Podiumnews.com / Aktual / Ekonomi

Redenominasi Diproyeksi Hidupkan Kembali Satuan Sen

Oleh Nyoman Sukadana • 13 November 2025 • 17:15:00 WITA

Redenominasi Diproyeksi Hidupkan Kembali Satuan Sen
Ilustrasi redenominasi rupiah. (podiumnews)

JAKARTA, PODIUMNEWS.com - Pengembalian satuan “sen” dinilai menjadi salah satu manfaat penting dari rencana redenominasi rupiah untuk menjaga ketelitian harga dan mencegah pembulatan yang berpotensi memicu inflasi mikro. Pandangan ini disampaikan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, di Jakarta, Rabu (12/11/2025).

Fakhrul menjelaskan bahwa redenominasi bukan sebatas menghapus tiga nol dari nilai rupiah, tetapi penataan ulang sistem pembayaran nasional agar lebih efisien dan relevan dengan perkembangan ekonomi digital. Menurutnya, pengembalian satuan sen akan membuat struktur harga lebih presisi sehingga tidak ada nilai yang hilang akibat pembulatan ke atas.

“Satuan kecil ini penting agar tidak ada nilai yang hilang akibat pembulatan harga ke atas. Ia mencerminkan ketelitian dan keadilan ekonomi dari pedagang pasar hingga ritel modern,” ujarnya.

Fakhrul menilai bahwa penggunaan sen dapat menekan potensi inflasi yang biasanya muncul secara perlahan di tingkat transaksi mikro. Dengan adanya satuan harga yang lebih detail, penjual dapat menetapkan tarif yang lebih akurat tanpa harus menaikkan nominal ke angka bulat terdekat.

Ia juga menegaskan bahwa redenominasi hanya layak dilakukan dalam kondisi makroekonomi yang stabil. Stabilitas inflasi yang kini berada di bawah 3 persen serta sistem keuangan yang kuat menjadi alasan kuat untuk mulai membahas langkah teknis secara serius. “Selama dua dekade terakhir, Indonesia telah membangun landasan makro yang kokoh. Momentum inilah yang jarang datang dua kali, dan ini harus dimanfaatkan,” katanya.

Fakhrul mengutip pengalaman sejumlah negara sebagai rujukan. Turki pada 2005 dan Ghana pada 2007 berhasil melakukan redenominasi ketika ekonomi mereka berada dalam fase stabil. Kebijakan tersebut meningkatkan efisiensi transaksi, menyederhanakan sistem pembayaran, dan memperkuat kepercayaan publik. Sebaliknya, Zimbabwe gagal menerapkan kebijakan serupa karena menghadapi inflasi ekstrem dan hilangnya kredibilitas moneter.

Selain penyederhanaan nominal, Fakhrul menyebut redenominasi berpotensi menjadi jembatan menuju penerapan Digital Rupiah atau Central Bank Digital Currency (CBDC) yang saat ini sedang disiapkan Bank Indonesia. Ia mengatakan nominal yang lebih ringkas akan mempermudah penggunaan instrumen digital untuk transaksi mikro maupun lintas platform. “Dengan nominal yang lebih sederhana, CBDC akan lebih mudah diterapkan untuk transaksi mikro, lintas platform, dan lintas wilayah,” ujarnya.

Namun, Fakhrul mengingatkan bahwa keberhasilan redenominasi membutuhkan masa transisi yang terukur dan komunikasi publik yang masif. Menurutnya, masyarakat perlu memahami perbedaan antara redenominasi dengan sanering, sehingga tidak muncul kecemasan atau salah tafsir. Ia menegaskan redenominasi adalah reformasi moneter yang bertujuan meningkatkan efisiensi, bukan pemotongan nilai uang.

“Redenominasi adalah bagian dari reformasi sistem moneter yang modern, bukan kosmetik ekonomi. Ia harus disiapkan matang, disosialisasikan luas, dan dijalankan bertahap agar benar-benar memberi manfaat bagi efisiensi ekonomi nasional,” pungkasnya.

(riki/sukadana)