Podiumnews.com / Horison / Selaras

Dian Sastro, Rindu Manusia Urban pada Tanah

Oleh Nyoman Sukadana • 22 Januari 2026 • 03:03:00 WITA

Dian Sastro, Rindu Manusia Urban pada Tanah
Dian Sastrowardoyo (Instagram/therealdisastr)

DIAN SASTROWARDOYO adalah wajah dari kesempurnaan masyarakat urban yang sukses, cerdas, dan berada di puncak popularitas. Namun di balik gemerlap tersebut, ia mengungkap sebuah kerinduan yang paradoks bagi seorang megabintang.

Dalam sebuah perbincangan mendalam di kanal YouTube Raditya Dika, Dian secara jujur mengungkapkan sisi lain dari ambisinya. Sebagai bagian dari keluarga besar penguasa ekonomi negeri, ia adalah menantu dari mendiang Ibnu Sutowo, tokoh kunci era Orde Baru yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina, dan istri dari Maulana Indraguna Sutowo, seorang pengusaha sukses yang memimpin grup bisnis besar. Dian memiliki akses pada segala bentuk kemewahan dan pengaruh yang ditawarkan ibu kota.

Namun, ia justru menyimpan cita-cita yang jauh dari hingar-bingar tersebut, yaitu untuk berkebun dan belajar bercocok tanam. Ia merasa tergerak oleh narasi kembali ke desa yang kerap melintas di lini masa media sosialnya. Bagi Dian, ketenangan hidup justru ditemukan saat kita berani meninggalkan ego besar Jakarta dan bersiap menjadi nobody.

Ia membayangkan sebuah kehidupan di mana ia tidak lagi dikejar oleh status atau beban sebagai figur publik maupun label keluarga ningrat. Sebaliknya, ia ingin sekadar menjadi diri sendiri yang hidup menyatu dengan alam. Ia ingin memiliki sebidang tanah agar bisa hidup lebih autentik, menyesap kopi di depan kebun, dan merasakan kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh kekuasaan maupun materi.

Keinginan Dian untuk hidup menyatu dengan alam merupakan sebuah pencarian akan makna hidup yang lebih hakiki di tengah lingkungan urban yang melelahkan secara eksistensial. Kelelahan ini muncul karena di kota besar, nilai manusia seringkali direduksi hanya sebatas angka produktivitas, status sosial, atau garis keturunan.

Dengan menyentuh tanah dan merawat tanaman, manusia modern sebenarnya sedang berusaha memulihkan jati dirinya yang hilang. Dian menyadari bahwa segala atribut duniawi, harta, dan nama besar keluarga tidak akan dibawa mati, sehingga kembali ke alam adalah cara untuk mempersiapkan diri menghadapi akhir perjalanan hidup yang sunyi.

Narasi ini menjadi sangat kuat karena datang dari seseorang yang sudah memiliki segalanya di mata dunia. Namun, ia justru menemukan bahwa titik nol di depan tanah adalah tempat di mana kedamaian itu bersemayam.

Asal-Usul Suci

Pandangan bahwa manusia berakar dari tanah merupakan keyakinan universal yang melintasi berbagai batas agama dan budaya. Dalam tradisi Islam dan Kristen, asal-usul manusia ditarik dari peristiwa penciptaan Adam sebagai manusia pertama. Kitab suci mengisahkan bagaimana Tuhan membentuk manusia dari debu tanah atau tanah lempung, lalu menghembuskan napas kehidupan ke dalamnya.

Narasi ini menegaskan bahwa secara biologis dan spiritual, unsur paling dasar dalam tubuh manusia adalah bumi itu sendiri. Tanah bukan sekadar tempat berpijak, melainkan substansi pembentuk identitas fisik kita. Manusia adalah tanah yang diberi nyawa, dan setiap langkah di atas bumi sebenarnya adalah interaksi antara tanah yang berjalan dengan tanah yang diam.

Kesadaran bahwa manusia berasal dari tanah lempung membawa konsekuensi filosofis pada kerendahan hati. Jika mahakarya Tuhan bermula dari materi yang paling rendah dan biasa, maka segala kesombongan urban menjadi tidak relevan. Kerinduan Dian Sastro untuk kembali ke tanah bisa dibaca sebagai upaya bawah sadar untuk kembali pada kesucian asal-usul tersebut.

