Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Dokar Klungkung, antara Kenangan dan Kenyataan

Oleh Podiumnews • 05 April 2025 • 18:31:00 WITA

Dokar Klungkung, antara Kenangan dan Kenyataan
Ilustrasi Dokar. (podiumnews)

KLUNGKUNG, PODIUMNEWS.com - Mentari pagi perlahan merayap di atas Catur Muka, Klungkung. Di tengah hiruk pikuk kendaraan bermotor, suara derap kaki kuda dan derit roda dokar masih terdengar, meski semakin sayup. Dokar, saksi bisu kejayaan masa lalu, kini terhimpit zaman.

Pak Made, seorang sopir dokar berusia senja, menyeka peluh di dahinya. "Dulu, jalanan ini penuh dokar. Puluhan. Sekarang, hitungan jari," ujarnya, dengan nada getir, saat ditemui Sabtu (5/4/2025). "Anak muda sekarang lebih memilih motor, lebih cepat katanya."

Di atas dokar, seorang ibu paruh baya, Bu Ani, memandang sekeliling dengan mata berkaca-kaca. "Dulu, setiap ke pasar, saya selalu naik dokar bersama ibu. Ramai, seru. Sekarang, sepi. Tapi, naik dokar ini seperti membawa saya kembali ke masa lalu," tuturnya, sambil mengelus ukiran di badan dokar.

Memang, dokar bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol kota, bagian dari identitas Klungkung. Namun, roda zaman terus berputar, dan dokar kian terpinggirkan. Biaya perawatan kuda dan kereta yang tinggi, ditambah persaingan dengan kendaraan modern, membuat para sopir dokar kesulitan bertahan.

"Susah sekarang. Cari penumpang. Sekali narik, paling dapat sepuluh ribu. Itu pun belum cukup untuk biaya makan kuda," keluh Pak Made.

Namun, di tengah kesulitan, mereka tetap teguh. Mereka bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan. Dokar adalah bagian dari jiwa kota Klungkung, kenangan yang tak boleh pudar.

Pemerintah dan masyarakat Klungkung memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dokar. Berbagai upaya perlu dilakukan, mulai dari memberikan subsidi, mengembangkan paket wisata budaya, hingga mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga tradisi. Sebab, jika derap kaki kuda dan suara lonceng dokar berhenti, bukan hanya alat transportasi yang hilang, tetapi juga sebagian dari identitas dan kenangan kota raja ini. (fathur)