Podiumnews.com / Aktual / Pemerintahan

Tangkal Radikalisme-Terorisme, Diskominfos Bali Gelar Diskusi Kehumasan

Oleh Podiumnews • 16 Oktober 2019 • 12:36:15 WITA

Tangkal Radikalisme-Terorisme, Diskominfos Bali Gelar Diskusi Kehumasan
Foto bersama usai Gelaran dialog Menangkal Radikalisme, Menjaga Keutuhan NKRI oleh Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali melalui Forum Kehumasan Provinsi Bali, di Kantor Diskominfos Provinsi Bali, Rabu (16/10) siang. (Foto: istimewa)

DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Menanggapi isu ancaman terorisme yang belakangan menguat, Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali melalui Forum Kehumasan Provinsi Bali, menggelar dialog untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman dan upaya menangkal penyebarluasan paham-paham radikal di Provinsi Bali. 

Dialog yang digelar di Kantor Diskominfos Provinsi Bali, Rabu (16/10) siang itu menghadirkan 3 pembicara utama, yakni Polda Bali yang diwakili oleh Kanit Cyber Crime, I Wayan Wisnawa Adiputra, S.IK, M.Si., Komisi Penyiaran Informasi Daerah (KPID) Provinsi Bali, yang diwakili oleh Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran, I Wayan Sudiarsa dan dari Kantor Wilayah Bali Kementerian Pertahanan (Kanwil Kemhan), Letkol Inf. Ketut Budiastawa, S. Sos., M.Si.

Kepala Diskominfos Prov. Bali, yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Kabid Pengembangan Komunikasi Publik, Drs. IB. Ketut Agung Ludra dalam sambutannya dan sekaligus secara resmi membuka dialog yang mengangkat tema "Menangkal Radikalisme, Menjaga Keutuhan NKRI" tersebut mengatakan bahwa, paham radikalisme-terorisme saat ini sudah menyasar ke berbagai elemen masyarakat dan menggunakan berbagai spektrum media termasuk media sosial.

"Pergerakan radikalisme sudah sampai kemana2, sudah memasuki berbagai elemen masyarakat. Penggunaan media sosial oleh kelompok radikal sudah cukup tinggi lebih 50%. Penangkapan kemarin (dua terduga teroris yang tertangkap di Bali beberapa waktu lalu, -red), menunjukan bukti bahwa mereka sudah ada di Bali. Mereka bisa masuk Bali," ungkapnya.

"Dialog ini bertujuan untuk sinergi kehumasan menyamakan pemahaman kita dalam melaksanakan apa yang sudah diprogramkan pemerintah, khususnya program-program kontra radikalisme-terorisme, karena itu tidak dapat diselenggarakan hanya oleh pemerintah sendiri, perlu dukungan dan sinergi dari semua pihak," paparnya.

Hadir dalam dialog tersebut puluhan Humas Pemerintah Kab/Kota se-Bali, Lembaga-lembaga terkait, web content creator (blogger), dan juga media online yang ada di Bali. Hadir juga pada kesempatan tersebut, Praktisi Jurnalis Tri Vivi Suryani. Ditemui di sela-sela dialog tersebut, senada dengan IB. Ketut Agung Ludra, Vivi mengatakan bahwa radikalisme-terorisme adalah ancaman nyata yang ada hari ini.

Kelompok ini menurutnya telah menyebarkan pahamnya ke berbagai elemen masyarakat, dan menggunakan berbagai cara. Untuk menangkal itu, menurutnya kesadaran, kecerdasan dan kepedulian semua masyarakatlah yang paling efektif. Untuk itu, pemerintah, aparat keamanan, lembaga-lembaga terkait, termasuk pers harus mampu mendorong pemahaman dan keterlibatan aktif masyarakat dalam menangkal ancaman tersebut.

Untuk melawan ancaman dari sebuah narasi ideologi yang berbahaya, paparnya lebih lanjut, maka harus dilawan dengan menarasikan ideologi juga. Yakni dengan menarasikan, dengan lebih masif lagi, Ideologi Pancasila yang selama ini menjadi pondasi dasar ideologi kita berbangsa dan bernegara. "Narasi ideologi kita lawan dengan narasi ideologi, Radikalisme-Terorisme harus kita lawan dengan memperkuat dan menggencarkan kampanye nilai-nilai Ideologi Pancasila," ujarnya.

"Pancasila harus kita narasikan dengan lebih intensif, dan bagaimana caranya agar nilai-nilai Pancasila dan filosofi Kebhinekaan yang kita miliki dapat semakin masif diterjemahkan dalam sendi-sendi kehidupan kita, sehingga nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan tersebut dapat terimplementasi secara maksimal dan menjadi kesadaran seluruh masyarakat. Dan, didukung dengan profesionalitas aparat dan penegakan hukum yang baik, maka paham-paham apapun yang berbahaya akan sulit masuk dan berkembang, di negara kita ini," tandasnya. (RIS/PDN)