IBTK Sakralkan Huluning Bali
KARANGASEM,PODIUMNEWS.com - Pura Agung Besakih, bukan sekadar tempat ibadah. Ia "Huluning Bali Raja", pusat Kerajaan Bali Kuno, kini kembali menyelenggarakan Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK). Nilai sejarahnya, yang tertuang dalam lontar dan prasasti, menegaskan kesakralan kawasan ini.
"Tolangkir", demikian Gunung Agung disebut dalam teks kuno, yang berarti "Dia Yang Mahatinggi, Mahamulia, Mahaagung". Besakih, di lerengnya, adalah "Madyaning Bhuwana", pusat dunia. Di masa lalu, ia "Hila-Hila Hulundang Ing Basukih", kawasan suci yang dipantangkan untuk dimasuki sembarangan.
Gubernur Koster, dalam rakor persiapan IBTK, Sabtu (5/4/2025), mengingatkan kembali warisan agung ini. Bukan sekadar seremoni, IBTK adalah ritual untuk menjaga kesucian dan keagungan Besakih, sekaligus menghormati leluhur.
"Kita sudah berutang banyak dengan Ida Bhatara yang ada disini," ujar Koster, menegaskan pentingnya "ngayah" (mengabdi) dengan tulus.
Namun, menjaga kesakralan Besakih bukan hanya tugas pemerintah. "Pamedek" (umat) juga memiliki tanggung jawab. Surat Edaran Gubernur Bali tentang tatanan saat memasuki Besakih, diharapkan dipatuhi.
"Setiap tahun kita evaluasi, apanya yang kurang, kita perbaiki," kata Koster, menunjukkan komitmen untuk menjaga kelestarian Besakih.
IBTK, bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah napas peradaban Bali, yang menghubungkan masa lalu, kini, dan nanti. Besakih, dengan segala nilai sejarahnya, tetap menjadi pusat spiritual yang sakral. (fathur)