Harmoni Dewata: Toleransi Bersemi di Bali
BALI pulau yang dijuluki "Pulau Dewata" ini, di mana aroma dupa berpadu dengan semilir angin laut, toleransi bukan sekadar kata-kata indah, melainkan denyut nadi kehidupan sehari-hari.
Bali, dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, telah lama menjadi rumah yang ramah bagi umat beragama lain.
Di sudut Denpasar, Masjid Raya Nurul Huda berdiri kokoh, beriringan dengan Pura Jagatnatha yang megah.
Adzan dan suara gamelan berpadu dalam simfoni harmoni, mengingatkan bahwa perbedaan adalah anugerah, bukan pemisah.
"Kami hidup berdampingan dengan damai," ujar Haji Ismail, seorang tokoh Muslim di Desa Pegayaman, Buleleng.
"Kami saling menghormati dan mendukung dalam setiap kegiatan keagamaan."
Di Desa Sawan, Buleleng, tradisi "ngejot" menjadi simbol indah toleransi. Saat Hari Raya Galungan, umat Muslim ikut serta membuat dan mengantarkan "jaja uli" kepada tetangga Hindu mereka.
Pada Hari Raya Idul Fitri, giliran umat Hindu yang mengantarkan makanan kepada tetangga Muslim.
"Kami adalah saudara," kata Jero Mangku Alit, seorang pemangku adat di Desa Sawan.
"Perbedaan agama tidak menghalangi kami untuk saling berbagi dan peduli."
Toleransi di Bali bukan hanya tentang hidup berdampingan, tetapi juga tentang kerja sama. Umat beragama bersama-sama menjaga lingkungan, bergotong-royong membangun desa, dan merawat warisan budaya.
Namun, bukan berarti perjalanan toleransi ini tanpa tantangan. Sesekali, riak-riak kecil perbedaan pendapat muncul, dihembuskan oleh oknum-oknum yang mencoba memecah belah. Tetapi, semangat
"menyame braya" (persaudaraan) selalu menang, meredam api kebencian dan menyuburkan benih-benih persatuan.
Bali, dengan segala keindahan alam dan budayanya, telah menjadi contoh bagi dunia tentang bagaimana perbedaan agama dapat menjadi kekuatan, bukan kelemahan. Di pulau ini, toleransi bukan hanya slogan, tetapi napas kehidupan yang dihirup setiap hari.
"Kami berharap, harmoni ini akan terus terjaga hingga generasi mendatang," doa Ida Pedanda Gede Made Gunung, seorang tokoh Hindu terkemuka di Bali.
"Semoga Bali tetap menjadi pulau yang damai dan penuh toleransi." (fathur)