Uji Klinik Masih Mahal, UMKM Herbal Sulit Bersaing
YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com - Uji klinik yang mahal dinilai menjadi penghambat utama daya saing UMKM obat herbal di Indonesia. Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof Dr rer nat Nanang Fakhrudin MSi Apt, menyebut biaya dan durasi pembuktian ilmiah membuat pelaku kecil menengah sulit menembus pasar berstandar, sekalipun inovasi produk terus bermunculan.
“Proses pembuktian ilmiah dan uji klinik memerlukan investasi besar serta waktu yang panjang, sehingga menjadi hambatan bagi pelaku industri kecil dan menengah,” ujarnya, Selasa (11/11/2025) di Yogyakarta.
Menurut Nanang, Indonesia memiliki modal strategis untuk menjadi pusat industri herbal berstandar internasional. Kekayaan biodiversitas darat dan laut, tradisi panjang pemanfaatan jamu, riset yang kian maju, serta teknologi ekstraksi modern menjadi fondasi bagi lahirnya produk jamu berbasis empiris, Obat Herbal Terstandar (OHT), hingga fitofarmaka yang telah melewati uji klinik.
Sejumlah produk, kata dia, bukan hanya dipasarkan nasional, tetapi juga menembus pasar global.
Apresiasi dari Organisasi Kesehatan Dunia melalui International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (WHO–IRCH) disebutnya sebagai momentum untuk memperkuat mutu dan kepercayaan. Namun di lapangan, standar bahan baku masih belum seragam. Banyak industri memanfaatkan tanaman liar yang belum dibudidayakan sesuai prinsip good agricultural practice.
Di sisi hilir, penerimaan tenaga medis terhadap obat herbal dinilai masih rendah dan belum sepenuhnya terakomodasi dalam skema asuransi kesehatan, sehingga adopsi di layanan medis menjadi terbatas.
Nanang menilai celah besar terjadi pada keterhubungan riset, industri, dan pelayanan kesehatan. Hasil penelitian kerap tersendat saat dikomersialisasikan karena minim sinergi dan dukungan pembiayaan uji klinik.
“Kurangnya sinergi membuat hasil riset sulit bertransformasi menjadi produk yang siap digunakan luas,” tegasnya.
Ia mendorong kebijakan pemerintah yang lebih pro-inovasi, termasuk penyederhanaan regulasi tanpa mengorbankan keselamatan, insentif pembiayaan uji klinik, serta penguatan ekosistem dari hulu ke hilir. Kolaborasi lintas sektor disebut krusial, mulai dari Kementerian Pertanian untuk penyediaan benih dan budidaya standar, perguruan tinggi dan lembaga riset untuk validasi ilmiah, hingga tenaga kesehatan untuk pemanfaatan berbasis evidensi.
“Harapannya produk herbal Indonesia memiliki dasar saintifik yang kuat, dipercaya dokter dan tenaga kesehatan, serta dimanfaatkan masyarakat dengan efikasi dan keamanan terjamin,” pungkasnya.
(riki/sukadana)