Dalam perspektif agama samawi, kematian bukanlah akhir, melainkan proses kepulangan di mana jasad akan kembali menyatu ke tanah, menunggu waktu untuk dipanggil kembali. Ungkapan "debu kembali menjadi debu" menjadi pengingat abadi bahwa kemegahan duniawi hanyalah persinggahan sementara sebelum manusia kembali ke pelukan bumi yang tenang. Kembali ke tanah adalah ritual penyucian diri dari segala beban identitas duniawi yang seringkali menyesakkan jiwa manusia modern.

Ibu Pertiwi

Dalam kacamata spiritual Timur, kerinduan Dian adalah manifestasi dari konsep rindu pada Ibu Pertiwi. Filosofi Hindu menjelaskan bahwa manusia tersusun dari Panca Maha Bhuta, lima elemen dasar alam semesta di mana Pertiwi atau tanah adalah salah satu pilar utamanya.

Dalam pandangan ini, manusia adalah bagian integral dari alam itu sendiri, bukan entitas yang terpisah atau penguasa atas alam. Tubuh manusia disebut sebagai Bhuana Alit atau alam kecil yang merupakan mikrokosmos dari Bhuana Agung atau alam semesta. Karena manusia dan alam semesta tersusun dari elemen yang sama, maka kerinduan untuk kembali ke tanah adalah panggilan alami bagi jiwa untuk menyatu kembali dengan totalitas keberadaan.

Konsep Tri Hita Karana dalam budaya Bali menekankan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa dicapai melalui harmoni, salah satunya adalah harmoni antara manusia dengan alam atau Palemahan. Ketika Dian Sastro memimpikan hidup yang tenang di tengah kebun, ia sebenarnya sedang berusaha menyelaraskan kembali Bhuana Alit dalam dirinya dengan Bhuana Agung di sekitarnya.

Manusia modern yang terlalu lama terpenjara dalam beton seringkali mengalami ketidakseimbangan jiwa karena terputus dari elemen Pertiwi. Beton adalah penghalang komunikasi antara telapak kaki manusia dengan detak jantung bumi. Kembali ke tanah bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan upaya spiritual untuk menyadari bahwa kita adalah bagian tak terpisahkan dari semesta yang maha luas, di mana setiap napas kita adalah bagian dari embusan angin semesta.

Rumah Terakhir

Kematian adalah pengingat paling jujur bahwa tanah adalah rumah terakhir bagi setiap makhluk. Filsuf Martin Heidegger pernah menyebut manusia sebagai makhluk yang berada menuju kematian atau Sein-zum-Tode. Menyadari bahwa elemen Panca Maha Bhuta dalam tubuh kita pada akhirnya akan terurai dan kembali menyatu dengan elemen alam semesta membuat segala atribut duniawi menjadi tidak relevan lagi.

Tanah atau Pertiwi menjadi muara akhir yang menyatukan semua status sosial tanpa pengecualian. Seperti yang dikatakan Dian, segala atribut itu tidak akan dibawa mati. Di liang lahat, tidak ada lagi perbedaan antara menantu konglomerat atau rakyat jelata karena semuanya melebur dalam pelukan tanah yang sama.

Kerinduan pada tanah adalah kerinduan pada kejujuran asal-usul. Di kota, manusia bisa memakai ribuan topeng identitas, namun di hadapan tanah, manusia kembali menjadi zat yang paling sederhana. Membayangkan kematian sebagai sebuah proses menyatu kembali dengan Ibu Pertiwi adalah sebuah cara untuk berdamai dengan kefanaan.

Tanah tidak menuntut kita untuk menjadi penting atau terkenal. Ia menerima kita apa adanya dalam sebuah pelukan abadi yang sunyi. Inilah rumah terakhir yang sesungguhnya, tempat di mana Bhuana Alit akhirnya melebur sepenuhnya ke dalam keagungan Bhuana Agung. Tanah adalah tempat istirahat yang paling adil, di mana semua beban pikiran dan ambisi yang membakar diredam oleh dinginnya bumi yang jujur.

Realisasi Nyata

Jika Dian Sastro mewakili aspirasi yang baru tumbuh, maka Farid Gaban mewakili realitas yang sudah berakar kuat. Farid, seorang jurnalis lepas dan petani yang tinggal di lereng Gunung Sindoro, Wonosobo, Jawa Tengah, kini menjalani hidup sebagai praktisi yang memadukan intelektualitas dengan tanah.

