Pengangkatan Duta Wisata Harus Lewat Proses, Bukan Karena Viral
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Pengangkatan Rayyan Arkan Dhika, bocah penari Pacu Jalur asal Riau, sebagai Duta Wisata Provinsi Riau memicu respons beragam dari publik. Sorotan terutama datang dari kalangan akademisi yang menilai bahwa gelar duta seharusnya melalui proses pembekalan, bukan sekadar popularitas viral.
Guru Besar Ilmu Industri Pariwisata dan Perhotelan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Bambang Suharto SST MMPar, menyampaikan bahwa pengangkatan duta wisata harus mempertimbangkan kapabilitas, bukan sekadar daya tarik sesaat.
“Tradisi seperti Pacu Jalur ini luar biasa. Tapi yang kita butuhkan bukan hanya viralitas, melainkan proses yang melibatkan pembekalan, pemahaman budaya, serta kemampuan komunikasi,” ujar Prof Bambang melalui siaran pers, Selasa (15/7/2025).
Menurutnya, meski viralitas dapat menjadi pintu masuk, penetapan sebagai duta wisata tidak bisa dilakukan tanpa sistem kaderisasi yang jelas. Ia menekankan pentingnya pendekatan kelembagaan dan berjenjang dalam membentuk para duta.
“Saya dorong pemerintah daerah agar tidak berhenti pada sosok Dhika saja. Tetapi menciptakan ekosistem yang melahirkan duta-duta tematik lain di bidang seni, budaya, kuliner, hingga sportourism,” kata Bambang.
Ia mengingatkan bahwa tugas duta wisata jauh lebih kompleks dari sekadar tampil di depan publik. Duta perlu memiliki keterampilan komunikasi, pemahaman destinasi, serta kemampuan mempromosikan potensi daerah secara profesional.
“Dulu saya pernah menjadi juri Putri Pariwisata Indonesia. Setiap peserta mendapatkan pembekalan dari para ahli, termasuk Rhenald Kasali. Itu penting agar mereka memahami positioning dan tanggung jawab mereka,” jelasnya.
Menanggapi soal usia Dhika yang masih dini, Prof Bambang tidak menampik peluang tersebut. Namun ia mengusulkan klasifikasi usia dalam sistem duta wisata, agar fungsinya tetap sesuai konteks.
“Boleh saja ada duta usia dini, asal jelas segmen promosinya, misalnya untuk wisata keluarga atau edukasi anak-anak. Tapi tetap harus ada proses dan substansi,” tegasnya.
Ia pun berharap momentum Dhika ini tidak berakhir sebagai simbol viral semata. “Kalau ini dikelola secara serius, saya yakin dunia akan terperangah melihat budaya kita. Bukan hanya Pacu Jalur, tapi juga ragam budaya dari Papua, Aceh, hingga Labuan Bajo,” ujarnya.
Menurutnya, duta yang kuat adalah mereka yang memahami pasar dan mampu membawa pesan budaya dengan cara yang tepat. “Jangan sampai duta hanya jadi perpanjangan tangan dari figur yang memilihnya. Duta adalah milik daerah, bukan milik personal,” pungkasnya.
(riki/sukadana)