Resin dan TikTok, Senjata Baru UMKM Perempuan Bali
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Sebanyak 30 perempuan, mayoritas ibu rumah tangga serta pelaku UMKM, tampak serius menakar warna, mengaduk resin, dan sesekali menatap layar ponsel mereka.
Acara berlangsung di Pertamina Patra Niaga Kantor Sales Area Retail Bali, Jumat (13/2/2026), menghadirkan kreativitas dan teknologi dalam satu forum, yaitu Workshop Resin dan TikTok Affiliate.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Rumah BUMN Klungkung dan komunitas Bali Loves Handmade, yang didukung oleh Indonesian Technology Innovation Foundation (INOTEK), Sampoerna untuk Indonesia, serta Pertamina. Dua narasumber dihadirkan dalam workshop tersebut. Agung Mastini memberikan pelatihan resin, sementara Kurniawan Joko Purnomo membedah seluk-beluk TikTok Affiliate dan strategi pemasaran produk UMKM melalui platform digital TikTok.
Wakil dari Rumah BUMN Klungkung, Agung Kemala Dewi, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pelaku UMKM, khususnya perempuan, agar tidak hanya kreatif dalam produksi, tetapi juga cakap dalam pemasaran digital. Workshop ini diikuti 30 peserta yang seluruhnya berasal dari komunitas Bali Loves Handmade. Di dalam komunitas tersebut, anggotanya didominasi ibu-ibu yang memiliki hobi kerajinan, dan sebagian sudah memiliki usaha seperti tas handmade, rajutan, hingga galeri kerajinan.
Menurut Agung Kemala Dewi, pelatihan ini menjadi ruang belajar yang aplikatif. Peserta tidak hanya mendengar teori, tetapi langsung mempraktikkan pembuatan produk resin seperti gantungan kunci dengan hiasan berbentuk lingkaran berisi warna dan dekorasi menarik. Pemilihan resin bukan tanpa alasan.
Produk ini sedang tren dan memiliki permintaan tinggi di pasar kerajinan. Harapannya, keterampilan baru ini bisa menjadi peluang usaha tambahan bagi para peserta.
Selain praktik kerajinan, peserta juga mendapatkan materi tentang TikTok Affiliate. Kurniawan Joko Purnomo menjelaskan bagaimana sistem affiliate bekerja serta bagaimana UMKM dapat memanfaatkan TikTok sebagai sarana promosi sekaligus penjualan. Di era digital, pemasaran melalui media sosial menjadi kebutuhan mendasar. Banyak pelaku UMKM yang masih kesulitan memahami strategi konten dan konsistensi di platform digital.
“Tantangan utama UMKM saat ini bukan lagi sekadar permodalan, melainkan konsistensi. Konsistensi mencakup kualitas produk, layanan, manajemen operasional, pemasaran offline maupun online. Pelaku usaha sering kali kewalahan karena mengerjakan semua sendiri,” ujar Agung Kemala Dewi.
Ketua komunitas Bali Loves Handmade, Dian Susanti, dalam sambutannya mengaku terharu atas terselenggaranya workshop tersebut. “Ini adalah sebuah kolaborasi yang luar biasa. Saya berharap, kegiatan seperti ini tidak berhenti pada sekarang saja. Para pelaku UMKM sangat memerlukan pengembangan, seperti pada workshop hari ini,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para sponsor dan pendukung kegiatan sehingga workshop dapat terselenggara dengan baik. Komunitas Bali Loves Handmade sendiri beranggotakan pelaku kraf dari berbagai daerah di Bali, seperti Denpasar, Klungkung, dan Gianyar. Sebagian besar anggotanya adalah ibu rumah tangga yang ingin tetap produktif dari rumah.
Salah satu peserta, Ni Putu Tini Purwanti, anggota Bali Loves Handmade sekaligus mitra binaan Rumah BUMN Klungkung, memberikan testimoni mengenai manfaat workshop. “Dari saya sendiri terima kasih sebelumnya kepada para pihak yang sudah mewadahi dan memfasilitasi kami untuk pelatihan, pelatihannya sangat bagus dimana saya yang awam tentang resin jadi paham dan bisa membuka peluang seni baru, dan materi tentang tiktok affiliate ini keren banget kita bisa jadi nambah cuan dari tiktok dengan sistem tiktok affiliate,” katanya.
Berdasarkan data terakhir tahun 2025 yang disampaikan Kepala UPTD PLUT KUMKM Dinas Koperasi UKM Provinsi Bali, Mariana, S.STP, M.Si, jumlah UMKM di Bali mencapai 448.343 unit dan tersebar di seluruh kabupaten.
Menurut Mariana, persaingan usaha yang semakin ketat menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan, terutama dalam pemasaran digital. “Tidak hanya kreativitas dari para UMKM, tetapi mereka diberikan pengetahuan juga bagaimana untuk pemasaran di media digital sekarang. Jadi tidak hanya langsung praktik, tetapi juga mereka bisa menjual mengikuti perkembangan pasar,” jelasnya di sela-sela acara workshop
Ia menegaskan, UMKM harus terbuka terhadap perkembangan teknologi dan terus meng-upgrade keterampilan agar mampu bersaing di pasar global.
Workshop di Denpasar itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi 30 perempuan yang hadir, kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar pelatihan. Ia menjadi ruang belajar, ruang bertumbuh, sekaligus pengingat bahwa dari rumah pun, perempuan Bali bisa berkarya, berdaya, dan berpenghasilan, asal konsisten dan mau terus belajar mengikuti perkembangan zaman.
(angga/sukadana)