Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Ketika Kamasan Bicara Lewat Warna

Oleh Podiumnews • 10 April 2025 • 17:28:00 WITA

Ketika Kamasan Bicara Lewat Warna
Ilustrasi orang melukis. (Foto: Dewa)

KLUNGKUNG, PODIUMNEWS.com - Sudut desa Kamasan, Klungkung, Bali, waktu seolah berhenti berputar. Aroma dupa dan cat alami berbaur, menciptakan atmosfer sakral yang menyelimuti setiap sudut studio lukisan.

Tangan-tangan renta para seniman dengan sabar menorehkan kuas, menghidupkan kembali kisah-kisah epik Ramayana dan Mahabharata dalam guratan warna-warni yang memukau.

Lebih dari sekadar lukisan, Wayang Kamasan adalah jendela menuju jiwa masyarakat Bali. Setiap karakter, setiap adegan, terukir dengan detail yang penuh makna, menyampaikan nilai-nilai luhur dan filosofi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Warna-warna cerah bukan sekadar estetika, tetapi simbol-simbol yang mengandung kekuatan magis, penanda status sosial, hingga representasi emosi.

Namun, di balik keindahan dan kesakralan itu, tersimpan kisah perjuangan para seniman. Mereka adalah penjaga tradisi, benteng terakhir yang mempertahankan warisan budaya di tengah arus modernisasi.

Dengan upah yang tak seberapa, mereka terus berkarya, mengabdikan hidupnya untuk seni yang mereka cintai.

"Melukis Wayang Kamasan bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa," ujar Mangku Mura, seorang seniman senior dengan mata yang teduh, saat ditemui Kamis (10/4/2025).

"Setiap goresan kuas adalah doa, harapan, dan pengabdian kepada para leluhur."

Di tengah gempuran teknologi dan hiburan modern, lukisan Wayang Kamasan tetap memancarkan pesonanya.

Turis asing datang berbondong-bondong, terpukau oleh keindahan dan keunikan seni lukis klasik ini.

Namun, tak banyak yang tahu, di balik gemerlap pariwisata, tersimpan kekhawatiran para seniman tentang regenerasi.

"Kami khawatir, siapa yang akan meneruskan tradisi ini?" keluh Ni Made Suci, seorang pelukis perempuan muda dengan semangat membara.

"Anak-anak muda sekarang lebih tertarik pada gadget dan media sosial. Kami takut, suatu hari nanti, Kamasan hanya tinggal kenangan."

Keraguan dan ketidakpastian, semangat para seniman Kamasan tak pernah padam. Mereka terus berkarya, menciptakan lukisan-lukisan baru dengan harapan, warisan budaya mereka akan terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang.

Lukisan Wayang Kamasan bukan hanya sekadar karya seni, tetapi juga simbol identitas, kebanggaan, dan harapan.

Ia adalah suara hati masyarakat Bali, yang terus bergema, menyampaikan pesan-pesan bijak tentang kehidupan, cinta, dan pengabdian. (fathur)