106 Banjar Desa Adat Denpasar Sepakat Tangani Sampah Berbasis Sumber
DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Sebanyak 106 banjar di wilayah Desa Adat Denpasar sepakat mendukung penanganan sampah berbasis sumber, khususnya pengolahan sampah organik secara mandiri di tingkat masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesuma, saat sosialisasi pengolahan sampah berbasis sumber yang dihadiri Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, di Wantilan Setra Agung Badung, Minggu (19/4).
“Tentunya kami berkomitmen untuk penanganan sampah, utamanya sampah organik dari sumber, dan ini juga sudah disepakati oleh para prajuru banjar adat yang hadir,” ujar Alit Wirakesuma.
Ia menjelaskan, permasalahan sampah merupakan tantangan bersama sehingga penanganannya memerlukan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, lembaga hingga masyarakat. Dengan wilayah yang mewilayahi 106 banjar, Desa Adat Denpasar dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong kebijakan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
“Harapan kami, komitmen ini bisa optimal dalam penanganan sampah organik di sumber, sehingga mampu mengurangi beban sampah secara menyeluruh,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan, Desa Adat Denpasar saat ini terus berupaya menangani sampah organik secara mandiri, termasuk sampah upakara. Namun demikian, keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam memilah dan mencacah sampah sejak dari rumah tangga.
“Perlu sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah menangani sampah anorganik dan residu, sedangkan kami di desa adat fokus pada sampah organik,” tambahnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Desa Adat Denpasar juga telah menyiapkan lahan penampungan untuk hasil pengolahan komposter seperti tong komposter, teba modern, dan bag komposter yang telah siap panen. Lahan tersebut rencananya akan dimanfaatkan sebagai taman atau ruang terbuka hijau.
Sementara itu, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengapresiasi komitmen Desa Adat Denpasar dalam mendukung penanganan sampah organik berbasis sumber. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan desa adat menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah di Kota Denpasar.
“Kami sangat berterima kasih atas komitmen dari Desa Adat Denpasar. Ini menjadi bukti bahwa penanganan sampah harus dilaksanakan secara bersama-sama,” ujar Jaya Negara.
Ia menambahkan, kebiasaan memilah sampah dari sumber harus terus ditingkatkan, mengingat hal tersebut akan berpengaruh terhadap optimalisasi pengolahan sampah di fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik.
“Waste to energy memerlukan sampah berkualitas. Sampah yang terpilah akan mendukung optimalisasi pengolahan dan menghasilkan energi yang lebih efisien,” tegasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar, camat, perbekel atau lurah, prajuru adat, serta pecalang di wilayah Desa Adat Denpasar. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber secara berkelanjutan di Kota Denpasar.
(sukadana)