Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Galungan Tiba, Ngelawang Pun Menjelajah

Oleh Editor • 23 April 2025 • 20:08:00 WITA

Galungan Tiba, Ngelawang Pun Menjelajah
Tradisi Ngelawang saat Hari Raya Galungan. (djkn.kemenkeu)

HARI Raya Galungan di Bali tidak hanya dirayakan dengan upacara keagamaan di pura, tetapi juga dimeriahkan dengan berbagai tradisi unik, salah satunya adalah Ngelawang.

Tradisi ini, yang sering dilakukan setelah Hari Raya Galungan, melibatkan arak-arakan Barong, terutama Barong Bangkung, berkeliling desa.

Ngelawang bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah ritual sakral yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Bali. Penelitian menunjukkan bahwa Ngelawang adalah cara untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan).  

Makna dan Tujuan Ritual Ngelawang

Secara etimologis, "Ngelawang" berasal dari kata "lawang" yang berarti pintu. Ini merujuk pada praktik berkeliling dari rumah ke rumah atau desa ke desa. Tujuan utama Ngelawang adalah untuk "tolak bala" atau mengusir roh-roh jahat dan pengaruh negatif yang dapat mengganggu ketenangan desa.

Tradisi ini diyakini mampu menetralisir energi negatif, terutama setelah perayaan Galungan yang melambangkan kemenangan Dharma atas Adharma.

Lebih dalam lagi, Ngelawang dimaknai sebagai tindakan membuka pintu dan diri terhadap kemenangan Dharma. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan untuk memohon keselamatan dan menangkal wabah penyakit.  

Asal Usul Mitologis dan Historis

Asal-usul Ngelawang erat kaitannya dengan mitologi Bali. Salah satu mitos yang tercatat dalam Lontar Barong Swari mengisahkan tentang Dewi Uma yang dikutuk menjadi Dewi Durga dan menyebarkan aura negatif di bumi. Untuk mengatasi hal ini, Dewa Iswara menjelma menjadi Barong, yang menjadi asal muasal tarian Barong dalam berbagai ritual, termasuk Ngelawang.

Mitos lain menyebutkan bahwa Sang Hyang Siwa mengutus para dewa untuk menghibur manusia yang sedang dilanda bencana, yang menjadi cikal bakal tradisi ini. Dari sudut pandang sejarah, Ngelawang diyakini telah ada sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun. Bahkan, dalam Lontar Siwa Gama, terdapat kata "menmen" yang diyakini memiliki makna serupa dengan Ngelawang, yaitu pemain atau pementasan.  

Simbolisme Suci Sang Barong

Barong memegang peran sentral dalam Ngelawang dan kaya akan simbolisme. Barong dipercaya sebagai perwujudan kekuatan suci pelindung.

Dalam beberapa interpretasi, Barong dianggap sebagai manifestasi Dewa Siwa atau Banas Pati Raja, penguasa hutan yang melindungi manusia dari bahaya. Barong Bangkung, dengan wujud babi hutan, melambangkan kekuatan, keganasan, dan kemampuan untuk mengusir energi negatif.

Kehadirannya dalam Ngelawang adalah representasi visual dari perlindungan yang berkeliling desa. Dalam kosmologi Bali, Barong sering dipasangkan dengan Rangda, yang melambangkan kekuatan jahat, merepresentasikan konsep Rwa Bhineda (dualitas).  

Pelaksanaan Ngelawang Saat Galungan

Ngelawang umumnya dilakukan setelah Hari Raya Galungan, seringkali hingga Hari Raya Kuningan. Prosesi ini melibatkan sekelompok orang, seringkali anak-anak dan remaja, yang berkeliling banjar atau desa sambil menarikan Barong diiringi musik gamelan. Pemilik rumah biasanya memberikan "canang sari" (persembahan bunga) dan sumbangan ("punia") sebagai bentuk penghormatan dan partisipasi dalam tradisi ini.

Sumbangan ini sering digunakan untuk pemeliharaan Barong. Di beberapa desa, Barong sakral dari pura setempat digunakan dalam ritual Ngelawang.  

Evolusi Tradisi dari Dulu Hingga Kini

Seiring waktu, Ngelawang mengalami pergeseran. Dahulu merupakan ritual sakral, kini sering menjadi pertunjukan seni dan hiburan, terutama yang dilakukan oleh anak-anak. Penelitian antropologis mencatat adanya transformasi tradisi Ngelawang, termasuk pergeseran dari sakral menjadi sekuler.

Meskipun demikian, esensi Ngelawang sebagai upaya tolak bala tetap dipertahankan. Keterlibatan anak-anak dalam tradisi ini menjadi cara untuk melestarikan budaya dan menanamkan nilai-nilai luhur sejak dini. Terdapat juga variasi regional dalam jenis Barong dan gaya pertunjukan.  

Signifikansi Sosial dan Spiritual

Ngelawang memiliki signifikansi sosial dengan memberikan hiburan dan mempererat tali persaudaraan antar warga. Dari segi spiritual, tradisi ini berfungsi sebagai pembersihan dan perlindungan dari energi negatif.

Ngelawang juga mencerminkan filosofi Tri Hita Karana, yaitu menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Dengan demikian, Ngelawang bukan hanya tradisi, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya dan spiritual masyarakat Bali. (isu/suteja)