Harmoni dalam Tradisi: Bupati Hadiri Mejabe Jero di Sangeh
BADUNG, PODIUMNEWS.com - Di tengah pesatnya modernisasi yang melanda Bali, upacara-upacara adat seperti Mejabe Jero di Pura Dalem Sukun, Banjar Muluk Babi, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung, memegang peranan penting dalam menjaga harmoni dan identitas budaya masyarakat.
Kehadiran Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dalam upacara yang berlangsung pada Senin (5/5/2025) bukan sekadar agenda seremonial, namun juga menjadi penanda dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi luhur ini.
Mejabe Jero, bagi masyarakat Sangeh, bukanlah sekadar ritual keagamaan. Lebih dari itu, upacara ini merupakan manifestasi rasa syukur, permohonan kesejahteraan, dan penguatan ikatan spiritual dengan Ida Betara-Betari yang berstana di Pura Dalem Sukun.
"Ini adalah stiti bakti kami, ungkapan ketulusan hati untuk memohon kerahayuan (keselamatan dan kesejahteraan) bagi seluruh masyarakat," ungkap Bupati Adi Arnawa dalam sambutannya, seolah mengamini makna mendalam upacara tersebut bagi warganya.
Lebih jauh, kehadiran Bupati menyoroti komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam merawat warisan budaya.
Dukungan terhadap pelaksanaan upacara adat di berbagai desa, termasuk di Sangeh, menjadi salah satu wujudnya.
Namun, pertanyaan yang muncul adalah, sejauh mana dukungan ini melampaui sekadar kehadiran dan bantuan materiil? Bagaimana Pemkab Badung memastikan tradisi seperti Mejabe Jero tetap hidup dan relevan di tengah gempuran modernitas?
Menurut Jero Mangku Dalem (pemimpin spiritual Pura Dalem Sukun), upacara Mejabe Jero memiliki nilai-nilai luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi.
"Upacara ini mengajarkan tentang kebersamaan (sagilik saguluk salunglung sabayantaka), gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur serta alam semesta," jelasnya.
Di tengah individualisme dan pragmatisme zaman sekarang, nilai-nilai ini justru semakin krusial untuk menjaga keseimbangan sosial dan spiritual masyarakat Bali.
Tantangan modernisasi memang tak terhindarkan. Desa Sangeh, yang juga dikenal dengan keberadaan Hutan Sangeh dan interaksi unik kera-kera di dalamnya, juga mengalami dinamika perubahan.
Generasi muda memiliki ketertarikan pada teknologi dan gaya hidup modern. Oleh karena itu, peran tokoh adat dan pemerintah daerah menjadi penting dalam menjembatani kesenjangan antar generasi dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan tradisi.
Kehadiran Bupati Adi Arnawa, didampingi anggota DPRD Badung I Putu Dendy Astra Wijaya, Camat Abiansemal I.B. Putu Mas Arimbawa, dan Perbekel Desa Sangeh I Made Werdiana, bisa dimaknai sebagai sinyal positif.
Namun, keberlanjutan dukungan dan implementasi kebijakan yang konkret akan menjadi kunci. Masyarakat Sangeh berharap, dukungan pemerintah tidak hanya terasa saat upacara besar, tetapi juga dalam upaya pembinaan generasi muda, revitalisasi nilai-nilai tradisional, dan penguatan kapasitas komunitas dalam melestarikan budayanya secara mandiri.
Upacara Mejabe Jero di Sangeh bukan sekadar tontonan ritual, melainkan cerminan identitas dan kearifan lokal yang patut dijaga.
Diperlukan sinergi antara masyarakat dan pemerintah daerah untuk memastikan harmoni dalam tradisi ini tetap lestari di tengah arus perubahan zaman. (fathur)