Pakar Sarankan Main Game Maksimal 5 Jam
YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com – Pakar kesehatan jiwa sekaligus dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr Heru Subekti SKep Ns MPH menyarankan durasi bermain gim bagi anak dan remaja dibatasi maksimal lima jam per minggu.
Heru menyebutkan pembatasan waktu bermain gim penting untuk mencegah berbagai gangguan kesehatan fisik maupun mental yang kerap muncul akibat penggunaan gim secara berlebihan.
“Jumlah waktu ideal bermain gim adalah sekitar lima jam per minggu. Dengan durasi tersebut, risiko gangguan kesehatan fisik dan mental dapat ditekan,” ujar Heru, Selasa (27/1/2026) di Yogyakarta.
Menurut Heru, bermain gim lebih dari 10 jam per minggu berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan fisik, mulai dari gangguan tidur, sedentary lifestyle, hingga obesitas.
“Risiko obesitas menjadi lebih besar dibandingkan anak-anak atau remaja yang tidak banyak menggunakan gim,” katanya.
Selain dampak fisik, Heru menjelaskan bermain gim secara berlebihan juga dapat memicu gangguan kesehatan mental akibat mekanisme hormon dopamin yang memunculkan rasa senang berlebihan dan berujung pada adiksi.
“Rasa senang ini membuat durasi bermain terus meningkat. Dari satu jam, bertambah, dan terus bertambah hingga muncul gejala kecanduan,” ujarnya.
Heru menambahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui internet gaming disorder sebagai salah satu bentuk gangguan kesehatan mental.
“Jika sudah kecanduan, dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Ini sudah menjadi perhatian dunia kesehatan,” katanya.
Dampak fisik lain yang kerap muncul akibat bermain gim dalam waktu lama adalah gangguan pergelangan tangan atau Carpal Tunnel Syndrome (CTS) serta gangguan leher yang dikenal sebagai Text Neck Syndrome akibat posisi tubuh yang tidak ergonomis saat menatap layar.
Tak hanya itu, Heru menilai durasi bermain gim yang berlebihan juga berdampak pada kemampuan sosial anak dan remaja, termasuk menurunnya kualitas interaksi dengan keluarga, lingkungan pertemanan, hingga prestasi akademik.
“Bermain gim terlalu lama bisa menyebabkan masalah pertemanan, hubungan keluarga menjadi tidak harmonis, komunikasi dengan orang tua terganggu, bahkan prestasi akademik menurun,” jelasnya.
Meski demikian, Heru menegaskan bermain gim tidak selalu berdampak negatif jika dilakukan secara tepat dan terkontrol.
“Bermain gim tetap memiliki sisi positif, seperti meningkatkan kreativitas dan membangun interaksi dengan teman sebaya, asalkan tidak overuse,” ujarnya.
Untuk mencegah kecanduan, Heru menyarankan peningkatan edukasi mengenai risiko bermain gim berlebihan serta mendorong anak dan remaja untuk terlibat dalam aktivitas lain yang lebih aktif dan produktif.
“Kognitifnya ditingkatkan, kesadarannya ditumbuhkan, dan perilakunya diubah dengan lebih banyak kegiatan aktif seperti olahraga dan pengembangan hobi,” pungkasnya.
(riki/sukadana)