Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Untuk Jaga Budaya, Koster Usul Empat Anak Bukan Dua

Oleh Editor • 13 April 2025 • 18:07:00 WITA

Untuk Jaga Budaya, Koster Usul Empat Anak Bukan Dua
Gubernur Koster. (foto/fathur)

DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Gubernur Bali, Wayan Koster, kembali menegaskan pentingnya program Keluarga Berencana (KB) empat anak sebagai upaya melestarikan budaya Bali. Ia menilai, program KB dua anak yang selama ini diterapkan dapat mengancam eksistensi budaya dan populasi masyarakat Bali.

"Di Bali bukan persoalan jumlah siapa yang datang ke Bali, tetapi siapa yang kita ajak untuk mengurus budaya," ungkap Koster saat menghadiri Kongres Daerah XI IA ITB Pengda Bali di Duta Orchid Garden, Minggu (13/4/2025).

Menurut Koster, budaya adalah satu-satunya keunggulan yang dimiliki Bali. Jika budaya tersebut hilang, maka identitas Bali akan lenyap. Ia mencontohkan, tradisi mebanjar, ngelawar, perayaan Purnama-Tilem, Odalan, Galungan, Kuningan, dan Ngaben, akan terancam jika populasi masyarakat Bali terus menurun.

"Saya sedang bekerja keras untuk memproteksi budaya Bali ini. Kalau tidak, bahaya. Bali ini keunggulannya cuma satu. Cuma budaya, di luar itu tidak ada. Kalau kebudayaan Bali ini tidak dijaga dengan baik, wilayahnya kecil, penduduknya sedikit, siapa yang akan mengurusnya ke depan?" imbuh Koster.

Ia menilai, program KB dua anak akan mempercepat penurunan populasi orang Bali, sehingga mengancam keberlangsungan budaya. Oleh karena itu, ia mengusulkan program KB empat anak sebagai solusi.

Usulan Koster ini mendapat dukungan penuh dari para alumni ITB yang hadir dalam kongres tersebut. Mereka bahkan berfoto bersama dengan pose empat jari sebagai simbol dukungan.

Ketua Umum IA ITB Pengda Bali, Cokorda Alit Indra Wardhana, menyatakan bahwa kongres tersebut merupakan ajang konsolidasi alumni ITB di Bali, sekaligus bentuk komitmen kontribusi terhadap pembangunan daerah. "IA ITB Bali siap mendukung program strategis Pemerintah Provinsi Bali, mulai dari penguatan SDM, teknologi terapan, transisi energi, hingga digitalisasi berbasis kearifan lokal," tuturnya. (fathur/suteja)