Podiumnews.com / Aktual / Sosial Budaya

Panggung Anak, Nafas Budaya Tak Putus

Oleh Podiumnews • 27 Mei 2025 • 16:39:00 WITA

Panggung Anak, Nafas Budaya Tak Putus
Bunda PAUD Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, secara resmi membuka Festival Ogoh-Ogoh dan Lomba Kreativitas PAUD Bernuansa Hindu di Lobby Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, Selasa (27/5/2025). (Foto: Dewa).

BADUNG, PODIUMNEWS.com — Panggung sederhana di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, Selasa (27/5/2025), menjadi ruang lahirnya harapan.

Puluhan anak-anak usia dini tampil tanpa ragu, memanggul miniatur ogoh-ogoh, menari diiringi tabuh klasik, dan mewarnai tokoh-tokoh pewayangan. Mereka tak sedang berlomba untuk menang, melainkan sedang menapak jalan panjang warisan budaya.

Festival Ogoh-Ogoh dan Lomba Kreativitas PAUD Bernuansa Hindu ini digagas sebagai upaya menanamkan nilai-nilai budaya dan spiritual sejak usia dini.

Dibuka secara resmi oleh Bunda PAUD Kabupaten Badung, Rasniathi Adi Arnawa, kegiatan ini diikuti oleh puluhan lembaga PAUD se-Badung.

“Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya diajak berkarya, tetapi juga diperkenalkan dengan akar budaya Bali secara menyenangkan dan bermakna,” kata Rasniathi dalam sambutannya.

Ia menekankan pentingnya pendidikan karakter yang bersumber dari tradisi dan nilai-nilai lokal.

Rangkaian lomba yang digelar antara lain parade ogoh-ogoh mini, tari pendet, tari baris, topeng munju, hingga bapang barong. Anak-anak, didampingi guru dan orang tua, tampak antusias menunjukkan hasil latihan mereka.

Tak sedikit yang tampil dengan ekspresi percaya diri, seolah panggung itu memang milik mereka.

Ketua panitia, Ketut Sri Budiari, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Ia mengapresiasi dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Badung yang memungkinkan kegiatan berlangsung dengan lancar.

“Selain menggali kreativitas anak, ini juga mendorong sinergi antara lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk karakter anak yang berbudaya,” ujarnya.

Festival ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus menunggu usia dewasa. Justru di usia emas, nilai-nilai luhur lebih mudah ditanamkan.

Dan panggung-panggung kecil seperti ini bisa menjadi awal dari napas panjang budaya yang tak putus oleh zaman. (fathur)