Langkah Muda, Gema Tradisi Era Kini
"Mentari senja memeluk langit Denpasar, mewarnai atap-atap rumah dengan jingga keemasan. Sementara denyut kehidupan modern kian terasa kuat, di sudut-sudut kota, semangat untuk menjaga warisan leluhur tetap menyala,"
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Jantung Kota Denpasar kian berdenyut, fenomena modernitas dan riuhnya notifikasi ponsel dan gemerlap layar, sekumpulan jiwa muda memilih jalan sunyi, namun penuh pesona.
Mereka penjaga bara tarian tradisional Bali, mewarisi gerakan anggun dan cerita purba terukir setiap liukan tubuh.
Jemari lentik mereka, sehari-hari mungkin mengetik pesan singkat, kini khidmat merangkai mudra (bahasa tangan) menyampaikan makna mendalam.
Kaki-kaki mereka, terbiasa melangkah trotoar beton, kini menapak lemah gemulai atas pentas, menghidupkan kembali kisah dewa-dewi dan semangat leluhur.
Bagi Ni Kadek Ayu, (17) tahun, menari bukan sekadar hobi, melainkan panggilan jiwa. Sejak usia belia, alunan gamelan telah merasuki sanubarinya, getarannya seolah memanggil-manggil warisan mengalir dalam darahnya.
"Menari itu seperti berbicara tanpa kata, setiap gerakan punya cerita, setiap irama membawa kita kembali masa lalu. Tengah ramainya dunia sekarang, tarian ini seperti oase, tempat saya menemukan kedamaian dan identitas," kata Ayu dengan antusias saat diwawancarai, Sabtu (19/4/2025).
Sanggar sederhana, antara aroma dupa dan kain prada berkilauan, Ayu dan teman-temannya berlatih tekun. Mereka mengulang setiap agem, setiap tandang, kesabaran luar biasa.
Terkadang, peluh membasahi wajah mereka, namun semangat menyempurnakan setiap detail tak pernah pudar.
Mereka sadar, melestarikan tarian bukan hanya soal mengulang gerakan, tetapi juga memahami filosofi dan nilai-nilai terkandung dalamnya.
Tantangan tentu saja ada. Godaan dunia modern segala hiburan instan dan tren berubah cepat seringkali menarik perhatian teman-teman seusia mereka.
Namun, bagi Ayu dan rekan-rekannya, pesona tarian tradisional Bali jauh lebih memikat.
Ada kebanggaan tersendiri saat mengenakan gelungan megah, saat mendengar denting ceng-ceng membahana, dan saat merasakan energi penonton terpukau keindahan gerakan mereka.
"Saya ingin teman-teman saya juga melihat betapa kayanya budaya kita," ujar Ayu nada penuh harap.
"Tarian ini bukan sekadar tontonan, tapi juga cerminan jati diri kita sebagai orang Bali. Setiap geraknya, ada sejarah, ada nilai luhur bisa kita pelajari dan banggakan."
Tengah gempuran modernitas tak terhindarkan, api semangat melestarikan tarian tradisional Bali terus berkobar dalam diri Ayu dan generasi muda lainnya.
Mereka garda terdepan penjaga warisan, memastikan gema langkah leluhur akan terus terdengar, tidak lekang dimakan zaman. (fathur)