Jejak Pandemi, Asa Pariwisata, Jiwa Budaya Bali
GIANYAR, PODIUMNEWS.com - Mentari sore memeluk hamparan sawah Ubud yang menghijau. Suara gamelan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, berpadu dengan riuh rendah wisatawan yang kembali memadati jalanan.
Dua tahun lebih dihantam pandemi, denyut nadi pariwisata Bali kini berangsur pulih.
Namun, kebangkitan ini membawa serta tantangan pelik: bagaimana mempertahankan ruh budaya Bali di tengah derasnya arus modernisasi dan ekspektasi wisatawan global?
Ni Made Sukerti, pemilik warung nasi di kawasan Pengosekan, Ubud, menghela napas lega. Setelah berbulan-bulan sepi, kini warungnya kembali ramai dikunjungi turis.
"Dulu, sepi sekali. Hanya mengandalkan pesanan dari warga lokal. Sekarang, turis sudah mulai banyak lagi," ujarnya sambil tersenyum saat ditemui, Kamis (17/4/2025).
"Tapi, kadang saya khawatir. Banyak yang datang hanya untuk foto-foto saja, kurang menghargai upacara atau tradisi kami," sambungnya.
Kekhawatiran Ni Made bukan tanpa alasan. Bali, dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, menjadi magnet bagi jutaan wisatawan setiap tahun. Namun, tak jarang, perbedaan budaya memicu gesekan.
Kasus turis asing yang tidak menghormati tempat suci atau melanggar norma sosial menjadi perhatian serius.
Pemerintah Provinsi Bali sendiri menyadari betul tantangan ini. Peringatan keras Gubernur terhadap turis nakal adalah salah satu upaya untuk menjaga citra Bali sebagai destinasi yang berbudaya.
Pengetatan pajak pariwisata juga diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi pelestarian lingkungan dan budaya.
Di sisi lain, anak-anak muda Bali juga tak tinggal diam. Mereka memanfaatkan teknologi dan kreativitas untuk memperkenalkan budaya Bali kepada dunia dengan cara yang lebih menarik bagi generasi muda.
Komunitas-komunitas seni digital, fashion etnik modern, hingga kuliner inovatif bermunculan, menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan.
"Kami cinta budaya Bali, dan kami ingin melestarikannya," kata Gede Surya, seorang desainer muda yang menggabungkan motifEndek dalam karyanya.
"Tapi, kami juga harus berinovasi agar budaya ini tetap relevan bagi generasi kami dan menarik bagi wisatawan."
Kebangkitan pariwisata Bali pasca pandemi adalah kabar baik bagi perekonomian pulau dewata. Namun, tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan pariwisata dan pelestarian budaya tetap menjadi pekerjaan rumah besar.
Kisah Ni Made dan Gede Surya adalah secuil gambaran tentang harapan, kekhawatiran, dan semangat untuk mempertahankan "jiwa" Bali di tengah perubahan zaman.
Upaya kolektif dari pemerintah, pelaku pariwisata, dan masyarakat lokal menjadi kunci untuk memastikan bahwa keindahan alam dan kekayaan budaya Bali tetap lestari untuk generasi mendatang. (fathur)