Melalui Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa pada tahun 2009 hingga 2010, Farid menyadari bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kedekatan manusia dengan alam sekitarnya. Ia melihat Indonesia bukan dari balik meja redaksi di Jakarta, melainkan dari debu jalanan dan kesunyian desa-desa yang bersahaja.

Di lereng Sindoro, ia membangun sistem kehidupan yang menghormati musim dan siklus alam. Ia beralih dari jurnalisme yang serba cepat menuju ritme pertanian yang sabar. Baginya, bertani adalah cara untuk memahami kembali posisi manusia di hadapan semesta. Ini adalah praktik nyata dari keinginan untuk hidup selaras dengan alam yang dibayangkan oleh Dian Sastro.

Farid membuktikan bahwa transisi dari dunia urban menuju kehidupan di kaki gunung adalah sebuah perjalanan untuk menemukan kembali kemanusiaan yang utuh melalui interaksi langsung dengan tanah dan udara pegunungan yang murni. Hidup di desa baginya bukan sebuah pelarian, melainkan sebuah keberanian untuk menghadapi realitas hidup yang paling dasar.

Penanggalan Ego

Transformasi paling radikal terlihat pada sosok Susno Duadji. Mantan jenderal bintang tiga ini kini lebih sering terlihat di sawah kampung halamannya di Pagar Alam. Fenomena Susno adalah bukti nyata dari pernyataan Dian tentang pentingnya meninggalkan ego di ibu kota.

Bagi seorang yang pernah memegang otoritas hukum tertinggi dan terbiasa dengan protokol yang kaku, mencangkul adalah proses pembersihan diri yang sangat intens dari residu kekuasaan yang melelahkan. Di hadapan tanah, pangkat dan lencana emas tidak lagi memiliki kegunaan praktis untuk menumbuhkan padi atau kopi.

Tanah menjadi guru kesabaran yang tidak memedulikan seberapa besar nama seseorang di kota besar. Melalui cangkul, Susno menanam kembali rasa kemanusiaannya yang mungkin sempat tertutup oleh debu birokrasi dan kekuasaan. Ia menunjukkan bahwa kegembiraan sejati bisa datang dari hal sesederhana menyatu dengan ritme alam yang jujur.

Penyingkiran identitas sebagai pejabat dan penerimaan identitas sebagai petani adalah bentuk kemenangan atas ego pribadi. Inilah yang dirindukan oleh banyak kaum urban yang lelah dengan topeng jabatan, sebuah momen di mana mereka tidak lagi perlu memikul beban nama besar mereka dan cukup menjadi bagian kecil yang tenang dari harmoni alam semesta.

Muara Sunyi

Pada akhirnya, fenomena orang kota pindah ke desa adalah perjalanan pulang yang sangat puitis dan penuh makna. Dari kegelisahan Dian Sastro hingga keteguhan Farid Gaban di Sindoro, semua menuju pada satu kesadaran kolektif bahwa manusia butuh menyentuh tanah untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin gila dengan kecepatan digital.

Tanah adalah muara dari segala keresahan modern yang serba artifisial dan dangkal. Memuliakan tanah berarti memuliakan diri sendiri sebagai bagian dari elemen alam semesta dan mempersiapkan diri secara mental untuk kembali ke rahim Ibu Pertiwi. Sejauh apa pun manusia modern berlari di atas beton Jakarta, jiwanya akan selalu merindukan alam sebagai rumah aslinya.

Tanah adalah tempat kita berasal, tempat kita memetik kehidupan melalui setiap butir nasi yang kita makan, dan tempat kita akan beristirahat selamanya dalam kedamaian. Seperti impian Dian Sastro untuk sekadar menyesap kopi di depan kebun tanpa ada yang memedulikan siapa dirinya atau siapa mertuanya, makna hidup sesungguhnya terselip di antara helai daun yang tumbuh perlahan dan aroma tanah basah setelah hujan sore hari. Kembali ke tanah adalah cara terbaik untuk menyadari bahwa kita adalah bagian kecil dari keagungan Bhuana Agung sebelum kita benar-benar menyatu dengannya dalam keabadian di akhir hayat nanti. (*)

Menot Sukadana