan secara bersih. Lalu anak-anak muda desa tersebut dibekali keterampilan komunikasi dengan pelatihan bahasa Inggris,” imbuhnya.
 
Dengan seperti itu, sambungnya, desa wisata akan memberikan pengalaman berlibur atau berwisata yang berkesan bagi pengunjungnya. “Jadi wisatawan itu akan punya memori. Serasa punya kampung sendiri. Saya rasa ini model pariwisata yang menyentuh psikologi wisatawan,” pungkasnya. (KP-TIM)