Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Solidaritas Miliaran Gerakkan Ekonomi di Ngusabe Desa Penatih

Oleh Editor • 13 Mei 2025 • 20:26:00 WITA

Solidaritas Miliaran Gerakkan Ekonomi di Ngusabe Desa Penatih
Gubernur Koster didampingi Wali Kota Jaya Negara menghadiri Puncak Karya Ngusabe Desa di Pura Penataran Agung Penatih, Denpasar, Selasa (13/5/2025). (foto/fathur)

DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Puncak Karya Ngusabe Desa di Pura Penataran Agung Penatih, Denpasar Timur, tak sekadar perhelatan ritual. Upacara yang dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster dan Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, Selasa (13/5/2025), ini juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal dan mempererat jalinan persaudaraan warga. Buktinya, dana punia atau sumbangan masyarakat untuk menyukseskan karya ini dilaporkan menembus angka lebih dari Rp1 miliar.

Gubernur Koster dalam sambutannya mengapresiasi semangat gotong royong yang menjadi ruh pelaksanaan upacara. Ia menilai, kekompakan warga Penatih adalah wujud nyata pelestarian adat, budaya, dan kearifan lokal Bali. Senada, Walikota Jaya Negara juga menyampaikan terima kasih atas saling menyama braya yang ditunjukkan krama Desa Adat Penatih.

Jro Bendesa Adat Penatih, I Wayan Ekayana, merinci rangkaian Karya Ngusabe Desa yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali ini. Dimulai dengan ngaben massal, dilanjutkan dengan berbagai prosesi penganyaran seperti nyurud ayu, mepandes (potong gigi) untuk 125 orang, mesakapan ke pasih (pernikahan ke pantai) 200 orang, mawinten (inisiasi pendeta) 75 orang, hingga negteg pulu 50 orang.

Skala besar rangkaian upacara ini, menurut Ekayana, tak lepas dari dukungan penuh Pemerintah Kota Denpasar dan partisipasi aktif masyarakat. Dana punia yang terkumpul lebih dari Rp1 miliar menjadi indikator nyata tingginya rasa memiliki dan solidaritas warga terhadap tradisi leluhur.

Karya Ngusabe Desa Penatih ini menjadi contoh bagaimana sebuah upacara adat tidak hanya memiliki dimensi spiritual dan budaya yang kuat, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi lokal melalui berbagai kebutuhan upacara dan partisipasi masyarakat.

Lebih jauh, besarnya dana punia yang terkumpul mencerminkan eratnya ikatan sosial dan semangat kebersamaan (menyama braya) yang menjadi ciri khas masyarakat Bali, khususnya di Desa Adat Penatih. Kehadiran para pemimpin daerah pun semakin mengukuhkan nilai penting pelestarian tradisi bagi pembangunan Bali secara keseluruhan. (fathur/suteja)