Jejak Nyepi dalam Tradisi Dunia
KEHENINGAN Nyepi, yang menyelimuti Bali setiap tahun, bukan fenomena yang sepenuhnya asing di belahan dunia lain. Meski tak identik dalam ritual, esensi Nyepi—refleksi diri, pembersihan, dan jeda dari hiruk-pikuk—terpantul dalam berbagai tradisi kuno.
Di tanah Aborigin Australia, misalnya, terdapat periode "Waktu Mimpi" (Dreamtime) di mana komunitas tertentu menarik diri dari kesibukan, merenungi hubungan mereka dengan alam dan leluhur. Keheningan menjadi medium untuk mendengarkan bisikan leluhur dan memahami alam semesta. Serupa dengan Nyepi, jeda ini adalah ruang kontemplasi.
Tradisi puasa, yang lazim di berbagai agama, juga mencerminkan semangat Nyepi. Bukan sekadar menahan lapar, puasa adalah upaya membersihkan diri dari nafsu duniawi. Umat Yahudi dengan Hari Sabat-nya, misalnya, menghentikan aktivitas kerja sebagai bentuk penghormatan pada Sang Pencipta. Seperti Nyepi, ini adalah waktu untuk merenung dan beribadah.
Di Indonesia sendiri, tradisi "Paca Goya" di Tidore, Maluku Utara, menyerupai Nyepi dalam beberapa hal. Selama tiga hari, masyarakat menghentikan aktivitas untuk membersihkan lingkungan dan diri. Paca Goya, seperti Nyepi, adalah ritual kolektif untuk memulihkan keseimbangan antara manusia dan alam.
Bahkan, retret spiritual di berbagai tradisi dunia menawarkan kesamaan esensi. Para pencari hikmah mengasingkan diri, menjauh dari keramaian, untuk merenungkan makna hidup. Keheningan menjadi medium untuk mencapai pencerahan, seperti halnya Nyepi bagi masyarakat Bali.
Meski Nyepi unik dalam skala dan ritualnya, ia bukanlah anomali. Ia adalah bagian dari narasi universal manusia untuk mencari keseimbangan, keheningan, dan makna di tengah gemuruh kehidupan. Ia adalah cermin yang memantulkan kerinduan kita akan jeda, refleksi, dan harmoni—nilai-nilai yang melampaui batas-batas budaya dan agama.
(isu/suteja)