Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Penampahan Maju, Makna Galungan Khawatir Bergeser

Oleh Podiumnews • 22 April 2025 • 21:26:00 WITA

Penampahan Maju, Makna Galungan Khawatir Bergeser
Ilustrasi tradisi penampahan. (Foto: Dewa)

  • KLUNGKUNG, PODIUMNEWS.com – Riuh rendah suara hewan ternak yang akan disembelih biasanya memadati pagi hari Penampahan Galungan.

Namun, ada fenomena menarik yang mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir di sejumlah wilayah Bali, di mana pelaksanaan Penampahan Galungan yang dimajukan satu hari.

Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran akan potensi perubahan makna dari rangkaian hari raya suci tersebut.

Jro Mangku Ketut (62), seorang pemangku di salah satu pura Kahyangan Tiga di kawasan Klungkung, dengan tenang mengamati fenomena ini.

Menurutnya, alasan utama pergeseran ini lebih didorong oleh pertimbangan praktis dan kesibukan masyarakat modern.

"Dulu, Penampahan itu jelas sehari sebelum Galungan. Masyarakat fokus mempersiapkan upacara dan menyembelih hewan sebagai simbol yadnya (persembahan suci) untuk menyambut hari kemenangan Dharma," tutur Jro Mangku Ketut di halaman pura yang asri, saat ditemui Selasa (22/4/2025).

"Namun, sekarang banyak yang bekerja, punya kesibukan lain. Mereka memilih memajukan Penampahan agar tidak terlalu terburu-buru saat Galungan tiba," lanjutnya.

Jro Mangku Ketut memahami betul tekanan zaman yang mempengaruhi ritme kehidupan masyarakat. Namun, ia juga menyampaikan kekhawatirannya akan potensi pergeseran makna filosofis di baliknya.

"Penampahan itu bukan sekadar menyembelih hewan. Ada makna mala (energi negatif) yang harus `ditaklukkan` sebelum merayakan kemenangan Dharma."

"Prosesi ini seharusnya dilakukan menjelang Galungan, sebagai persiapan spiritual dan fisik," jelasnya dengan nada bijaksana.

"Kalau dimajukan terlalu jauh, dikhawatirkan esensi `menaklukkan` itu bisa berkurang," sambungnya.

Beberapa warga berpendapat bahwa memajukan Penampahan sehari tidak mengurangi esensi ritual. Yang terpenting adalah niat tulus dan pelaksanaan yadnya itu sendiri.

Namun, sebagian lainnya merasa ada yang hilang dari kekhusyukan rangkaian hari raya ketika Penampahan tidak lagi beriringan erat dengan Galungan.

Jro Mangku Ketut tidak menyalahkan sepenuhnya pergeseran ini.

Ia melihatnya sebagai tantangan bagi para tokoh agama dan masyarakat untuk terus memberikan pemahaman yang benar tentang makna setiap rangkaian hari raya.

"Yang terpenting adalah edukasi. Kita harus terus mengingatkan generasi muda tentang makna sejati Galungan dan setiap ritual di dalamnya. Jangan sampai hanya menjadi rutinitas tanpa pemahaman mendalam," pesannya dengan harapan.

Fenomena pergeseran hari Penampahan Galungan ini menjadi cerminan bagaimana tradisi berinteraksi dengan modernitas.

Meskipun fleksibilitas diperlukan, menjaga esensi dan makna filosofis dari setiap ritual tetap menjadi tanggung jawab bersama agar Galungan tetap menjadi perayaan kemenangan Dharma yang sesungguhnya. (fathur)