Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Jejak Matrilineal dalam Perkawinan Nyentana

Oleh Podiumnews • 24 April 2025 • 17:09:00 WITA

Jejak Matrilineal dalam Perkawinan Nyentana
Pengantin wanita dalam adat Bali. (Foto: Dewa)

KUATNYA tradisi patrilineal yang umum di Indonesia, Bali memiliki keunikan dalam sistem perkawinan yang dikenal dengan nyentana. Tradisi ini memberikan kedudukan pewarisan kepada pihak perempuan, di mana mempelai laki-laki akan mengikuti (masuk) ke dalam keluarga perempuan.

Praktik nyentana menjadi ciri khas budaya Bali yang menarik untuk ditelisik lebih dalam, mencerminkan jejak matrilineal dalam masyarakatnya.

Penelusuran mendalam mengungkap bagaimana tradisi nyentana telah menjadi bagian dari sistem kekerabatan dan pewarisan di beberapa komunitas di Bali.

Meskipun tidak mendominasi seluruh Pulau Dewata, keberadaannya memberikan perspektif yang berbeda tentang peran gender dan garis keturunan dalam masyarakat Bali, menunjukkan pengaruh sistem matrilineal yang langka di Indonesia.

Membalik Garis Keturunan: Perempuan Sebagai Penerus (Tradisi Nyentana)

Secara harfiah, nyentana berasal dari kata sentana yang berarti keturunan. Dalam konteks perkawinan, nyentana berarti pihak laki-laki yang masuk atau mengikuti keluarga perempuan setelah menikah.

Hal ini berimplikasi pada perubahan garis keturunan dan hak waris yang akan diteruskan melalui pihak perempuan, mengikuti prinsip matrilineal.

Tradisi nyentana umumnya terjadi dalam beberapa kondisi tertentu. Salah satunya adalah ketika sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki.

Untuk memastikan keberlangsungan garis keturunan dan warisan keluarga, maka anak perempuan akan mengambil suami yang bersedia untuk nyentana.

Dalam perkawinan nyentana, mempelai laki-laki akan meninggalkan keluarga asalnya dan menjadi bagian dari keluarga istrinya.

Ia akan memiliki kewajiban dan hak yang sama dengan anggota keluarga perempuan, termasuk dalam hal upacara adat dan pewarisan harta.

Sistem ini mencerminkan prinsip matrilineal di mana garis keturunan dan warisan mengikuti pihak perempuan.

Praktik ini juga dapat terjadi karena kesepakatan keluarga atau faktor-faktor sosial ekonomi lainnya.

Meskipun demikian, keputusan untuk melakukan nyentana biasanya melibatkan musyawarah antar kedua belah pihak keluarga.

Dinamika Sosial dan Budaya di Balik Nyentana (Bali)

Tradisi nyentana mencerminkan fleksibilitas dan adaptasi dalam sistem kekerabatan masyarakat Bali.

Dalam konteks di mana garis keturunan laki-laki sangat ditekankan, nyentana menjadi solusi untuk memastikan keberlangsungan keluarga dan warisan, sekaligus menunjukkan pengaruh matrilineal dalam struktur sosial.

Keberadaan tradisi ini juga memberikan kedudukan yang kuat bagi perempuan dalam keluarga. Mereka tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga sebagai penerus garis keturunan dan pemilik warisan keluarga, sesuai dengan prinsip matrilineal.

Meskipun demikian, praktik nyentana juga dapat menimbulkan dinamika sosial tersendiri.

Proses adaptasi bagi mempelai laki-laki yang meninggalkan keluarga asalnya dan masuk ke keluarga baru memerlukan penyesuaian. Selain itu, pandangan masyarakat terhadap tradisi ini juga bervariasi.

Seiring dengan perkembangan zaman dan modernisasi, praktik nyentana mengalami perubahan.

Meskipun masih ada komunitas yang melestarikannya, jumlah perkawinan nyentana cenderung menurun. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan pola pikir masyarakat dan preferensi individu dalam memilih pasangan dan membangun keluarga.

Nyentana: Warisan Budaya yang Terus Bertransformasi (Bali)

Tradisi nyentana adalah bagian unik dari warisan budaya Bali yang menunjukkan keberagaman sistem kekerabatan di Indonesia.

Praktik ini memberikan perspektif menarik tentang peran gender, garis keturunan, dan pewarisan dalam masyarakat, serta menyoroti jejak matrilineal yang langka dijumpai.

Meskipun mengalami perubahan seiring waktu, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi nyentana, seperti pentingnya kesinambungan keluarga dan penghargaan terhadap perempuan, tetap relevan.

Nyentana menjadi pengingat bahwa budaya tidaklah statis, melainkan terus beradaptasi dengan dinamika sosial dan zaman.

Keberadaannya memperkaya khazanah budaya Indonesia dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas kehidupan masyarakat Bali, termasuk pengaruh matrilineal dalam sistem perkawinan mereka.

Sebagai bagian dari warisan budaya, tradisi nyentana patut untuk terus dipelajari dan dihargai. Kisahnya memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat Bali mengatur struktur keluarga dan mewariskan nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi, dengan tetap menghormati jejak matrilineal yang ada. (fathur)